Home Ads

Minggu, 13 Februari 2022

Perjalanan FIlsafat Barat Sejak Abad 16 sampai Abad 20




Judul: Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche

Penulis: F Budi Hardiman

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: pertama, 2004

Tebal Buku: xv + 312 halaman

ISBN: 979-22-1043-1

Peresensi: Muna Roidatul Hanifah


Modernitas yang kita nikmati dan agung-agungkan saat ini bukan anugerah yang turun dari langit, melainkan lahir dari dialektika pemikiran para filsuf setelah 4 abad lamanya. 


Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan materi penulis ketika mengajar filsafat di STF Driyarkara dan Universitas Pelita Harapan Jakarta sejak tahun 1992. Di sela-sela kesibukan tersebut, Budi Hardiman juga aktif dalam dunia kepenulisan. Di antaranya menjadi penulis esai di Harian Kompas, Jurnal Ilmiah Kalam, Diskursus, dan beberapa lainnya.


Buku Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche sendiri merupakan buku ke-7 dari buku-buku nya yang lain, ada yang berbahasa Inggris, Jerman, dan Indonesia. Perbedaan bahasa pada setiap karya tulis tidak lepas dari gelar Magister dan Doktor yang ia dapatkan di Universitas Hochschule fur Philosopie Munich, Jerman. 


Genealogi Pemikiran Sejak Abad Pencerahan


Sebagai sebuah materi filsafat, buku Filsafat Modern cukup menyenangkan. Tidak hanya menampilkan dialektika pemikiran para tokoh secara runtut, penulis juga mencantumkan berbagai pernak-pernik pendukung yaitu kata-kata mutiara para tokoh, cuplikan teks asli, catatan pinggir, foto filsuf, tips praktis, bagan, dan anekdot. Pada bagian paling belakang, tersedia kamus mini untuk membantu pembaca semakin memahami isi buku.


Buku ini terdiri dari 10 bab yang membahas genealogi bangun pemikiran filsafat barat sejak era Machiavelli pada abad ke-16. Sebagai buku pengantar dalam memahami filsafat, penulis mengkhususkan bab pertama sebagai pembuka perbincangan. Di dalamnya membicarakan tentang definisi modernitas, ciri khas paradigma modernitas, serta bagaimana semangat intelektual pertama kali muncul dari kondisi masyarakat yang terkungkung dogma agama yang bersifat otoriter (abad kegelapan).


Pengantar ini penting sebagai titik awal pembaca memahami semangat para filsuf modern. Terpantik dari kondisi sosial masyarakat Eropa yang sedemikian tertutup kabut dogmatisme Kristen, tidak heran pemikiran filsuf awal era ini berkutat kepada konsep hubungan negara dan agama, manusia dan Tuhan, serta kemampuan individu dalam menemukan kebenaran.


Tiga topik tersebut terus dikembangkan oleh pemikir setelahnya sejak bab ketiga. Pada bagian ini, barulah pembaca memasuki zona dialektika antara rasionalisme yang diwakili oleh para filsuf Prancis (Rene Descartes dkk) dan kelompok filsuf empirisme yang berada di Inggris. Masing-masing madzhab mendapatkan porsi penjelasan yang seimbang.

Dalam setiap -isme , penulis mengulas beberapa tokoh dari madzhab pemikiran tersebut yang dianggap paling populer dan signifikan. Misalnya dalam bab Empirisme, tercantum nama Thomas Hobbes yang menyatakan bahwa manusia sebagai mesin anti-sosial sehingga harus berada dalam otoritas lebih besar yaitu negara. John Locke yang mengkritik keras kelompok rasionalisme, karena ia anggap hanya mereproduksi konsep pemikiran Plato, begitupun dengan Berkeley dan David Hume yang menolak hukum kausalitas.


Pada bab ke enam, penulis secara intens hanya membahas profil dan pemikiran Immanuel Kant, filsuf asal Jerman, yang berhasil mensintesiskan rasionalisme dan empirisme sebagai kesatuan instrumen pengetahuan manusia.  Filsuf satu ini memang memiliki pemikiran yang sangat kompleks dan menarik, sekaligus relatif rumit. Dua puluh lima halaman dalam bab ini menceritakan Kant dan seluruh upayanya dalam menolak metafisika sebagai bentuk kebenaran melalui bangun pikir Kritisisme miliknya. Namun rupanya belum sepenuhnya berhasil. Filsafat Kant menuai kritik pedas dari para filsuf  sesudahnya yang juga sama-sama berasal dari Jerman. Dalam kelompok ini, ada nama-nama yang cukup populer kita dengar sampai saat ini yaitu Johann Gottlieb Fichte, Friedrich Wilhelm Joseph Schelling, dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Madzhab mereka bernama idealisme. 


Ketertarikan utama idealisme terletak pada relasi antara subjek dan objek. Lahir sebagai kritik filsafat Kant yang mengatakan bahwa objek mengarahkan diri kepada subjek, idealisme mengatakan bahwa subjek lah yang menangkap objek. Idealisme menolak keberadaan das ding an sich sebagai inti tak kasat mata setiap objek (ciri khas pemikiran Kant), karena unsur tersebut tentu bersifat metafisika dan dengan demikian, mempercayainya adalah kembali kepada dogmatisme. 


Tipe kalimat yang santai dan sedikit verbal sangat membantu pembaca memahami ulasan yang lebih jlimet. Misalnya ketika penulis mengawali transisi antara pembahasan filsafat Kant kepada pembahasan idealisme. Dengan gamblang, ia menuliskannya seperti berikut:

“Menurut Kant, adanya Das ding an sich ini menjadi sebab unsur materi dari pengindraan. Das ding an sich tidak bisa kita ketahui karena melampaui pengetahuan kita. Lalu bagaimana kita bisa mengatakan bahwa ia menjadi ‘sebab’ sesuatu?” Dan masih banyak lagi contoh lainnya.


Ketika para filsuf Jerman sedang asik membicarakan idealisme, dunia intelektual Prancis dilanda badai positivisme. Di abad ke-19, Auguste Comte, Bapak Positivisme mulai mencanangkan perlunya alat pengetahuan yang berguna praktis bagi kehidupan sosial masyarakat. Demi tujuannya, ia pun mengadopsi sebuah ilmu baru bernama Fisika Sosial atau yang kita kenal saat ini dengan Sosiologi.


Abad ke-19 adalah era perpisahan antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain seperti matematika, biologi, astronomi, fisika, kimia, dan sosiologi yang sudah ada saat itu. Fase ini sekaligus juga menandai kelahiran ratusan ribu ilmu yang kita pelajari sekarang, sedangkan filsafat menjadi fakultas ilmu tersendiri. 


Akhir Masa Filsafat Modern


Pada bab ke-9 dan 10, pembaca mulai memasuki zona kritik terhadap idealisme maupun keseluruhan ide modernitas yang telah terbangun selama ratusan tahun.

Idealisme sebagai konsep yang ditampilkan sedemikian kokoh dalam buku ini ternyata tidak berumur panjang. Bibit pemberontakan terhadap Idealisme telah tampak sejak kemunculan generasi Hegelian sayap kanan dan sayap kiri. Adapun nggota Hegelian sayap kiri yang pada akhirnya berpisah jalan tersebut adalah adalah Karl Max dan Ludwig Feuerbach. 


Bab terakhir buku ini membahas seorang filsuf yang sering dianggap terlampau jenius oleh jamannya yaitu Friederich Wilhelm Nietzsche. Nama Nietzsce masih menjadi perbincangan sampai hari ini karena keberaniannya menggugat kemapanan filsafat modern. 

Dengan filsafatnya yang dikenal dengan Perspektivisme Nietzshe, ia menyatakan bahwa kebenaran sepenuhnya adalah bersifat perspektif. Sistem-sistem filsafat tak kurang daripada sebuah pengakuan subjektif sang filsuf dengan kedok rasionalitas. Dengan demikian, apa yang berusaha setiap orang rumuskan sebagai kebenaran pengetahuan sebenarnya adalah upaya mewujudkan hasrat kekuasaan diri atau kelompok mereka. 


Penutup 


Pada dasarnya, setiap orang perlu belajar filsafat untuk menumbuhkan sifat kritis terhadap segala sesuatu. Apalagi di era kecanggihan teknologi saat ini, dimana arus informasi tak bisa dibendung. Seseorang yang tidak memiliki tata logika yang benar, akan mudah terbawa arus karena menelan setiap informasi begitu saja.

Namun sayangnya, filsafat hari ini masih lekat dengan stempel tabu di masyarakat Indonesia. Seringkali, filsafat dipercaya dapat mengancam bangun keyakinan agama seseorang. Apakah itu benar?

Tentu saja tidak. Dari perjalanan filsafat modern di atas, kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana pemikiran kritis dan mendalam terus dipraktekkan dari satu generasi ke generasi. Semangat untuk mempertanyakan segala sesuatu inilah yang harus kita tiru untuk mencapai pengetahuan-pengetahuan baru.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *