Penulis: Ismail Kadare
Judul asli: Pluhuri Mbreteror
Edisi asli: Librairie VA Arthème Fayard, 1992
Penerjemah: Dwi Pranoto
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: Juli 2026 (edisi kedua), edisi pertama 2011
Tebal: 199 halaman
Genre: Fiksi sejarah
Pereview: Uswah
Para pemuka agama dan menteri terkejut ketika Firaun Cheops mengumumkan penolakannya terhadap pembangunan piramida yang menjadi tradisi leluhur. Namun, sekretaris kabinet, eh Pendeta Tinggi Hemiunu segera menemukan cara untuk membujuk sang Firaun. Piramid, menurut para menteri Firaun, memiliki banyak kegunaan. Selain menjadi makam Firaun yang agung nan dahsyat, pembangunannya menjadi:
“Sebuah proyek yang tak bermanfaat bagi rakyat namun akan berguna bagi Negara” (hal. 12)
Peletakan batu-batu piramid akan menyibukkan rakyat, mengalihkan perhatian mereka dari persoalan hidup, dan menjauhkan mereka dari kemungkinan melakukan pemberontakan. Setelah selesai, piramida akan berdiri sebagai simbol kekuasaan dan keagungan Firaun, membuat segala sesuatu di sekitarnya tampak kecil. Begitu nasihat orang terdekat presiden, eh Firaun.
Berawal dari cerita menggelitik inilah, Ismail Kadare memulai novel Piramid. Ia menulis tentang pembangunan sebuah proyek yang menelan biaya besar, merenggut nyawa, dan mengorbankan kesejahteraan manusia demi ambisi penguasa. Ribuan batu raksasa harus diangkut dari tambang yang jauh. Bahkan batu-batu tersebut dikawal ketat oleh penjaga. Para pekerja piramid kehilangan anggota tubuh, tertimpa reruntuhan, bahkan hilang nyawa dalam proses pembangunan. Kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari takyat Mesir. Orang-orang dilukai, disiksa, dan dieksekusi, sementara kebohongan, desas-desus, dan ketakutan dilanggengkan.
“Segala jenis langkah-langkah represif pun dilancarkan: hukuman mati, penggantungan, penyiksaan, pengiriman pewarta-pewarta publik ke seantero negeri guna menyangkal desas-desus tersebut yang seperti biasa terjadi dalam situasi begini, justru tak menjadi reda, malah makin menyebar dan membesar” (hal. 58)
B-b-buzzer???
Kadare menceritakan bagaimana piramid yang konon pembuatan tempat peletakan jasad Firaun setelah mangkat itu menjadi obsesi yang menguasai seluruh kehidupan rakyat Mesir.
Tulisan Kadare ini menarik karena ternyata ceritanya tidak berhenti pada Cheops. Nama-nama Didoufri, Khafra si Firaun Jamet, dan putri Firaun, Henautsen, turut diceritakan juga, tapi penggambaran sosok anak perempuan Firaun ini agak lumayan seksis gila kemewahan, suka flexing, dan pemuja aktivitas seksual. Ternyata kisahnya masih panjang dan lama, estafet kefiraunan dan beberapa tokoh lain dalam kepemimpinan rakyat Mesir melintasi rentang waktu kurang lebih empat ribuan tahun dengan kepemimpinan yang sama sekali tidak ada perubahan modelnya.
“Seluruh negeri kita hidup serupa itu, atas ada di bawah, belakang ada di depan. Hanya dengan menggulingkan rezim, termasuk Firaun, yang dapat mengembalikan segalanya jadi benar lagi." (hal. 75)
Kadare dalam penulisan Piramid sangat tajam dan melumat, ia memilih Mesir kuno sebagai latar agar kritiknya tidak seterang benderang itu diluapkan sebagai warga negara Albania yang pernah menjadi salah satu negara paling represif di Eropa, di bawah rezim Enver Hoxha.
Dalam Piramid, Kadare menggunakan banyak perbendaharaan kata yang mengobjektifikasi perempuan untuk menunjukkan bagaimana kekuasaan totaliter. Apakah ini persoalan maskulinitas berpikirnya Kadare sendiri atau sekadar menunjukkan tradisi sastra Eropa yang menempatkan laki-laki sebagai pusat narasi, sehingga perempuan dalam sejumlah karyanya ditujukan untuk menggambarkan objek dan hasrat laki-laki.
“Sebuah tambang yang dibilang subur, semok, membulat, atau sebaliknya, mandul, telah keguguran dua kali” (hal. 28)“Ia mencengkeram manuskrip seolah sedang menjambak rambut seorang perempuan” (hal. 81)“Waktu kehidupan manusia di dunia ini mestinya diukur sebagai jumlah seluruh orgasmenya” (hal. 83)“Ayo penyihir, ludahkan semua atau kugagahi ibumu juga!” (hal. 87)“Tapi mandul, seperti istrinya.” (hal. 115)“Menggagahi seorang gadis petani..saling memperkosa..” (hal. 123)“Jangan macam-macam denganku, kau masih menetek ke susu ibumu..” (hal. 130)“Namun siang dan malamnya sendiri menjadi sama kacaunya seperti janin hasil perzinahan inses” (hal. 194)
Kekuatan novel ini terletak pada keberanian Kadare menghubungkan pembangunan piramida dengan cara kerja rezim totaliter. Piramida menjadi lambang kekuasaan yang terus membesar dengan mengecilkan kehidupan manusia di sekitarnya.
Kadare menarik hubungan antara piramida di Mesir kuno dan penindasan modern. Digeser ke mana pun latarnya, dimaju mundurkan alur kehidupannya, atau kapan pun waktunya, sistem kekuasaan semacam ini akan muncul berulang kali dalam sejarah. Masa lalu dan masa depan seolah saling bertukar tempat, sementara manusia terus menderita dalam ketimpangan selama hidupnya.
“Makin kecil rakyatmu, makin Paduka menjulang” (hal. 12)
Sejumlah pereview Piramid menyetarakan karya Kadare seperti Gorgil, Kafka, dan Orwell. Aku tidak tahu apakah buku ini pernah diboikot oleh pemerintahan Mesir karena isinya bikin marah 😀 mari marah bersama-sama!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar