Home Ads

Jumat, 02 Januari 2026

Resensi Buku Angkatan Baru Karya Hamka

Sumber: Gema Insani
Judul buku: Angkatan Baru
Penulis: Hamka
Penerbit: Gema Insani
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: 87
Genre: Fiksi
Presensi: Chamdah 


Siapa yang tak kenal Hamka atau Buya Hamka. Sebutan Buya merupakan sebutan khas untuk orang Minangkabau. Sesuai dengan latar belakangnya Buya Hamka menulis novel dengan gaya bahasa khas Minangkabau yang syarat makna.

Buku ini di luar ekspektasi. Ceritanya melampaui angan-angan saya. Ketika membeli bukunya saya pikir cerita ini tentang mendobrak stigma masyarakat yang berpikir bahwa perempuan urusannya hanya sumur dapur kasur. Namun prediksi saya meleset jauh, lebih dari itu. 

Novel ini menceritakan tentang seorang pemudi bernama Syamsiar dari keluarga berada. Dimana dia mendapatkan kesempatan lebih baik dari pada gadis kampung lainnya yaitu dapat mengenyam pendidikan tinggi di kota. Menjadi satu-satunya harapan keluarga agar menjadi perempuan terpelajar. 
Layaknya santri yang baru saja mukim Syamsiar sangat dihormati oleh keluarganya sehingga ia tidak boleh menyentuh pekerjaan domestik dan memang orang tuanya tidak membiasakan hal itu. 

Idealnya seperti pohon padi semakin berisi semakin menunduk justru Syamsiar seperti ilalang yang makin lama semakin tinggi. Ia merasa tinggi hati karena lulusan perguruan tinggi dan menganggap orang-orang kampung itu kolot, tidak bisa berpikir maju karena tradisi yang mengikat membuat orang-orang harus ke sawah, ladang, mencangkul dan kegiatan orang kampung lainnya. Menurut Syamsiar orang yang berpendidikan tinggi harus mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi. 

Kehidupan Syamsiar setelah lulus tak ubahnya seperti gadis biasa. Ia hanya glundang-glundung di kamar membaca buku yang orangtuanya pikir itu buku agama melainkan buku romansa atau ia akan pergi ke rumah satu-satunya teman yang sefrekuensi dengannya. Syamsiar beberapa kali menolak lamaran laki-laki karena tidak sepadan. Syamsiar terlalu banyak membaca kisah romansa sehingga pemikirannya tentang suami yang akan mendampinginya harus sesuai margin yang sudah ia tetapkan.

Tak berselang lama Syamsiar bertemu lelaki idamannya bernama Hasan. Lelaki keluaran perguruan Thawalib yang tak rampung akibat orang tuanya tidak sanggup membiayai sekolahnya. Pertemuan itu terjadi ketika kampung Syamsiar mengundangnya sebagai pembicara dalam acara pengajian. Keduanya merasa cocok dan tak berselang lama mereka menikah. 

Sosok Hasan digambarkan sebagai lelaki pekerja keras, sabar, lemah lembut dan istikomah. Sebelum menikah ia mendirikan pondokan kecil di kampungnya bagi anak-anak yang putus sekolah untuk mengaji padanya. Iya berpikir jika menikah dengan Syamsiar akan memajukan pondokan tersebut. 

Malangnya, Syamsiar yang terlalu di manja tidak bisa "meladeni" Hasan dengan baik dalam hal menebar manfaat untuk umat. Kontribusi Syamsiar untuk kehidupan sosialnya sangat kurang dan bahkan menghancurkan cita-cita awal Hasan menikahi Syamsiar. Anak-anak didiknya pergi meninggalkannya. Syamsiar hanya pintar berdandan, merayu dan jago dalam hal ranjang. 

Relasi suami istri yang diinginkan keduanya di luar ekspektasi. Keluarga kecilnya hambar sehingga Syamsiar tergoda untuk mencoba menghubungi teman lelaki yang dahulu pernah menyatakan cinta namun ia tolak. Bermodal alamat Syamsuddin di surat kabar yang ia baca mereka saling berkirim surat (kalau sekarang saling chating melalui WhatsApp 😅). Hal ini yang menjadi awal kehancuran rumah tangganya. Syamsiar selingkuh dengan Syamsuddin. Syamsiar tidak jujur dengan statusnya sekarang sebagai istri orang. Plot twistnya setelah kedua lelaki (suami dan Syamsuddin) mengetahui tabiat Syamsiar, ia tidak mendapatkan siapapun dari keduanya. Hasan mentalaknya dan Syamsuddin tidak mau menjadikannya istri. 

Syamsiar merupakan gambaran perempuan zaman now yang sudah memiliki pemikiran terbuka sayangnya tidak dibarengi dengan ilmu agama yang ia miliki. Kesombongannya membuat ilmu agamanya tertutup. Pola pikirnya tercuci dengan buku bacaan romansa yang menggambarkan kesenangan dunia. 

Yang menarik disini Buya Hamka menunjukkan bahwa perempuan bisa memilih, tidak hanya duduk diam menerima pilihan orang tua karena perempuan bukan objek. Perempuan memiliki hak yang sama seperti laki-laki. 

Secara naratif Buya ingin menyampaikan pesan bahwa perempuan boleh memiliki cita-cita dan memilih jalannya sendiri namun harus dibarengi dengan tawaduk agar tidak tergelincir dengan kenikmatan dunia. 

Buya juga merepresentasikan kondisi rumah tangga saat ini banyak yang bercerai karena perselingkuhan. Selingkuh terjadi tidak hanya pada orang-orang awam melainkan sangat dekat dengan orang-orang yang berpendidikan dan ahli agama. Selingkuh yang memang terjadi karena murni ada alasan rumah tangga atau karena coba-coba. Pesan disini adalah hubungan suami istri itu harus terbuka, ada konsep kesalingan dan tidak boleh ada campur tangan dari pihak manapun. 

Overall cerita ini sangat mengaduk hati dan kaya akan bahasa Melayu yang mungkin sebagian orang sulit mengartikannya. Selamat membaca~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *