Home Ads

Jumat, 02 Januari 2026

Tranformasi Modjokuto; Restrukturisasi Masyarakat Islam Jawa

Sumber gambar: bacabuku.com
Pendahuluan

Goldziher berargumen bahwa Islam Indonesia merupakan islam tertinggal, karena telah terdistorsi oleh ajaran hindu-budha. Akademisi decade 20-an, berawal dari Geertz, kemudian Mark R. Woodward dan Robert Hefner, membantah tuduhan Goldziher. Islam Indonesia adalah islam yang mudah beradaptasi, budaya lokal menjadi media dalam menyampaikan pesan-pesan Islam. Bukan mendistorsi pesan islam itu sendiri.

Buku berjudul “Agama Jawa setengah abad pasca Clifford Geertz” merupakan hasil penelitian Amanah Nurish di kota kecil, Bernama Pare di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.  Selama ini, Indonesia hanya mengekor penelitian antropolog barat dalam melihat klasifikasi dan dinamika Masyarakat Muslim di Indonesia. Khususnya di Jawa. Nurish, seorang antropolog muda melihat bahwa perlunya membaca Islam di Jawa dalam perspektif insider (orang dalam). Buku ini mendapat banyak perhatian dari antropolog indonesianis seperti Martin Van Bruinessen, Robert W. Hefner, Nelly van Doorn-Harder, Mark R. Woodward,  Al-Makin dan beberapa akademisi di Indoensia. Penelitian ini memberikan kesadaran baru, bahwa dikotomi Clifford Geertz telah mengalami transformasi, sehingga kurang relevan di era sekarang. Pertentangan terhadap trikotomi Geertz telah banyak dilakukan sebelumnya. Namun, Amanah Nurish melangkah jauh dengan datang ke Modjokuto atau Pare untuk melihat kembali secara obyektif kondisi Masyarakat Jawa pasca Geertz.

Publikasi buku ini memberikan kontribusi penting bagi studi antropologi Islam bahwa terdapat indonesianization dalam kajian tersebut. Studi tentang pare memberikan dampak yang transformatif bukan karena desain peneliti, namun lebih sebagai keberuntungan Sejarah.

Buku ini merupakan hasil penelitian Nurish di Modjokuta / Pare pada tahun 2018 dengan judul Asli Revisiting Modjokuto dengan sponsor dari Universitas Arizona. Baginya, melihat Modjokuto pasca Clifford Geertz merupakan Langkah obyektif daam melihat transformasi Islam Jawa pasca Geertz. Modjokuto dipilih Geertz bukan tanpa alasan. Pare memiliki romantisme dan budaya yang heterogen. Kota kecil ini, dihuni dari berbagai kepercayaan dan aliran tertentu. Namun demikian, mereka dapat hidup secara harmonis tanpa pertikaian yang berarti. Namun, romantisme itu berakhir tragis ketika meledaknya peristiwa G-30S PKI pada 1965. Modjokuto mengalami trauma mendalam dan Masyarakat yang pada mulanya dilihat Geertz sebagai Masyarakat romantis berubah tragis dan mengalami ketakutan demi ketakutan. Modjokuto atau Pare menjadi saksi bagi pembantaian PKI pada masa itu. Amanah Nurish menunjukkan bahwa peristiwa ini mempengaruhi perubahan trikotomi Islam jawa di Masyarakat Modjokuto. Nurish juga menegaskan bahwa Modjokuto adalah nama samaran. Geertz sengaja tidak memberikan nama asli karena demi menjaga kerahasiaan kota tersebut dari ancaman politik.

Transformasi Masyarakat Islam Jawa

Sumbangan penting Nurish dalam penelitiannya adalah kemampuannya dalam mengidentifikasi Masyarakat Jawa di Pare secara kompleks. Nurish, menganggap semua kelompok memiliki peran penting di Pare. Clifford Greetz mendefinisikan Abangan; sebagai orang Islam yang mengamlkan sinkretisme jawa secara kental, mereka berasal dari golongan petani dan buruh. Santri didefiniskan sebagai Masyarakat yang menjalankan rukun Islam secara disiplin, kaum santri didominasi oleh para pedagang. Geertz mendefinisikan priyayi sebagai kelompok birokrat yang bekerja di kantor pemerintahan, para priayi identik dengan orang-orang yang dekat dengan kesenian jawa seperti wayang. Mereka juga mengikuti gaya hidup layaknya adipati.

Nurish melihat evolusi Masyarakat Pare dengan menggunakan teori Bellah, ilmuwan dibidang sosiologi agama di University of California. Bellah melihat bahwa agama dapat dilihat melalui pendekatan sains, yang ia sebut evolusi agama. Nurish menggunakan teori Bellah untuk melihat empat tahap 1) melalui sistem simbol. 2) melalui praktik-praktik keagamaan, 3) melalui organisasi 4) melalui implikasi sosial.

​Evolusi Masyarakat Modjokuto setidaknya terjadi dipengaruhi oleh peristiwa G-30S PKI. Peristiwa tersebut meluap dan meluas di Kediri, termasuk di Modjokuto. Orang-orang PKI dan pendukungnya telah dihabisi oleh tangan-tangan Muhammadiyyah dan Ansor antas kendali ABRI. Isu agama yang didengungkan oleh rezim Soeharto, memantik kemarahan besar dikalangan ormas Islam terhadap PKI. Masyarakat Pare masih mengingat secara jelas disertai duka mendalam dihati mereka atas peristiwa tersebut. Nurish melakukan wawancara kepada orang-orang Pare yang mengalami dan menyaksikan peristiwa tersebut. Bagi Nurish, traumatic terhadap kejadian itu masih tersirat dalam setiap ungkapan kata mereka. Peristiwa 1965, membawa perubahan penting bagi trikotomi Abangan, santri dan Priayi. Saat ini praktek sinkretisme seperti slametan, ziarah kubur, upacara adat justru banyak dipraktekkan oleh kaum santri. Kaum santri di Modjokuto aktif mengadakan slametan, suro-an dan bentuk ritual kebudayaan lainnya yang dibalut dengan citra Islam. Hal ini tentu berbeda dengan klasifikasi Geertz terhadap kaum santri dan abangan. Kini. kaum santri yang aktif mempraktekkan ritual slametan didominasi oleh kalangan NU. Meskipun, Sebagian besar Muhammadiyah juga aktif mempraktekkan ritual slametan, tasyakuran dll dalam keseharian mereka. Perbedaan NU-Muhammadiyah hanya pada batas perbedaan Formal atau keorganisasian saja. Dalam kehidupan sehari-hari, keduanya tidak jauh berbeda. Sehingga, mereka Masyarakat yang dulu disebut sebagai abangan oleh Geertz telah berevolusi dalam berbagai bentuk. Terdapat beberapa aliran Jawa yang diyakini oleh dari berbagai kalangan yang bukan hanya berasal dari petani dan buruh namun juga ningrat dan priayi. Aliran-aliran yang berkembang di Pare cukup beragam, seperti Sapto Darmo, Aliran kejawen, paguyuban sumarah, hardapusara, Susila Budi Darma, Paguyuban ngesti Tunggal. Sapto Darmo merupakan aliran yang paling berkembang di Pare. Aliran Sapto Darmo, lahir atas pengalaman spiritual seorang pendirinya yang bernama Hardjosopoero pada tahun 1952. Kemudian menyebar ke berbagai wilayah tanah air, karena diyakini mengajarkan ketenangan dan laku spiritual. Reviewer juga banyak menyaksikan banyak dari kalangan non-santri mengikuti Aliran sapto darmo maupun paguyuban lainnya. Mereka mempelajari kebatinan dan hakikat kehidupan guna menjalani dan memaknai kehidupan dalam versi mereka. Sehingga di Pare, lahirlah dua kategori NU; “NU santri” dan “NU abangan” yaitu Masyarakat yang menjadi jamaah NU, namun masih mempraktekkan aliran-aliran tertentu dalam kehidupan mereka.

​Nurish menunjukkan bahwa aliran kejawen yang identik dengan muslim abangan, sejatinya juga berjumpa dengan Kristen. Di pare, pergumulan agama berjalan secara dinamis. Komunitas Kristen dan katolik juga mempraktikkan ajaran kejawen, sehingga disebut sebagai Kristen kejawen. Pada umunya, ajaran Kristen kejawen dianggap sesat oleh pihak gereja. Kristen kejawen di Kediri diprakarsai oleh Kiai Ibrahim Tunnggul Wulung dan kiai Sadrah. Ia melakukan penginjilan dengan memasukkan aliran kejawen yang dekat dengan Masyarakat Jawa. Sebagaimana Islam, Kristen kejawen juga lebih mudah diterima Masyarakat Pare. Dibanding Kristen yang dibawa oleh misionaris Belanda.

​Nurish melihat adanya aliran keagamaan yang berkembang di Pare. Setidaknya terdapat tiga aliran keagamaan yang mencolok, NU, Muhammadiyyah dan Salafi-Wahabi. Sejak lahirnya Kampung Inggris di Tulung rejo-Pare. Kampung ini berubah menjadi kota kecil yang berkembang pesat baik secara ekonomi maupun budaya. Salah satunya, munculnya aliran salafi-Wahabi yang dibawa oleh pendatang. Mereka mendirikan sekolah terpadu dan masjid-masjid untuk menyebarkan aliran keagamaannya. Sehingga, secara berangsur-angsur aliran ini menjadi besar dan menonjol di Modjokuto. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang telah lahir Bersama dengan Sejarah Indonesia, NU dan Muhammadiyah tidak pernah benar-benar bertikai kecuali hanya dalam permasalahan politik di era orde baru. Namun Nurish melihat bahwa pengaruh mereka terhadap Masyarakat Modjokuto tidak begitu kentara.

Muhammadiyah memberikan sumbangsih penting bagi aliran keagamaan di Modjokuto. Muhammadiyyah mendirikan sekolah dan Lembaga ekonomi seperti 212 Mart yang memacu perputaran ekonomi di Muhammadiyah. Selain itu, Pihak Muhammadiyah mengklaim bahwa Muhammadiyah di Kediri berasal dari Muhammadiyah di Pare yang dibawa oleh Jenderal Sudirman.

Aliran keagamaan yang paling mengakar dan kuat adalah NU. Di setiap gang hingga seluruh daerah di sekitar modjokuto berdiri pesantren-pesantren NU. Setiap Pesantren NU, mengembangkan nilai-nilai islam tradisionalis dengan tetap mengakomodasi perubahan zaman. NU di Pare terbukti berhasil dalam menyampaikan dan menyebarkan ajaran Islam. Banyaknya pesantren dan santri dari berbagai daerah di Indonesia hingga Luar Neger membuktikan hal itu. Kritik Nurish, sangat disayangkan bahwa elite Nu di Pare belum mampu menggerakkan ekonomi Masyarakat petani dan menampung aspirasi mereka. Sehingga kehadiran NU, belum berdampak secara ekonomi bagi Masyarakat wong cilik, yang sebagian besar menjadi pengikut setianya.

Nurish juga berhasil memotret ketrlibatan Perempuan dalam perkembangan agama Jawa. Pare memiliki ritual Slametan, yang banyak melibatkan Perempuan sebagai aktornya. Nurish menyebutkan tradisi rewang sebagai tradisi unik dan penuh makna yang kini mulai luntur. Rewang adalah tradisi yang dibangun atas dasar empati dan solidaritas sosial antar Masyarakat. Ketika seseorang mengadakan sebuah acara besar seperti mantenan, sunatan dan slametan kematian, tetangga dan saudaranya datang untuk ikut berpartisipasi menyumbang tenaga, waktu dan biaya untuk membantu tuan yang berhajat. Tradisi ini diperankan oleh Perempuan dan menjadi perjumpaan sosial penting bagi mereka. Rewang membangun diskusi, nalar kritis dalam setiap dialektika yang hadir ditengah mereka. Nurish menyayangkan, tradisi ini mulai menyusut digantikan dengan munculnya Perusahaan catering akibat modernisasi.  Slametan yang dulu lekat dengan kearifan lokal, makanan yang dimasak bersama diletakkan diatas tempeh atau baki dengan dilapisi daun pisang (nasi tumpeng), kini berubah dengan nasi kotak. Perubahan ini berdampak pada nilai-nilai ekologis dan solidaritas antar Masyarakat. Kearifan lokal rewang sejatinya membantu rakyat miskin untuk mempersiapkan acara besar, mereka tidak perlu menyewa Gedung ataupun Catering karena bantuan tetangga dan saudaranya. Meskipun mulai luntur, tradisi ini masih hidup dibeberapa kalangan bawah seperti petani dan buruh.

Selain Rewang, Perempuan di Pare juga terekam aktif tergabung dalam organisasi GERWANI. Organisasi Perempuan yang menyuarakan kesetaraan, namun diindikasikan mendukung PKI dalam politiknya. Sayangnya, Gerwani ditumpas habis Ketika peristiwa G-30S PKI karena dianggap menjadi pengikut dan pendukung setia PKI. Gerwani di Pare menyuarakan beberapa poin penting, seperti kebebasan berpendidikan bagi Perempuan, akses politik dan public bagi Perempuan. Saat itu, propaganda untuk menyulut kebencian dilayangkan melalui surat Kabar.  Fatayat dan Aishiyah, Bersatu untuk melawan Gerwani, saat itu.

Mantan eks-PKI juga tidak lepas dari pengamatan Nurish. Manta neks-PKI yang dulunya dinilai abangan, kini lebih banyak yang menjadi santri dan dekat ke NU. Selain itu, mereka juga berpindah pada kepercayaan lokal seperti kejawe, sapto darmo, paguyuban dan lainnya. Selain itu, Nurish melihat bahw Muhammadiyah di kota Pare memiliki dampak yang siginifikan dalam ruang Pendidikan dan ekonomi. Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang berkualitas dari Tingkat SD-SMA. NU sekarang juga lambat laun mengikuti gaya Muhammadiyyah dalam melancarkan dakwahnya. Dengan mendirikan sekolah NU bonafit di kota tersebut. Nurish melontarkan kritik terhadap kedua organisasi Islam ini. Muhammadiyyah seharusnya belajar dari NU, untuk tetap mengakomodir kearifan-kearifan lokal di Modjokuto sebagai Upaya ikut serta melestarikan agama jawa. Bukan justru, tertarik dengan ajaran yang dibawa oleh aliran salafi-Wahabi. Sedangkan, NU belum berhasil membangun sistem sosial-ekonomi bagi wong cilik. sistem feodalisme terlalu kuat dan mengakar di kalangan elit NU. Budaya Salam tempel di NU, merupakan bukti bagaimana feodalisme semakin memiskinkan wong cilik.

Nurish membagi Masyarakat Islam Pare dalam dua kategori; pertama, Masyarakat jawa Islami, mereka mengalami gelombang santrinisasi. Mereka terdiri dari berbagai kelas dan strata sosial. Seperti modernis, buruh, petani, pengusaha dan pejabat. Kedua, Masyarakat jawa non-Islami, mereka tergabung dalam kepercayaan-kepercayaan lokal seperti sapto darmo dan lainnya. Baginya, kedua bentuk Masyarakat ini menjadi frame bagi struktur Masyarakat jawa kini.

Geertz dalam the Relion of Java, melakukan sintesis bahwa Agama merupakan bentuk Budaya. Nurish menolak argument Geertz, ia bersikukuh bahwa Masyarakat jawa menjadikan tradisi terinternalisasi dalam ritual keagamaan. Seperti tradisi tahlilan kematian, merupakan budaya yang diekspresikan dalam bentuk agama. Demikian, budaya berperan sebagai bentuk-bentuk keagamaan.”

Kekuatan dan kelemahan buku Agama Jawa

​Kemampuan Nurish dalam mengeksplorasi secara mendalam tentang Modjokuto, menghasilkan Kesimpulan yang dapat menjadi kesadaran bersama tentang evolusi agama yang terjadi di Masyarakat jawa. Kekuatan Buku ini adalah, kemampuan Nurish melakukan analisis dengan pendekatan Bellah yang digunakannya. Nurish menyadari bahwa Sejarah di masa lalu memberikan implikasi bagi transformasi sosial dalam Masyarakat. Nurish juga mengalirkan kritik transformatif terhadap organisasi Islam besar NU-Muhammadiyyah. Dimana gejala tersebut, tidak pernah menjadi kesadaran kolektif dalam tubuh organisasi itu sendiri. Nurish menyadarkan tentang penting merawat kearifan lokal dengan tetap memperhatikan pendekatan sosial ekonomi yang menguntungkan wong cilik. Kemampuan Nurish dalam menghubungkan PKI yang terjadi di Kediri dengan Masyarakat Pare saat ini, juga membangunkan kesadaran pada pembaca. Bahwa peristiwa G 30S PKI, merupakan peristiwa Sejarah yang memiliki dampak mendalam bagi Masyarakat Jawa, seperti traumatik, ketakutan dan kesenjangan dan kelas sosial.

​Pada dasarnya, reviewer tidak menemukan kelemahan yang berarti dalam buku Agama Jawa karya Amanah Nurish ini. Namun, ada beberapa hal yang menjadi catatan reviewer, bahwa Nurish terlalu luas dalam melihat Masyarakat Pare. Nurish juga melakukan wawancara kepada wong kediri yang jaraknya dari Pare sekitar 35 KM. Nurish juga memotret etnis tionghoa di Kota Kediri, yang hal ini tentu berbeda dengan etnis tionghoa di kota Pare. Selain itu, Nurish tidak merekam secara lihai bagaimana ekonomi pedagang pasar di Pare menyusut akibat perkembangan teknologi. Jika membaca buku Amanah Nurish, penting untuk melewati bagian-bagian yang saya sebutkan, karena Nurish mendeskripsikan Kediri jauh di luar Kota Pare.

Penutup

Buku Nurish menjadi pijakan penting untuk melihat Masyarakat agama jawa saat ini. Karena Nurish telah mendeskripsikannya Masyarakat Pare secara komprehensif dibandingkan penelitian Clifford Geertz yang belum melihat kompleksitas Masyarakat Pare saat itu. Nurish, berlaku sebagai insider yang juga tidak memihak kelompok maupun kepercayaan tertentu. Pembaca juga dapat menilai secara obyektif bagaimana agama berkembang saat ini di Pare pasca Geertz.

Selain itu, penting untuk memadukan buku Nurish dengan penelitian tentang Masyarakat jawa di berbagai daerah, untuk memastikan apakah penelitian Nurish bersifat parsial bagi Masyarakat Modjokuto atau dapat menjadi miniature Agama jawa di seluruh Pulau Jawa.

References:

Lee, A. D. (n.d.). How to Write a Scholarly Book Review for Publication in a Peer-Reviewed Journal: A Review of the Literature. http://meridian.allenpress.com/jce/article-pdf/24/1/57/2311889/1042-5055-24_1_57.pdf
Addi Arrifianto. “Konsep Keberagamaan Aliran Kepercayaan Sapta Darma Dalam Menghadapi Perubahan Sosial.” Yogyajakarta, 2016.
Amanah Nurish. Agama Jawa Setengah Abad Pasca Clifford Geertz. Vol. 2019. Yogyakarta: Lkis, N.D.
Bellah, Robert N. Religion In Human Evolution. London: The Belknap Press Of Harvard University Press, 2011.
Geertz, Clifford. The Religion Of Java. London: The University Of Chicago Press, 1960.
Hefner, Robert W. “The Social Scientific Study Of Islam In Indonesia: A 75 Year Restropctive.” Studia Islamika: Indonesian Journal For Islamic Studies, 2025, 43–74.
Khoirul Anam. “Jejak Clifford Geertz Di Indonesia: Mengoreksi Trikotomi.” Journal Unusia, No. 02 (2016).
Mas’ud, Abdurrahman. Mendakwahkan Smiling Islam. Tangerang: Pustaka Compas, 2019.
Woodward, Mark R. Islam In Java: Normative Piety And Mysticism In The Sultanate Of Yogyakarta . Arizona: University Of Arizona Press, 1989.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *