| Sumber gambar: google |
Seri: Sophia Studies in Cross-Cultural Philosophy of Traditions and Cultures
Pendahuluan
Buku ini mengeksplorasi tentang epistemologi dalam menggunakan pendekatan filsafat analitik Kontemporer. Adeel mengeksplorasi kata-kata didalam Alquran seperti jahl, ‘ilm, Taqwa fahm, Ulul Albab dan hikmah yang pemaknaannya direfleksikan secara filosofis. Adeel membagi pembahasannya kedalam delapan bab termasuk penutup. Setiap babnya, adeel menganalisis secara reflektif dan filosofis, tujuan Alquran menggunakan kata jahl, ilm dan lainnya. kesimpulannya hendak menunjukkan bahwa alquran bukanlah sebatas teks keagamaan, namun juga memiliki makna filosofis yang kaya akan pengetahuan. Selain itu, pengetahuan Alquran bertujuan untuk membangun etika dan moral, baik dalam kehidupan individu maupun sosial. Pengetahuan tentang kisah Bani Israil yang ingin menyembah sesembahan umat lain berupa berhala, mengajarkan tentang etika keteguhan dan kesabaran serta berfikir kritis dalam menerima dan mengikuti Budaya. Epistemologi Alquran menghendaki individu untuk menggunakan daya nalar, pengalaman, intuitif dan wahyu secara efektif untuk mendapatkan Kebajikan intelektual. (intelctual virtue). Manusia yang meninggalkan salah satunya tidak akan mendapatkan falah atau kesuksesan. Sebaliknya, ia mendapatkan kegagalan moral dan intelektual yang disebut Adeel dengan kealpaan intelektual (epistemic heedlessness). Untuk mendapat gambaran secara komprehensif, berikut poin utama dalam setiap bab secara ringkas:
Memahami Kebajikan Epistemik Qurani, melalui konsep jahl dan ‘ilm dalam Alquran.
Merujuk the Quranic Arabic Corpus, kata ‘ilm disebutkan dalam Alquran dalam 854 ayat. Dan kata jahl disebutkan dalam 24 ayat. Penyebutan ‘ilm dan jahl yang tersebar dalam berbagai ayat, menunjukkan konteks dan pemknaan yang berbeda-beda. Adeel mengeksplorasi bagaimana filsuf kontemporer memahami Kebajikan epistemic (epistemic virtues) sebelum mengeksplorasi lebih jauh tentang epistemology knowledge and ignorance dalam Alquran.
Kesimpulannya pendekatan para filsuf dalam memajami konsep intellectual virtue terbagi dalam dua tipe;
1) Pendekatan konservatif; pendekatan yang menganggap konsep intellectual virtue sebagai basis yang fundamental untuk mengatasi masalah epistemology tradisional. Tokohnya adalah Zagzebsky yang disebut sebagai konservatif kuat. Sedangkan, Hookway, Fricker, Robert dan wood adalah konservatif lemah.
2) Pendekatan otonom: pendekatan yang mencoba menggantikan pemikiran konservatif dengan menganggap refleksi atas Kebajikan intelektual.
Konsep ketidaktahuan dalam Alquran disebutkan dengan kata jahala, filsafat Plato menyebut dalam Buku Republiknya sebagai agnosia. Doxa untuk zann atau keyakinan. Dan episteme untuk ‘ilm atau pengetahuan. Adeel menganalisis 24 ayat tentang jahl menggunakan dua tingkatan yaitu; tingkatan konten dan tingkatan ontology. Melalui kedua tingkatan ini, akan menghasilkan dua pemahaman, yaitu pemahaman ide dan konteks dari kata jahl. Serta wawasan ontologis dari penggunaan kata jahl. Dalam epistemologi Alquran ketidaktahuan atau jahl, bukanlah sekedar tidak tahu. Namun mencakup ketidaksadaran moral dan penolakan terhadap kebenaran (3:154). Manusia yang tidak menggunakan akalnya secara adil dan proporsional juga dapat dikategorikan sebagai jahl. (56:62) dalam epistemology Alquran jahl merupakan penyakit hati dan akal yang harus dituntaskan. Jahl menjadikan manusia senantiasa berada dalam pengaruh hawa nafsu dan cenderung meninggalkan aktif berfikir. Alquran memberikan Penawar agar manusia memiliki kesadaran berilmu. Ilmu dapat diperoleh melalui wahyu, akal yang sehat dan observasi.
Berilmu menuntut tanggung jawab epistemik dalam petunjuk Alquran.
Adeel menganalisis akar kata ‘ilm dalam Alquran seperti Ya’lamun, ‘alim, ‘ulama/ Ma’lum dan ta’lim. Berdasarkan uraiannya, pengetahuan didalam Alquran dimaksudkan dinamis dan berjenjang, setiap individu memiliki tingkatan pengetahuan yang berjenjang dan pengetahuan itu menuntut tanggung jawab yang relevan. Hal ini juga menunjukkan bahwa ‘ilmu bukanlah sekedar informasi, melainkan bentuk transformasi individu menuju kebenaran, keadilan dan kebajikan (wisdom). Pengetahuan didalam Alquran menuntut pada tanggung jawab amal. Demikian pengetahuan bertranformasi menjadi pemahaman, pengamalan dan menjadi wisdom. Alquran mengkritik orang yang memiliki pengetahuan namun meninggalkan tanggung jawabnya. (QS. 2:44)
۞ اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?
Dalam perspektif epistemic virtues qurani, pengetahuan menuntut pada kejujuran intelektual, kritis dan reflektif, kerendahan hati, kesiapan untuk menerima kebenaran dan kesadaran akan akibat moral dari mengetahui dan tidak mengetahui. Bagi Alquran, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman dan pengamalan. Pada poin ini, pengetahuan harus dibarengi dengan kesadaran moral yang lahir bersamanya kebajikan epistemik dan intelektual.
Konsep Taqwa dalam Alquran
Adeel menghubungkan kata Taqwa dengan kalimat yang melekat padanya dalam Alquran. Seperti; birr, hasan, khayr, tayyib, ma’ruf, salih dan ‘adl wa qist. Birr terhubung dengan taqwa dalam ayat 2:177, 2:189, 5:2 dan 58:9.Taqwa dalam konteks ini menjadi dasar bagi seluruh kebijakan moral dan etika. Rahman, menambhakan bahwa Alquran juga menghubungkan taqwa dengan keamanan, kedamaian dan proteksi. Taqwa menjadi proteksi bagi kita dari melakukan salah. Alquran membahasakan fungsi taqwa dengan libas. artinya sebagai fondasi untuk memberikan kenyamanan karena selalu mengarahkan pada kebenaran dan kebaikan, Kebajikan yang selalu menuntun muttaqi untuk mengalir darinya kebaikan. Lalu Kebaikan akan menjaga manusia dari segala keburukan. Alquran juga menghubungkan Taqwa dengan Kesuksesan (falah) (20:132), bagi epistemology Qurani, bahwa perbuatan yang dilandasi taqwa selalu mendatangkan kesuksesan. Baik di dunia maupun di akhirat. Secara mendasar, taqwa juga menjadi pondasi bagi seluruh Kebajikan, sehingga orang yang bertaqwa selalu termotivasi untuk berbuat baik.
Selain taqwa, Kebajikan epistemic lainnya yang ditekankan dalam Alquran adalah intellectual integrity. (3:167) Adeel menggunakan ayat tentang orang-orang hypocrites sebagai basis penghargaan Alquran terhadap intellectual integrity.
Understanding dalam Epistemologi Alquran
Alquran menyebut orang yang memiliki pemahaman dengan sebutan ulu al-Albab (2:179). Berdasarkan ayat-ayat yang tersebar didalam Alquran, Ulu al-Albab memiliki pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kawniyah maupun qawliyah. Mendalam artinya makna penting dari hikmah baik sebagai keadaan kognitif, akal teoretis maupun keutamaan intelektual. Pemahaman dalam Alquran adalah seseorang dapat mengapresiasi atau memahami makna penting dari hikmah bagi kehidupan manusia. Alquran mengaitkan Pemahaman dengan hikmah, dan hikmah dikaitkan dengan kebaikan yang menyeluruh. Pemahaman bukanlah sekedar pengetahuan, melainkan kemampuan untuk melihat kehidupan yang baik dan utuh. Ciri-ciri ulu al-albab dalam Alquran disebutkan 1) memiliki sikap rasional dan bijaksana, toleran yang tinggi terhadap perbedaan. (QS. 3:7), 2) kemampuan memahami realitas atau fenomena alam bedasarkan makna hakiki menggunakan dimensi spiritual dan ketajaman batin. (Q.S. 3:190, 39:21), 3) kemampuan menangkap makna moral, spiritual dan eksistensi dibalik kisah dan narasi. (QS. 12:111) dan kemampuan merefleksikannya terhadap diri sendiri.
Perbedaan Keyakinan, Pemahaman dan Pengetahuan dalam Alquran.
Alquran menganggap bahwa pengetahuan lebih bernilai dibanding sekedar keyakinan benar tanpa pengetahuan (z}ann). Alquran juga membedakan keyakinan benar dan salah, plato menyebut keyakinan yang salah sebagai kebodohan. Keyakinan salah didalam Alquran biasanya dilakukan oleh orang-orang yang menolak kebenaran dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan selama ini adalah benar. (QS. 53:28).
Menurut Alquran keyakinan benar masih memiliki nilai dibawah pengetahuan. Pengetahuan dapat mengantarkan seseorang untuk menempuh jalan yang benar dalam kehidupan. Pengetahuan berupaya untuk menghindari kesalahan dalam semua keyakinan, Tindakan dan Keputusan manusia. Namun, Alquran menuntut manusia untuk bertransformasi mencapai pemahaman. Pemahaman merupakan tujuan epistemic yang lebih tinggi dan lebih utama dibandingkan dengan pengetahuan proporsional. Pemahaman juga harus dilandasi oleh Taqwa agar seseorang mendapat Kebajikan intelektual, moral dan spiritual. Pemahaman didalam Alquran bersifat holistik dan mendalam sehingga lebih sulit dicapai disbanding pengetahuan.
Konsep Wisdom (hikmah) dalam Alquran
Alquran menyebutkan kata hikmah sebanyak 20 kali. hikmah didalam Alquran dihubungkan dengan khair kathiran yang berarti kebaikan yang banyak. (QS. 2: 269)
Persamaan antara “kebaikan” dan kebijaksanaan merupakan hal yang penting. Adeel memahami bahwa istilah “khair,” yang diterjemahkan sebagai “kebaikan,” merujuk pada kebaikan dalam arti yang komprehensif, mencakup semua bentuk kebaikan. Ini meliputi kebaikan moral maupun intelektual. Dengan cara pandang seperti ini, kebijaksanaan adalah kebaikan moral dan intelektual yang melimpah. Alquran juga menghubungkan hikmah dengan pengajaran makna Alquran. (QS. 2:151). Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan dalam Alquran berhubungan erat dengan pengetahuan dan pemahaman holistik. Oleh karena itu, kebijaksaan menjadi bagian penting dan bernilai dalam epistemology Alquran. Hikmah membangun kesadaran epistemic dan membimbing Kebajikan intelektual.K ebijaksanaan dalam pandangan Al-Qur’an juga berhubungan dengan kejujuran moral atau kebaikan akhlak. Kebijaksanaan adalah suatu bentuk pengetahuan dan pemahaman yang memampukan seseorang untuk hidup secara benar (righteous). Ini menyiratkan bahwa ḥikmah adalah keadaan epistemik yang menghasilkan kebaikan moral dan spiritual. Dalam Q.S. 16:125, ḥikmah dikaitkan dengan argumen terbaik dan metode pengajaran yang paling baik. Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan mencakup kemampuan berargumentasi dengan cara yang paling efektif dan etis. Dalam filsafat Aristoteles, kebijaksanaan dibagi dua: Sophia (teoretis) dan Phronesis (praktis). Al-Qur’an tidak memisahkan keduanya; ḥikmah mencakup keduanya sekaligus, teoretis dan praktis, serta terkait langsung dengan taqwa. Kebijaksanaan, menurut Al-Qur’an, adalah pengetahuan yang digunakan secara sadar dan etis untuk membentuk hidup yang bermakna dan benar.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Buku ini memberikan pemahaman filosofis bagaimana epistemology dalam Islam di jelaskan dalam bentuk yang lebih konkrit melalui terminology Qurani. Hal ini memperluas pandangan epistemology bayani, burhani dan ‘irfani di terapkan dalam Alquran. Buku ini juga memberikan refleksi kritis dengan menggabungkannya cara analisis filsafat kontemporer terhadap ayat-ayat yang mengandung terminology epistemology seperti ‘ilm, Zann, Fahm, Jahl dan seterusnya. Sayangnya, dalam pemaparan filsafatnya masih sangat teoretis. Sehingga upaya untuk menemukan benang merah antara pemikiran filsafat kontemporer dengan epistemology qurani tampak sulit terhubung. Selain itu, pemaparannya yang teoretis dan abstrak juga membuat titik temu antara fisalafat epistemic dan epistemology Qurani tampak kabur.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar