Jumat, 05 Januari 2018

Resensi Buku Novel Senyum Karyamin, Ahmad Tohari



Judul Buku: Senyum Karyamin
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 1989
Jumlah halaman : 73
Genre: Fiksi, cerpen

Peresensi: Iyom Alexandria

Ini adalah kumpulan 13 cerpen yang kemudian dibuat buku dengan latar masyarakat desa yang menjadi tokoh sentralnya. Seperti dalam karya-karya Ahmad Tohari yang lain, dalam buku ini kita akan mendapati pesan moral yang menggelitik sekaligus lugu.

Dalam Senyum Karyamin mengisahkan bagaimana di negeri ini begitu banyak orang-orang yang kelaparan, akan tetapi demi ingin terlihat sebagai manusia yang peduli pada kesengsaraan bangsa lain justru masyarakat kita dimintakan untuk ikut mengatasi kelaparan bangsa lain, padahal di negeri sendiri masih banyak yang menderita kelaparan. Wajah Karyamin muncul dalam potret bangsa kita, seorang yang lugu, bodoh, alami, telanjang, akan tetapi ternyata tetap menjanjikan kedamaian yang tulus dan tanpa pamrih.

Kemudian ada pula mengisahkan tentang “Si Minem Beranak Bayi” di mana masih banyak masyarakat kita anak-anak perempuan di bawah umur kemudian memiliki bayi. Pertanyaan menggelitik dari seorang ayah yang juga kakek dari bayi yang baru saja dilahirkan “Soalnya, istriku baru melahirkan kemarin dulu. Dia, istriku itu, sudah berusia 29 tahun, jadi layak melahirkan seorang bayi. Sedangkan Si Minem masih bocah. Betulkah seorang bocah mengeluarkan bocah lagi? Astaga! Aku belum percaya Minem melahirkan bayi. Jangan-jangan cuma daging atau telur.”

Dari beberapa judul-judul dalam buku Senyum Karyamin semoga dapat membuat kita melek pada masalah-masalah yang terjadi di masyarakat yang sampai hari ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *