Jumat, 17 Januari 2020

Resensi Buku Dua Barista. Najhaty Sharma

Kepulan Harum Anti Diskriminasi dan Anti Poligami di Novel Dua Barista

Judul: Dua Barista
Pengarang: Najhaty Sharma
Tahun: 2020
Penerbit: Telaga Aksara
Tebal:  514 halaman
Genre: Fiksi
Peresensi: Aida Mudjib

Dunia sastra pesantren kembali menari-nari di awal 2020 ini dengan hadirnya novel “Dua Barista” (selanjutnya disebut 2B) karya Najhaty Sharma. Novel yang bermula dari cerbung di linimasa facebook ini sukses dibaperi, dibagi, dan dikomentari puluhan ribu penikmatnya. Jelang akhir 2019, sementara cerbung beranjak dari bab 10 ke bab 11, penulis resmi mengumumkan bahwa cerbungnya akan dibukukan. Pre order dibuka. Mereka yang berminat memperoleh novel tersebut didaftar, agen dan reseller berbondong-bondong meminta kuota. Hasilnya luar biasa sekali, akhir Desember, tercatat 2.500 orang yang memesan lewat pre order dan ketika akhirnya terbit pada awal Januari, 3300 eksemplar cetakan pertama ludes tak tersisa.

Jujur saya omnilegent, bukan penikmat karya sastra pesantren yang intens. Padahal harum nilai-nilai tradisi dan ajaran yang ada banyak melampaui novel-novel bercap 'islami' di luar sana -yang sering mirip sinetron kacang dengan dialog yang ditambahi dalil dan tokoh berjilbab maupun berkoko.

Pertama membaca cerbung 2B, saya lebih terusik tentang isu diskriminasi atas perempuan di dalamnya. Mau anak kiai atau anak tukang gali, keturunan atau tidak adanya keturunanlah yang akan menentukan bagaimana mereka diperlakukan dalam keluarga. Tokoh utama novel ini juga bernasib sama. Mazarina diminta untuk ridho dan rela dimadu demi pesantren oleh mertuanya. Mari kita andaikan mertuanya bukan orang alim, bukan kiai, bisa jadi Maza akan dicerai saat itu juga.

Pun Meysaroh, sang istri kedua yang sempat diperlakukan hanya bak mesin reproduksi oleh suaminya. Jika ia berasal dari status sosial yang setara dengan suaminya, akankah ia lebih dihormati dan digauli dengan lebih baik?  Jika ia memiliki pendidikan yang lebih tinggi akankah ia berani lebih bersuara atau lebih cakap menyaring bisikan tetangga?
   
Pengangkatan rahim Mazarina sehingga ia kehilangan kemampuan mengandung dan melahirkan anak bisa juga dilihat dari kacamata disabilitas. Ketika yang kehilangan fungsi anggota tubuh adalah perempuan, maka ia berada di posisi yang lebih rawan dan sulit. Taruhlah skenario dibalik, yakni Ahvash yang bermasalah dan Mazarina yang pewaris satu-satunya, apakah kiai, alumni, dan masyarakat akan mendukungnya meminta talak tiga?

Ndilalah ketika membaca draft, angan-angan atas segala anti, women empowerment, dan ngelunya loncat-loncat mencari pijakan pas di dunia patriarki terpinggirkan membaca ini di bab 22.


["Ya Allah Bunyai.... Mugi paringi kiat," celetuk perempuan
tua itu sambil menjelaskan sebelum kemudian berlalu mencari
tempat duduk.

"Jenengan kuat dimadu. Padahal baru lima tahun menikah. Anak saya sudah dua puluh tahun belum hamil Bunyai, untung suami Narti tidak minta cerai, tidak juga poligami. Jenengan saya doakan kuat ya Bunyai..."

Begitu doa sang ibu jamaah Abah yang tak kukenal. Dia mungkin tidak tahu, jika doanya itu justru membuatku
nelangsa.]

Honestly, I smiled then.

Ketika Mazarina sangat down dan nelangsa karena 5 tahun tak berputera lalu didua, ia mendapati ada Narti yang 4x lebih lama merasakan sepi tanpa bayi dan luckily suami Narti tak poligami. 

Ini huge slap, kritik yang mengena. Kiai dan keluarganya mungkin tahu kitab lebih banyak, ngaji tentang sabar, qadha dan qadar lebih lancar. Tapi praktiknya, orang yang dianggap biasa, juga hidup dengan cerita ketangguhan diri yang tak kalah perwira. Hidup itu sawang-sinawang, ibu Narti melihat cobaan Maza begitu hebat namun Maza juga melihat keluarga ibu Narti sangat kuat.

Satu yang agak mengganggu adalah penggambaran fisik dan background karakter tokoh-tokohnya. Terlihat seragam. Seperti di novel Hati Suhita-nya Khilma Anis, Ahvash sama dengan Biru, pewaris satu-satunya, entrepreneur, bijak cendekia dalam bidang keilmuan mereka. Penggambaran fisik para tokohnya juga, serupa ganteng, tinggi, atletis. Ning-ningnya ayu langsing bak artis, khodamnya juga bening-bening. Ini mungkin membuat pembaca lebih mudah memvisualisasi namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan halusinasi. 

Pembaca yang awam bisa mengira para gawagis dan nawaning semuanya bermuka bak kecipratan biadari-bidadara. Lebih fatal lagi jika ada yang mengira milih jodoh di kalangan pesantren mementingkan fisik dan rupa hanya agar tidak njomplang. Ajaran adab, akhlak, dan keilmuan jadi nomor sekian.

Seperti guyonan kalau masih Gus belum maqam poligami, di akhir cerita kita akan disuguhi maqam yang berbeda. tiap orang ada maqamnya sendiri. 

Maza, Ahvash, Mey...
saya... Anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *