Review Buku Hati Suhita, Khilma Anis

Hati Suhita, Hati Ibu-ibu Muda


Judul: Hati Suhita
Penulis: Khilma Anis
Penerbit: Mazaya Media, Telaga Aksara
Tahun terbit: Maret 2019
Tebal: 415 halaman
Genre: Novel Fiksi
Pereview: Nabilah Munsyarihah

Novel ini berawal dari cerita bersambung yang dipost oleh penulis Khilma Anis di dinding facebooknya. Setiap postingannya menuai ribuan like dan ratusan komentar. Sebelumnya Khilma sudah menerbitkan dua judul novel, Jadilah Purnamaku Ning (Matapena, 2006) dan Wigati (Mazaya Media, 2017). 

Alina Suhita adalah perempuan muda, putra kiai, yang dijodohkan dengan Gus Birru, putra semata wayang Kiai Hanan. Mereka berdua dijodohkan sejak muda. Kiai dan Nyai Hanan menaruh banyak harapan pada Alina agar kelak bisa meneruskan perjuangan pesantren dan memberikan keturunan yang baik. 

Tetapi sejak awal Gus Birru tak tertarik sama sekali. Apalagi ketika Birru mengenal dan dan menyelami dunia pergerakan, ia bertemu dengan gadis cerdas yang mencintai dunia literasi, ceria, dan senyumnya memikat. Ia lah Ratna Rengganis. 

7 bulan Alina dan Birru tinggal sekamar tapi tak pernah bersentuhan. Mereka asing satu sama lain. Birru yang menyibukkan diri dengan dunia penerbitan dan pergerakan tak tertarik membantu jalannya roda pesantren sehari-hari. Alina lah yang melakukan semuanya. Ia menyenangkan hati mertuanya termasuk berpura-pura mesra dengam Birru. Padahal di dalam dadanya, ia menahan lara, menimbun ribuan pertanyaan dan prasangka. Apalagi Rengganis tak berhenti mengorbit dalam kehidupan Birru. Alina makin merasa teralienasi, ia tak mengenal sama sekali siapa suaminya itu beserta segala semesta kehidupannya. 

Novel ini adalah tentang penantian yang meletup-letup. Alina yang kalem itu pada suatu hari akan melawan ketakberdayaannya di depan Birru. Sebab ia adalah Alina Suhita. Dalam namanya tersemat kekuatan perempuan Majapahit. Ia tak boleh lemah, ia tak akan kalah. Nilai-nilai dan cerita Jawa dari wayang dan babad merasuk dalam dirinya seperti juga ayat-ayat AlQuran yang ia rapal di luar kepala. 

Berbagi Sudut Pandang

Dalam novel ini ada tiga sudut pandang tokoh, Alina, Birru dan Rengganis. Karena diberi porsi masing-masing, setiap tokoh nampak sangat manusiawi dengan pilihannya. Di depan Alina, Birru tampak angkuh, Rengganis seperti perebut. Tapi jika kedua tokoh lain sudah bicara, pembaca akan paham bahwa tak ada tokoh antagonis. Semuanya manusia biasa yang masalahnya berkelindan dengan masalah orang lain. Beratnya, ini masalah hati.

Selain itu, tiap tokoh punya dunia dan sumber nilainya masing-masing. Alina meski hapal AlQuran tapi ekowicaranya selalu membicarakan tentang cerita Jawa. Itu karena ia dekat dengan kakeknya yang mengajaknya berjalan-jalan pada banyak cerita sejarah. Sementara Birru, ada suatu massa ketika dunia filsafat dan pergerakan tampak adalah segalanya. Tapi pada akhirnya, ia tahu, ia adalah manusia pesantren yang tak bisa tercerabut bagaimanapun dunia menyilaukan matanya.  

Kehadiran Suhita bagaikan telaga di tengah gurun dalam dunia sastra pesantren. Pembaca kita sudah lama disuguhi dengan novel-novel religius pop yang kadang berlatar belakang pesantren, tetapi ruh pesantrennya kurang representatif. Kita banyak disuguhi cerita muslim urban yang kadar kesalehannya tampak dari tokoh yang suka 'nyebut', sopan, berpendidikan, dan berkaca pada peradaban luar. Tapi di sisi lain, nilai pesantren Hati Suhita tidak sekental cerpen-cerpen Gus Mus. Suhita ini 'mesantreni', berbudaya Jawa, dan dikemas secara populer. 

Perasaan Suhita barangkali mewakili banyak suara perempuan yang kerap gagal berkomunikasi dengan suami tentang kemelut hatinya. Gaya bahasa penulis yang mengalir dan memikat begitu membius pembaca sejak 13 fragmen pertama yang ditulis di dinding facebook. Tak heran, Suhita ditunggu-tunggu. Di bulan pertamanya, Suhita sudah tembus belasan ribu waiting list dan baru seperempatnya yang sudah sampai ke tangan pembaca hari ini. 

Apa Anda termasuk yang beruntung sudah membacanya?

- Nabilah Munsyarihah -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar