Review The Red-Haired Woman, Orhan Pamuk

Judul Buku: The Red-Haired Woman
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Bentang, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2018
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 341
Pe-review: Iffah Hannah

Cem, seorang pemuda yang masih SMA, bercita-cita menjadi penulis. Setelah berkali-kali ditinggalkan ayahnya, seorang aktivis gerakan kiri yang berkali-kali diciduk dan dipenjara, Cem akhirnya tidak pernah lagi melihat ayahnya kembali. Mungkin bukan karena alasan yang sama seperti biasanya, tapi itu tak penting lagi. Ia sudah terbiasa kehilangan ayahnya. Pada musim panas 1985, Cem membantu di toko buku Deniz dan mulai serius dengan impiannya untuk menjadi penulis. 

Uang yang diterima Cem di toko buku sama sekali tidak cukup untuk membayar biaya bimbingan belajar demi persiapan ujian penerimaan universitas, sehingga ibunya memutuskan untuk pindah dari Istanbul ke Gebze dan tinggal bersama adik perempuannya sementara Cem bekerja sebagai penjaga kebun buah ceri dan persik milik suami dari adik perempuan ibunya. Di sana ia bertemu dengan para penggali sumur dan tertarik dengan pekerjaan itu karena teringat dengan novel Jules Verne "Journey To The Center Of The Earth" yang pernah dibacanya. Tuan Mahmut, si penggali sumur, menawarkan pada Cem untuk ikut menjadi asistennya sebagai penggali sumur di pinggiran kota Kucukcekmece. Ia bilang, pekerjaan sepuluh hari itu akan memberi Cem penghasilan 4x lebih banyak dari pengawas kebun buah.

Setelah perdebatan dengan ibu dan bibinya, Cem akhirnya diijinkan ikut menjadi asisten Tuan Mahmut menggali sumur di kota Ongoren dengan perjanjian kalau Cem tidak akan turun ke dalam sumur dan hanya membantu dari atas. 

Di Ongoren itulah, terjadi peristiwa yang akan terus mempengaruhi kehidupan Cem bahkan sampai puluhan tahun berikutnya. Di sana, ia terpesona dengan seorang aktris teater keliling, perempuan cantik berambut merah yang puluhan tahun kemudian diketahui pernah menjadi kekasih ayah Cem sewaktu muda dan belum menikah. Di sana pula, Cem merasa memiliki hubungan ayah-anak bersama Tuan Mahmut, orang yang dianggapnya sebagai guru dan ayah, yang kadang dihormatinya dan kadang dibencinya.

Dan rencana penggalian sumur yang molor, dari rencana awal 10 hari menjadi 14 hari, lalu sampai sebulan namun air tak kunjung ditemukan. Hingga suatu hari sebuah kecelakaan terjadi. Ember berisi tanah yang sedang dikerek Cem dari dalam sumur jatuh dan menimpa Tuan Mahmut di bawah sana. Karena ketakutan dan panik setelah berusaha mencari bantuan tapi tak menemukannya, Cem akhirnya mengemasi barang-barangnya dan kabur pulang. Meninggalkan Tuan Mahmut di dasar sumur.

Selama bertahun-tahun kemudian, Cem berusaha melupakan peristiwa itu dan rasa bersalahnya. Cem menenggelamkan dirinya pada karya sastra dan mitos-mitos tentang hubungan ayah dan anak lewat kisah "Oedipus Rex" yang pernah dibacanya dan dulu ia kisahkan pada Tuan Mahmut dan kisah "Rostam dan Sohrab" yang pernah ditontonnya dari teater keliling di Ongoren yang dibintangi perempuan berambut merah. Yang pertama, mengisahkan tentang anak yang membunuh ayahnya dan yang kedua berkisah tentang ayah yang membunuh anaknya. 

Ketika Cem akhirnya menikah dan menjadi sukses kaya raya, ia kembali ke Ongoren puluhan tahun setelah peristiwa penggalian sumur bersama Tuan Mahmut dulu itu untuk berbisnis. Siapa sangka, segala mitos yang pernah dibacanya dulu itu menjadi mimpi buruk yang kemudian menimpanya bagai kutukan.

Orhan Pamuk sekali lagi mempertemukan mitos Barat dan Timur dalam karyanya. Membandingkan dan juga menelusuri dokumen-dokumen tentang mitos besar Oedipus Rex dan Rostam-Sohrab dalam Shahnameh yang ada di dalam dan luar Turki. Novel istimewa ini memang tidak boleh dilewatkan, apalagi bagi para pembaca setia Pamuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar