Jumat, 23 Agustus 2019

Guneman Usai Nonton Film Bumi Manusia

Guneman, dalam bahasa Jawa yang saya pakai ini artinya bergumam. Aktivitas yang hanya melibatkan diri sendiri, mencerna, dan sedikit berpikir. Lantas menyimpulkan. Tidak lebih luas dan lebar dari sebuah review atau resensi asik sebuah film. Pyur hanya menggumam.

Guneman saya berlangsung sejak menit-menit awal film ini dibuka. Dahi auto berkerut melihat akting Iqbal memerankan sosok Minke yang terbangun dari tidur di kamar kontrakannya. Adegannya persis scene di FTV aka sinetron. Raut muka remaja culun yang jauh dari kesan bahwa ia seorang mahasiswa HBS sebagaimana lazim tercerna dari buku novelnya. Lengkingan sang induk semang dari lantai satu kontrakan juga tak beda dengan adegan dalam opera sabun. Sampai di sini, guneman saya hinggap di pertanyaan, “ini siapa sih script writer-nya?”.

Tiga jam saya duduk anteng di dalam bioskop. Saksikan gambar yang begitu hidup dan mematahkan harapan saya akan sajian ruang dan waktu zaman kolonial akhir abad 19. Saya mulai terganggu dengan suguhan demikian. Bagaimana bisa gambar tampak begitu jelas, bahkan pori-pori kulit dan titik-titik udara. Ingatan saya lalu berjalan ke film Hollywood “The Hours” berlatar 1900-an awal, juga “Sufragette” berlatar Inggris 1900-an awal pula. Pada dua film tersebut saya mendapati suasana ‘Eropa’ kolonial yang kental. Kesan gambar yang kelat memburam mampu menghadirkan cita rasa ruang waktu yang pas. Atau bahkan pada era TVRI dahulu, opera sabun Little Missy, kualitas lensa kamera begitu ‘meyakinkan’ suguhkan Noni-Noni Londo. Sementara yang hadir di film Bumi Manusia, semua tampak begitu baru dan ‘bersih’.

Harapan yang saya miliki sebagai penonton memang tidak bisa dilerai dari kacamata saya sebagai seorang yang membaca buku novel tersebut. Apa yang bergaung di ingatan saya begitu jelas, bagaimana sebuah situasi kolonial di negeri ini kala itu mampu dituliskan oleh Pram dengan sangat ngena! Saya lupa jika buku dan film adalah dua medium berbeda. Selebihnya, saya mendapati fragmen yang menyuguhkan isi buku yang saya baca itu di dalam gambar bergerak karya Hanung.

Tak berlebihan jika dikatakan bahwa ini adalah roman percintaan yang mengambil latar Indonesia zaman kolonial. Pada ranah yang akhirnya memang tidak bisa disamakan dengan imajinasi kebangsaan anti imperialisme yang dibangun Pram dalam novel.

Guneman saya berlanjut; bagaimana bisa orang-orang londo Eropa di film itu juga begitu ‘kaku’-nya mendapuk sebuah peran. Perkecualian pemeran Tuan Mellema, suami Nyai Ontosoroh yang cukup kuat karakter sebagai seorang tuan tanah Eropa kala itu. Beradu akting dengan Ine Febriyanti, lanskap yang menjadi muara dari film ini.

Akhirul kalam, film ini tampak berada dalam satu tarikan garis yang dihubungkan oleh Minke sebagai sang narator dengan metode bertutur melalui aktivitas menulis. Mengingatkan saya pada drama Korea yang juga kerap menggunakan metode demikian. Guneman saya selanjutnya tak bisa berhenti dari kekecewaan khas penonton. Sayangnya, saya gagal menuliskannya..



Penulis:

Akhiriyati Sundari, peminum kopi dan pecinta puisi. Penggemar tokoh Sandy si tupai pintar dalam kartun Spongebob. Cik Gu di Madrasah Aliyah Darussalam Maguwoharjo dan MA Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Tinggal di Jl. Gejayan Hortensia 2 A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *