Jumat, 03 Januari 2020

Ibu Rosana dan Catatan Akhir Tahun

Pagi itu, 30 Desember 2019, teman-teman yang semalaman begadang di kontrakan saya demi tugas paper UAS satu per satu pamitan dengan haru karena tahu kalau sore harinya, saya akan pulang kampung untuk liburan semester. Begitu mereka pulang, saya bersih-bersih sebentar, lalu mulai packing, memilah mana yang akan dimasukkan ke koper mana yang tidak. Kemudian, saya menghidupkan laptop sebentar untuk mengirimkan salah satu paper ujian ke ketua kelas. Sambil menunggu kabar dari teman perihal tugas-tugas lanjutan, saya janjian dengan seorang kawan untuk sama-sama naik grab-car/go-car ke Stasiun Gambir karena kebetulan jadwal kereta kami sama. Kami sepakat untuk berangkat jam setengah 2 siang dari Depok dan mobil akan berangkat dari kosan teman lalu menjemput saya di perjalanan menuju stasiun. Tepat jam setengah 2, saya sudah siap dengan satu tas ransel dan satu koper 21in lalu berjalan pelan ke titik penjemputan. 

Singkat cerita, saya menunggu sampai jam 2 lebih sedikit tapi mobil dan temen saya tidak kunjung datang. Sambil terus berkomunikasi melalui WA, saya baru tahu kalau ternyata dia mengambil jalur berbeda sehingga tidak lewat ke titik penjemputan seperti kesepakatan sebelumnya. Dia meminta saya untuk naik ojek dan menyusul ke arah FT UI. Tepat ketika ia selesai mengabarkan itu, hujan turun cukup deras. Akhirnya, dengan kecewa saya bilang kalau saya nanti berangkat sendiri saja ke Stasiun Gambir. Beberapa larik permohonan maaf yang dia kirimkan melalui WA tidak saya gubris. Bukan, bukan saya tidak memaafkan. Saya hanya butuh waktu menenangkan sebal sejenak. 

Sambil menunggu hujan agak reda, saya mulai berhitung; apakah saya akan memesan grab-car/go-car lain untuk menuju ke Stasiun Gambir atau saya naik KRL dari Stasiun UI, kemudian turun di Stasiun Gondangdia, baru naik ojek online ke Stasiun Gambir. Setelah cukup lama berpikir, sambil pesen makan siang yang dibungkus (kebetulan saya berteduh di halaman sebuah resto siap saji), saya memilih opsi terakhir. Meskipun perut lapar minta ampun, begitu hujan mereda, saya segera memesan ojek online dan meluncur ke Stasiun UI sambil berharap supaya tidak ketinggalan kereta Jakarta – Purwokerto.

Ketika KRL jurusan Jakarta Kota tiba di Stasiun UI setelah saya menunggu sekitar sepuluh menitan, saya segera naik ke gerbong terdekat dengan tergesa sambil menyeret koper dan membetulkan letak tas ransel di punggung. Di dalam gerbong, saya celingukan mencari tempat duduk yang nyaris semua terisi penuh, sampai seorang ibu setengah baya menatapku sambil tersenyum dan memberi isyarat untuk mendekat. Dia bergeser sedikit, cukup untuk saya duduk. Sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali, saya melepas tas ransel, duduk, dan meletakkan tas itu ke pangkuan.

Saya tidak terlalu percaya dengan kebetulan-kebetulan. Meskipun bukan seorang yang cukup relijus, saya percaya bahwa segala hal terjadi karena Tuhan punya rencana. Seperti misalnya kejadian batalnya naik grab-car/go-car ke Stasiun Gambir bersama kawan saya dan pertemuan dengan ibu baik hati yang duduk di samping saya ini.

Awalnya, kami hanya berbincang hal-hal sepele. Seperti mau kemana, dari mana, hujan atau tidak, aslinya mana, saya kuliah dimana dan semester berapa. Sampai akhirnya, pertanyaan-pertanyaan sederhana itu membawa saya pada cerita-cerita yang mungkin akan membekas di hati saya sampai kapanpun.

Perempuan itu mungkin berusia 50an. Ia tinggal di sekitaran Depok dan kerjanya sehari-hari menjual keripik singkong. Kadang berangkat siang, kadang pagi. Tapi hampir setiap hari, ia pulang jam sepuluh malam. Kalau tidak berjualan keripik, ia kerja jadi buruh cuci. Kadang, dalam sehari ia menjual 15-20 bungkus keripik. Katanya, dia biasa menjajakan keripiknya di sekitar Menteng Atas dan Kota Kasablanka.

Anaknya dua. Satu laki-laki, kini kuliah di Unindra semester VII (saya lupa bertanya jurusan apa) sementara anak perempuannya, kini tinggal di pesantren di Jakarta Selatan. Ia bercerita kalau suaminya meninggal 19 tahun lalu, ketika anaknya masing-masing berumur 3 dan 1 tahun. Dan sejak saat itu, ia menjadi ibu sekaligus bapak bagi kedua anaknya. 

Ada rasa sesak memasung dadaku ketika si ibu bercerita bahwa meskipun hidupnya tidak mudah, ia bersyukur atas segalanya; bahwa baginya, yang penting adalah sabar. Toh kehidupan, pasti akan selalu membaik, meski pelan-pelan. Saya tercekat mendengar kata-katanya. Meski tidak sanggup membayangkan, saya bisa mengira kalau 19 tahun membesarkan dua anak tanpa bantuan siapa-siapa bukanlah hal yang mudah. Ia sendiri mengaku kalau keluarganya sudah tak ada. Sementara keluarga suaminya juga jauh. “Lagi pula, keluarga suami saya petani biasa, tidak mungkin saya membebankan kedua anak saya pada mereka. Mereka juga orang susah.” 

Saya segera mengambil botol minuman di tas saya dan buru-buru meminum isinya dengan dua tegukan besar. Jangan menangis, jangan menangis, begitu hati saya berbisik.

Saya sempat tergoda untuk bertanya mengapa ia tidak menikah lagi, tetapi pertanyaan itu tertahan di tenggorokan. Saya tahu, bagi beberapa orang, pernikahan bukanlah persoalan sesederhana ‘membuat hidup jauh lebih baik’ seperti kampanye gerakan menikah muda yang kini ramai di instagram. Seolah pernikahan menjadi jawaban paripurna untuk segala permasalahan apapun; ‘pusing skripsi, menikah saja’ atau ‘bulan puasa, nggak ada yang bangunin sahur, menikah saja.’

“Nama saya Rosana,” ucapnya di penghujung cerita. Saya tersenyum dan segera mengulurkan tangan. “Saya Ifa Bu, siapa tahu kapan-kapan ketemu lagi.” Dia mengangguk berkali-kali. Ketika saya bertanya apakah ia sudah makan, Ibu Rosana sejenak terdiam. Seakan ragu untuk menjawab, sampai akhirnya dia bilang "sudah". Saya teringat makan siang yang saya beli tadi. Meskipun tak seberapa dan sama sekali tak berharga apa-apa, saya mengangsurkan makanan itu ke beliau. Yang tentu saja langsung ditolaknya, “Buat Mbak Ifa saja.” Saya terpaksa berbohong, “Saya sudah Bu, tadi.” Dengan ragu dan ekspresi tidak enak, ia akhirnya menerima bungkusan itu. 

Menjelang KRL kami tiba di Stasiun Manggarai, stasiun tujuan Ibu Rosana, ia mengeluarkan sebungkus keripik besar dari tas kresek besar yang ia letakkan di dekat kakinya dan mengulurkannya padaku. Dengan sopan aku menolak. Kubilang biar itu dijual saja, sebab barang bawaan saya sudah sangat banyak. Saya meminta maaf berkali-kali sampai akhirnya Ibu Rosana tersenyum maklum. Sesaat sebelum kami berpisah, ia mengucapkan banyak sekali doa-doa yang membuat hati saya begitu hangat. Kami bersalaman dan saling melambaikan tangan. Bersamaan dengan menutupnya pintu gerbong dan melajunya kereta yang saya naiki menuju stasiun berikutnya, saya menelungkupkan wajah ke kedua telapak tangan saya; saya menangis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *