Minggu, 23 Februari 2020

Perempuan Kedua

“Mbak, saya di depan,” begitu suara perempuan di ujung telepon menyambut salamku.

Sambil menjepit telepon genggam di antara telinga dan bahu, aku segera mematikan kompor gas di depanku, mengangkat panci yang airnya sudah mendidih itu, dan menuangkannya ke teko teh di atas meja makan. Sambil mengelap tangan dengan beberapa lembar tisu yang kutarik serampangan, aku berjalan agak tergesa ke pintu apartemen, mengintip sebentar ke lubang kecil di pintu, memastikan bahwa tamuku adalah orang yang memang kutunggu. Setelah melihat Maria dan bayi dalam gendongannya berdiri di balik pintu itu, aku buru-buru membuka pintu.

Kulihat Maria menyambutku dengan senyum yang tidak biasa. Aku segera memeluknya erat dan mengajaknya masuk. Bayi kecil di gendongannya menatapku sambil tertawa. Namun kulihat sepasang mata Maria berkaca-kaca. Tatapan matanya begitu menggangguku sehingga aku cepat-cepat mengalihkan pandangan. 

“Duduk dulu ya,” ucapku yang segera disambut anggukan Maria. 

Aku melangkah ke dapur yang berdampingan dengan ruang tamu, membuka penutup teko, dan mengeluarkan dua kantung teh chamomile dari air yang semakin memekat. Setelah menutup teko itu kembali, aku meletakkan kantung teh itu ke dalam wadah melamin kecil, menunggunya mendingin untuk kemudian menaruhnya ke dalam kulkas. Biasanya kantung teh dingin itu kugunakan untuk mengompres mataku yang semakin berkantung sekaligus menghitam ini.

Dengan teko dan cangkir di tangan, aku berjalan ke ruang tamu. Kutuangkan minuman dan kupersilakan pada Maria. Kubuka beberapa toples kaca di dekat teko dan kutawarkan isinya, yang segera disambut gelengan kepala oleh kawanku itu. 

Sambil membersit hidung, Maria bertanya kabarku, kabar suami, dan anakku. Aku tak sabar dengan basa-basi menyebalkan itu tetapi melihatnya yang berkali-kali menatap ke langit-langit seperti menahan supaya air matanya tidak menetes membuatku terpaksa bersabar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Bayi di gendongannya menggeliat dan mulai merengek. Sepertinya bayi itu bosan.

“Jadi gimana Mai?” tanyaku sambil mengulurkan tangan, mencoba mengajak bayi itu ikut. “Hai adek, siapa namanya ya? Tante lupa…” padahal aku tidak lupa. Aku memang tidak pernah tahu namanya.

Tak dinyana, bayi kecil itu tertawa dan menyambut uluran tanganku. Badannya gempal dan cukup berat ternyata.

“Namanya Aliya, Tante…” Maria menjawab pertanyaanku. Suaranya bergetar.

“Hai Aliya…” sapaku sambil menimangnya. Kulihat Maria menyesap tehnya dan dengan ujung kain gendongan, ia mengusap matanya. Aku pura-pura tidak melihat. Kuayun-ayun bayi di gendonganku sambil mendendangkan lagu-lagu orang tua jaman dulu yang sering dinyanyikan nenekku saat menimang anakku.

Aku ingat pertemuan pertamaku dengan Maria. Waktu itu, aku baru tinggal di Jakarta, di rumah kontrakan yang sempit bersama suamiku. Anakku belum lahir sehingga kebutuhan untuk tempat tinggal yang lebih layak masih kami abaikan sementara. Maria adalah salah seorang peneliti junior di tempat suamiku bekerja. Ia sering main ke rumah bersama teman-temannya, yang tentu saja kepada suamiku lah mereka punya kepentingan, makanya kami tidak pernah akrab. Terlebih, aku juga terlalu malas untuk bersosialisasi dengan tamu. Aku lebih sering sibuk sendiri dengan kawan-kawan atau pekerjaanku. Sampai akhirnya, ia berhenti berkunjung ke kontrakan kami. Kudengar Maria menikah dan pulang ke kampung halamannya di Lubuk Resam, Jambi. Nama kampungnya saja baru kali itu kutahu, saat menerima undangan pernikahan lewat grup milis suamiku. Tentu kami tidak datang. Suamiku saat itu sedang sibuk dengan penelitian di daerah 3T. Aku sendiri sedang hamil tua dan malas kemana-mana.

“Listrik aja mati-hidup di sana. Yang punya panel surya paling cuma kepala desa. Lainnya ya pakai diesel. Itupun nyala malam hari aja. Jalanan juga masih tanah, belum diaspal. Mobil nggak bisa masuk lah. Kalau mau ke sana harus lewatin hutan dulu, sama perkampungan kosong yang horor gitu lah…”

“Ah kaya pernah ke sana aja Kak,” timpalku memotong cerita suami.

“Lah nggak percaya kamu. Aku ini denger sendiri cerita Maria. Makanya dia itu sebenernya nggak pengen pulang ke kampung. Maunya di sini. Wong di sana itu Alfamart nggak ada.”

Aku tertawa. “Harus banget ya kriteria peradaban itu Alfamart?”

Lalu kami berdua sama-sama tertawa dan tidak pernah lagi membahas tentang Maria. Sampai seminggu lalu, setelah 5 tahun tidak pernah tahu kabarnya, Maria menghubungiku melalui pesan whatsapp dan minta bertemu. Aku merasa ada yang tidak beres dan nyaris menolak bertemu. Aku bahkan sudah menyiapkan berbagai alasan untuk menghindar. Sampai kemudian pesannya yang mengatakan bahwa ia akan datang bersama bayinya karena tidak ada pengasuh membuatku tidak berdaya. Aku memang memiliki kelemahan-kelemahan sentimental jika menyangkut anak-anak. 

Setelah kutimang cukup lama, bayi itu tertidur. Kubilang pada Maria kalau bayinya mau kutidurkan di dalam kamar saja biar lebih nyaman. Ia setuju. Ketika kembali ke ruang tamu, kulihat Maria masih menyeka air matanya yang meleleh tak tertahan.

“Jadi gimana Mai?” aku mengulang pertanyaanku.

Ia terdiam sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah, seolah dengan begitu tangisnya tidak akan pecah.

“Tidak apa-apa sambil menangis,” ucapku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

“Sebenarnya aku nggak pengen ngerepoti Mbak dengan cerita begini. Tapi aku nggak tahu harus cerita ke mana. Aku juga tidak berani cerita ke ibu dan bapak, takut beliau kaget. Mau cerita ke teman juga malu, takut kesebar kemana-mana.” Maria kembali membersit hidung. Mata dan hidungnya semakin memerah. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan sebentar, kemudian ia menatapku dengan tatapan yang aku tidak suka. Tatapan orang yang terluka. “Suamiku menikah lagi, Mbak. Sudah dua bulan.” Suaranya bergetar. 

Aku mengangguk. Sebenarnya aku terkejut, tetapi aku tidak mau menunjukkannya. Aku juga berusaha keras meredam kemarahan yang menggelegak, menunggu ia melanjutkan cerita. “Nikah siri sih…” Iya, tetap saja menikah lagi, komentarku dalam hati. “Dia nggak bilang dulu kalau mau nikah lagi.”

“Memangnya kalau bilang, kamu akan rela dan mengijinkan?” aku tak mampu membendung celetukan sinis itu.

“Tidak, Mbak, tidak… siapa lah yang akan rela begitu. Mungkin ada beberapa ya, tapi aku tidak. Apa aku salah? Mertuaku bilang, itu salahku. Sebab aku tak bisa melayani suamiku dengan baik. Makanya dia cari istri lagi. Lagi pula, katanya poligami itu boleh kan?”

Aku berdecak, lalu menghela nafas panjang. “Bukan salahmu ah. Kok enak sekali, menimpakan kesalahan begitu.” Aku ingin memaki, tapi kutahan-tahan. Ada bayi kecil sedang tidur di kamarku. 
“Kalau aku ingin bercerai, apa itu baik? Suamiku tidak mau meninggalkan istri keduanya. Dan aku juga tidak mau berada dalam hubungan seperti itu. Lebih baik aku pergi. Tapi, yang kupikirkan adalah, anakku bagaimana?”

Aku ingat kakakku. Ia menggugat cerai suaminya yang ketahuan selingkuh. Anaknya baru dua tahun dan baru selesai disapih ketika keputusan pengadilan agama diketok. Tentu saja orang-orang juga menyalahkannya. Dibilang egois lah, dibilang kurang sabar lah, dikata-katain tidak bisa menjaga suami lah. Ya memangnya itu tugas istri doing. Enak bener jadi suami. 

Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apa sih gunanya pernikahan kalau pada akhirnya salah satu menyakiti, menduakan, atau membohongi. Tentu saja hubunganku dengan suami pun tidak baik-baik saja. Kami sering bertengkar dan saling berteriak. Tetapi setidaknya aku tahu, aku tidak akan melakukan penyelewengan. Entah dengan suamiku. Tentu saja aku berharap dia pun akan setia. Sampai kemudian pertanyaan itu menyelusup pelan, bagaimana jika hal sama yang terjadi pada kakakku atau Maria terjadi padaku.

Aku menatap wajah Maria yang matanya sembab. Aku memandang ke tempat tidur di kamar dari pintunya yang terbuka, melihat bayi gempal dan lucu yang belum genap setahun itu masih terlelap, dan merasa hatiku patah. Tapi bukankah begitu kepedihan bekerja, tidak pernah bisa kita duga. Ia bisa sekonyong-konyong datang merampas kebahagiaan yang rasanya baru sebentar. Pernikahan yang belum genap dua tahun. Usia bayi yang belum genap setahun. Dan kegagalan pernikahan bisa dengan mudah ditimpakan padamu, semata sebab kau perempuan. 

Menjadi janda juga tidak mudah. Tetapi, mana lebih baik dibanding menahan rasa sakit harus berbagi cinta dengan perempuan lain? 

Lalu aku ingat kata-kata suamiku bertahun yang lalu, ketika kami baru saja menikah. “Sayang, kamu tahu kan aku banyak kekurangan. Tapi, aku akan berusaha semampuku untuk tidak pernah menyakitimu, bagaimanapun bentuknya. Bukan karena aku cinta mati padamu, sebab cinta bisa berubah. Tetapi, aku tidak akan berani menyakiti seseorang yang melahirkannya pun aku tidak, mengasuh dan membesarkan juga tidak. Aku tidak hanya bersalah padamu, tetapi juga pada orang tuamu.”

Aku tahu, ingatan manusia begitu pendek. Mungkin suamiku juga tak lagi ingat dengan janji-janjinya. Dalam tujuh tahun pernikahan kami, sudah tak terhitung berapa puluh kali kami saling menyakiti satu sama lain. Saling berteriak dan menangis. Tapi aku tahu, ada limit yang tidak boleh kami lewati. Dan aku akan terus di sana selama batas itu tidak ia langgar sebab aku menghormati janji yang pernah kami ucapkan saat menikah dulu.


“Mai, kau tahu kan pendapatku soal yang begini-begini. Aku tidak pernah setuju dengan poligami. Apapun lah alasannya. Aku juga tidak akan pernah memaafkan perselingkuhan. Apapun alasannya. Tapi, keputusanmu tentu terserah padamu. Pikirkan saja kebahagiaanmu dan Aliya. Yang lain-lain dipikir belakangan. Bagaimana keputusanmu, aku akan selalu mendukung. Dan ingatlah, semua yang terjadi ini sama sekali bukan kesalahanmu.” Aku menggeser dudukku mendekatinya, lalu mengulurkan dua tanganku untuk memeluknya. Ia menangis keras. Meraung. Aku mengeratkan pelukan. Kudengar suara tangis Aliya dari dalam kamar menimpali tangisan Maria. 

Kau tahu, begitulah kau menghancurkan hidup perempuan. Kau menyakitinya, lalu bilang kalau itu salahnya. Dan selamanya, orang akan selalu mengingat kebesaran para lelaki. Lelaki perkasa dengan banyak istri, lelaki yang membelah lautan, lelaki yang menaklukkan konstantinopel. Dan melupakan perempuan-perempuan perkasa yang bertahan dan melewati rasa sakit melahirkan anaknya, dari perselingkuhan suaminya, dari poligami, dan dari penghakiman masyarakat. Narasi besar itu tidak pernah menjadi milik kita bukan, seberapapun kita meregang nyawa dan mempertaruhkan kewarasan untuk bisa terus bertahan hidup?
   
Depok, 20 Februari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *