Kamis, 04 Juni 2020

Resensi Buku Dear Tomorrow Notes to My Future Self, Maudy Ayunda


Judul buku: Dear Tomorrow, Notes to My Future Self
Penulis: Maudy Ayunda
Tahun Terbit: Fifth Edition, 2019
Penerbit: Bentang Belia Publishing House (PT. Bentang Pustaka)
Jumlah Halaman: xvii + 173 halaman
ISBN: 978-602-430-192-7
Genre: Nonfiksi, Motivasi
Peresensi: Hikmah Imroatul Afifah

I am one of those people who adore witty quotes and phrases.
I love being reminded by simple truths.
I love how short statements can strike a chord
in or mind and ove us to do something.

Begitulah Mod –panggilan akrab Maudy Ayunda- menuliskan sedikit gambaran dari dirinya. Maudy menggambarkan dirinya sebagai seorang yang menyukai kutipan-kutipan bijak dan kalimat-kalimat sederhana; yang mampu mengambil alih pikirannya, untuk kemudian membakar semangatnya agar bergerak. Perempuan cerdas yang satu ini juga menyampaikan bahwa dirinya amat senang jika ada “kebenaran sederhana” yang mengingatkannya. Nampaknya hal itu pula yang mendasari Maudy dalam menuliskan buku –yang disebutnya sebagai kompilasi pengalaman, pemikiran, dan dialog pribadi- ini. Sederhana, mengena. Barangkali dua kata tersebut mampu mendeskripsikan buku bergenre self improvement ini.
Saat pertama kali mengetahui Maudy Ayunda meluncurkan buku, jujur saja tidak ada niatan untuk meminang buku tersebut. Saya tidak punya bayangan apa-apa terhadap buku ini, selain kemungkinan isinya adalah kumpulan puisi. Namun akhirnya saya tergelitik untuk mencari buku tersebut di Gramedia. Semuanya berawal dari unggahan pembaca yang di-repost oleh Maudy di akun instagramnya. Buku bersampul tebal –yang di dalamnya juga terdapat foto-foto Maudy dan beberapa gambar yang ‘nyeni’- ini berhasil meruntuhkan benteng saya.

Buku ini memiliki packaging yang menarik, dan tentunya ‘nyeni’; seperti lembar per lembar tulisan di dalamnya. Saya tidak menyangka dengan bahasa pengantar yang dipakai oleh penulis. Seperti banyak buku-buku lainnya, saya mengira bahwa bahasa inggris hanya digunakan untuk menuliskan judulnya saja. Tetapi, saya salah besar. Maudy menuliskan pengalaman, pemikiran, dan dialog dengan bagian dirinya yang lain menggunakan bahasa inggris. Seolah ingin meneguhkan bahwa dia layak diterima oleh Harvard dan Stanford sekaligus, yang beberapa waktu lalu kabar tersebut sempat ramai di jagat maya.

Perkiraan saya perihal isi dari buku ini juga salah besar. Buku –yang saat saya membelinya (tahun lalu)- ini sudah memasuki cetakan ke lima sejak pertama kali dirilis, April 2018 lalu. Dugaan kuat saya, yang membuat buku ini dicetak kembali entah sampai berapa kali adalah isinya yang sederhana, namun mengena di hati para pembaca. Tepat seperti kesan pertama yang sudah saya tuliskan di awal. Sederhana dan mengena. Buku ini ditulis dengan amat mengalir. Pembaca dibuat seolah sedang berbicara langsung dengan penulisnya. 

Ada 4 bagian dalam buku ini. Notes on Being Yourself, Notes on Dreams, Notes on Love, dan Notes on Mindsets. Namun sebelum memasuki bagian pertama dari buku tersebut, Maudy mengawalinya dengan sebuah tulisan berjudul “About Me” yang berisi tentang sisi lain Maudy yang tidak diketahui banyak orang. Secara garis besar, buku ini mengajak pembaca untuk lebih mencintai diri sendiri dan tumbuh bersama lingkungan yang positif. Maudy juga berusaha mendobrak stigma bahwa kegagalan adalah sesuatu yang buruk. Di sini, pembaca diyakinkan bahwa gagal adalah sesuatu yang normal. Setiap perjalanan hidup, masing-masing individu lah yang paham betul. 

Barangkali buku ini bisa menjadi washilah agar para pembaca lebih bersyukur. Mencintai diri sendiri yang sudah diciptakan oleh Tuhan, sepaket dengan detil kebahagiaan dan kesedihan. Pada bagian notes on love, Maudy seolah ingin mengingatkan pada pembaca bahwa first step untuk mencintai diri sendiri adalah menerima dan memaafkan. Di bagian ini pula Maudy mengajak kita (baca: pembaca) untuk lebih selektif terhadap circle. Ejawantah selanjutnya dari bersyukur adalah dengan berani bermimpi. Impian tersebut akan menjadi isapan jempol belaka jika tidak diiringi usaha untuk menggapainya. Tetapi, lagi-lagi penulis mengingatkan bahwa kegagalan dalam menggapai mimpi adalah sesuatu yang normal terjadi. Tetap berterima kasih pada diri sendiri dan bangkit untuk melangkah kembali. Buku ini ditutup dengan bagian notes on mindsets, yang mengenalkan kita pada istilah “mindfulness”; agar kita –para pembaca- paham betul dengan keputusan yang kita buat, serta lebih menghargai pendapat orang lain.

Akhir kata, membaca buku ini seperti berdiskusi dengan Maudy Ayunda. Buku yang ditulis dengan bahasa amat mengalir dan juga menyajikan pertanyaan yang patut direnungkan di tiap awal bagiannya. Semoga setelah membaca buku ini, mencintai diri sendiri bukan dipandang sebagai sesuatu yang buruk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *