Rabu, 24 Juni 2020

Resensi Buku Homo Deus, Yuval Noah Harari

Manusia Bak Dewa



Judul Buku: Homo Deus, masa depan umat manusia
Penulis: Yuval Noah Harari
Penerjemah: Yanto Musthofa
Penerbit: Alvabet
Edisi bahasa: Indonesia
Cetakan: Pertama, Mei 2018 
Tebal: 540 halaman
Genre: filosofi, sejarah
Peresensi: Aida Mudjib


Jika manusia tak punya jiwa; jika pikiran, emosi dan sensasi hanya algoritma biokimiawi; mengapa biologi tidak bisa mengendalikan semua tingkah laku masyarakat manusia? [h. 173]  

Tentang Penulis

Yuval Noah Harari adalah seorang sejarawan, filsuf, dan penulis salah satu koleksi buku terlaris Sapiens: Sejarah Singkat Manusia, Homo Deus: Sejarah Singkat Masa Depan, dan 21 Pelajaran untuk Abad ke-21. Lahir di Haifa, Israel, pada tahun 1976, Harari menerima gelar PhD dari University of Oxford pada tahun 2002, dan saat ini menjadi dosen di Departemen Sejarah, Universitas Ibrani Yerusalem. Buku-bukunya telah terjual lebih dari 25 Juta kopi di seluruh dunia.

Tentang Buku

Buku kedua trilogy sejarah karya Harari. Melanjutkan akhir Sapiens yang pada bab akhir buku, Harari menulis bahwa para penguasa dunia di masa depan mungkin akan lebih berbeda dari kita daripada kita berasal dari Neanderthal. Kalau kita dan Neanderthal setidaknya manusia, pewaris kita akan seperti dewa.

Di sinilah sekuel Harari, Homo Deus,' muncul. Seperti Sapiens, buku ini hidup, provokatif dan hits di antara ‘puh’ dan ‘bah’. Harari, seorang sejarawan di Hebrew University of Jerusalem, memiliki bakat untuk mensintesis bahan dari berbagai disiplin ilmu dengan cara-cara yang diilhami dan menginspirasi. Tapi argumennya yang terlihat mulus, masih mengandung banyak hal yang bisa dijatuhkan. 

Tetapi pembaca harus siap: Hampir setiap pernyataan yang dibuat Harari –seperti individu bebas hanyalah fiksi yang dibuat oleh kumpulan algoritma biokimia, telah menjadi subjek eksklusif dari buku-buku yang jauh lebih bernuansa  seperti Michael S. Gazzaniga's “Who's in Charge?”

Homo Deus menceritakan bahwa kita sekarang berada pada titik waktu yang unik dalam kisah spesies kita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Harari menulis “hari ini lebih banyak orang mati karena makan terlalu banyak daripada makan terlalu sedikit; lebih banyak orang meninggal karena usia tua daripada karena penyakit menular; dan lebih banyak orang melakukan bunuh diri daripada yang dibunuh oleh tentara, teroris, dan penjahat.

Harari berpendapat bahwa setelah tidak lagi diliputi rasa cemas karena kelaparan, wabah dan perang, manusia sekarang dapat mengarahkan pandangan pada tujuan yang lebih tinggi. Kebahagiaan kekal, kehidupan abadi. Dalam mencari kebahagiaan dan keabadian, tulisnya, manusia sebenarnya berusaha meningkatkan diri mereka menjadi dewa. Harari membayangkan bahwa dalam upaya memperbaiki diri kita untuk mencapai kesempurnaan—pendewaan logis dari humanisme, yang sejarah dan evolusinya dia telusuri di banyak halaman—kita akan menghancurkan humanisme itu sendiri.

Perayapan lambat menuju lembah yang aneh sudah dimulai. manusia meminum pil untuk kesehatan yang optimal dan memilih embrio dengan peluang terbaik untuk hidup. Melemparkan kemajuan dalam rekayasa biologi dan cyborg.
Perubahan relatif kecil pada gen, hormon, dan neuron, kata Harari, sudah cukup untuk mengubah Homo erectus —yang cuma bisa menghasilkan pisau batu api—menjadi Homo sapiens, yang memproduksi pesawat ruang angkasa dan komputer. Mengapa kita harus berasumsi bahwa Sapiens adalah akhir dari garis evolusi?

Menutup buku ini membuat saya berpikir, Jika kita bukan yang terakhir, apa yang terjadi selanjutnya?

Jawabannya bias jadi masa depan yang tidak seperti serunya Alice in Wonderland. 

Mungkin aka nada sebuah republik kecil yang terdiri dari manusia super dan techno-elite yang memisahkan diri dan akan terpisah dari umat manusia biasa. 

Mereka yang memperoleh keterampilan dan algoritma untuk merekayasa ulang otak, tubuh, dan pikiran—produk utama abad ke-2—akan menjadi dewa, golongan mereka yang tidak memiliki hal tersebut akan dianggap tidak berguna secara ekonomi dan nantinya mati.

Ini membuat saya teringat pada pernyataan Bill Gates bahwa dalam rangka mencegah penularan covid-19, nantinya untuk memasuki suatu negara, akan diperlukan sertifikat kesehatan digital. Pernyataan yang bisa berarti awal dari penanaman microchip pada manusia.

Hemmm… Spooky.

Jombang, 4 Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *