Rabu, 08 Juli 2020

Resensi Buku Gusti Mboten Shareloc, Embah Nyutz



Judul Buku: Gusti Mboten Shareloc
Pengarang: Embah Nyutz
Penerbit: DIVA Press
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 168
Genre: Fiksi, cerpen
Nama Peresensi: Uswah

Gusti Mboten Shareloc adalah buku ke-6 yang ditulis Tri Wibowo BS. Tidak seperti kelima buku lainnya yang memakai nama asli penulis, buku kali ini memakai nama pena Embah Nyutz, sebagaimana sapaan akrab di beberapa media sosialnya. 

Gusti Mboten Shareloc diidentifikasikan penulis sebagai kumpulan cerpen main-main dan beberapa cerita tidak jelas lainnya. Agaknya deskripsi ini cukup benar setelah saya berhasil mengkhatamkannya dalam sekali duduk sambil menikmati secangkir kopi. Terutama ketika membaca cerpen pertama dengan judul Cerita Menyebalkan di Hari Jumat. Saya menduga cerita tersebut adalah kisah sial yang dialami penulis sendiri. Cerpen yang ditulis berikutnya sudah mulai tertib dan sudah selayaknya cerpen.

Ada 19 cerpen dalam buku Gusti Mboten Shareloc, beberapa di antaranya memang cerpen main-main. Tapi percayalah, di setiap cerpen yang ditulis terdapat hikmah yang tersembunyi. Contohnya seperti cerpen Anak: Kisah Tiga Rumah. Menceritakan pergulatan emosi 3 keluarga dalam memaknai kehadiran seorang anak. Sepasang suami istri berdebar-debar menunggu hasil tespack dan ternyata masih negatif, sedangkan di sebuah keluarga sepakat untuk menggugurkan kandungan istri karena alasan ekonomi, di sisi lain seorang bayi ditemukan menangis di dalam kardus yang dibuang oleh orangtuanya.  

Beberapa kisah mistis tidak luput dituangkan dalam buku ini, seperti cerpen Merak di Langit, Legenda Monumen Lilin, Bersama Ayah. Ada cerpen yang cukup menggelitik yaitu Musyawarah Iblis, kisah geramnya bangsa setan karena bangsa manusia menyabotase sifat setan yang gemar menunjukkan jalan kesesatan. Setan dan iblis pun menjadi makhluk pengangguran. 

Cerpen Menjadi Penyair dan  Mimpi Hujan kalau boleh menafsirkan, adalah kritik penulis terhadap sastra indie yang merebak di sosial media. Penggunaan kata “senja” sebagai hal yang mendayu-dayu, patah hati juga rindu.

"Bukankah senja itu juga sering digunakam sebagai majas untuk usia uzur? Seperti dalam ungkapan "orang berusia senja," yang berarti perjalanan hidupnya sudah mendekati rumah masa depan alias kuburan." (Hal. 92)

Juga kata “hujan” yang menjadi metafor dari kesedihan, kenangan, air mata. 

“Apakah engkau tak melihat rerumputan bersujud syukur karena kubasahi? Apakah engkau tak menyaksikan daun-daun di pepohonan menari gembira bersama angin dalam tirai airku? Tidakkah kau menyaksikan tanah-tanah kering seakan hidup lagi? Kau tahu, karena akulah maka mereka bergembira merayakan hidup. Lantas bagaimana bisa aku dianggap sebagai kesedihan?” (Hal. 99)

Membaca dua cerpen tersebut mengingatkan saya pada lagu senja tahi anjing. Dan bagi saya sendiri yang berusia hampir senja, hujan mengingatkan saya kepada indomie goreng dikasih irisan cabe tipis-tipis, juga pada jemuran yang tak kunjung kering. 

Bagian yang paling menarik dalam kumpulan cerpen ini adalah Cara Lain Menyeduh Kopi, saya mengamini semua hal yang diceritakan dalam cerpen ini tentang kopi, baik dari takaran kopi dan gula, jenis gula kekuningan atau mangkak kalau kata orang Jawa, cara mengaduk berlawanan arah jam, blukuthuknya air yang mendidih untuk menyeduh kopi, juga doa, tawassul dan selawat yang dirapalkan ketika menikmati kopi. Ini saya banget.

Di beberapa akhir cerpen dalam buku ini, penulis mulai kumat cengengesannya dengan menulis kisah tentang Tukang Suwuk Mbelgedhes, Di Gerbong Kereta Masa Lampau, Cerita-Cerita Tidak Jelas. Cerpen terakhir berjudul Gusti Mboten ‘Shareloc’ menjadi pilihan penulis untuk menamai buku ini. Buku ini memang tidak ‘cetha’ karena banyak pisuhannya, tapi di situlah segi menariknya, ada ajaran tasawwuf yang berserakan di setiap ceritanya jika pembaca mau memunguti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *