Minggu, 30 Agustus 2020

Resensi Buku Serat Cantigi, E. Rokajat Asura


Judul buku: Serat Cantigi
Penulis: E. Rokajat Asura
Cetakan pertama: maret 2018
Jumlah halaman: 298
Penerbit: Mojok
Genre: Novel
Peresensi: Sarifah

Pada saat pakaian keluarga kami penuh lumpur, aku tak perlu teriak-teriak meminta mereka membersihkannya. Dengan berbahasa aku berhasil menjadi bagian dari mereka yang mengotori pakaian keluarga kami itu. Pada akhirnya tanpa aku meminta, mereka sendirilah yang membersihkannya.

Di bab pertama novel ini pembaca akan disuguhkan dengan kalimat yang begitu menawan, kalimat di atas serasa relate banget dengan kehidupan kita, sebagai motivasi pembuktian keberhasilan kita, ajang balas dendam yang elegan ketika kita dianggap sebelah mata atau disepelekan oleh orang lain.

Ujang, tokoh utama dalam novel ini menghadapi pergulatan batin dengan ayahnya, berbagai macam pertanyaan dan juga ketidakadilan yang ia terima membuatnya bertekad menyelidiki gerangan apa yang menjadikannya seperti ini? Namun malang, belum sempat Ujang mencari tahu, ayahnya meninggal dunia karena sakit keras dalam keadaan perekonomian yang sulit. 

Setelah ayahnya meninggal dunia, tradisi tahlillan membuat keluarganya semakin kesusahan dalam menjamu jamaah tahlilan, membuat Ujang semakin memprotes tradisi tersebut "Islam datang untuk menyelamatkan manusia, Mak! Setiap amal disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tak terkecuali tahlilan ini. Jangan sampai memberatkan! Kenapa memaksakan diri?” Ucap Ujang kepada ibunya yang hanya mampu menyuguhi singkong rebus dan air putih saat tahlilan. 

Ujang kerap kali mendapatkan perilaku tidak adil dari masyarakat. Mulai dari susah masuk daftar beasiswa sekolah hingga tidak direstui orangtua dari perempuan yang ia sukai, kehidupannya selalu dicurigai, termarginalkan, dan diskriminasi.

Selain Ujang, adapula Ayah Si Tuduh, salah satu oknum yang terlibat dalam pemberontakan DI/TII. Ketidakadilan yang mereka peroleh seperti kehilangan hak suara pada setiap pemilu, bahkan tidak pernah dilibatkan dalam tatanan kemasyarakatan setempat.

Buku ini banyak mengulas tentang kehidupan orang-orang yang merupakan korban dari Tulis Tonggong (istilah populer pada masa pemberontakan PKI DI/TII), yaitu seseorang yang tak tahu-menahu tentang organisasi terlarang oleh pemerintah, namun namanya tercatat sebagai pendukung gerakan pemberontakan tersebut.

Novel berlatar sejarah, ahhh... Kamu harus membacanya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *