Rabu, 23 September 2020

Resensi Buku Berdiri di Kota Mati, Maria Fauzi


Judul Buku: Berdiri di Kota Mati
Penulis: Maria Fauzi
Jumlah Halaman: 224
Penerbit: Gading
Tahun Terbit: 2020
Genre: Fiksi
Peresensi: Nur Kholilah Mannan

Hamdalah saya sudah menyelesaikan perjalanan istimewa, dimulai dari Mesir, menyusuri tapak sejarah Islam, Kristen dan Yahudi di Istanbul, venesia dan Cordoba. Kesemuanya kulewati dalam 42 jam. Ya, karena penulis buku Berdiri di Kota Mati, Maria Fauzi, telah menjelaskan cukup detil tentang empat kota itu, membuat dahaga hasrat travellingku lumayan terobati. 

Maria Fauzi yang memulai perjalanannya dari Mesir telah menyeret imajinasiku ikut serta dalam perjalanannya, emosiku juga ikut tersulut saat membaca kalimat-kalimatnya yang mengkritik dekadensi moral yang justru tumbuh subur di kota para nabi. 

Sebaliknya, membuat senyumku sumringah saat membaca deskripsi dialog antar budaya yang bukan hanya beragam bahkan bertolak belakang namun tidak menjadi alasan perselisihan, alih-alih pertengkaran apalagi permusuhan. 

Banyak hal berharga yang dapat saya ambil dari buku ini, jika Kalis menyebut tulisan Maria Fauzi ini informatif dan sarat dengan perspektif yang tidak dimiliki oleh sembarang orang, Iqbal menyebutnya buku penjelajahan yang merepresentasikan kejelian mata Maria Fauzi dalam menilik setiap sudut tempat yang ia singgahi hingga berakhir pada sudut-sudut tersunyi Maria sendiri, maka saya lebih tertarik pada testimoni Aguk Irawan dan Afifah Ahmad yang sedikit menyinggung perempuan. 

Ada dua alasan yang membuat buku ini langka dan penting dibaca; pertama, ditulis oleh perempuan muda yang kaya refleksi dan referensi. Kedua, tulisan memuat kisah-kisah perempuan yang memberi perspektif  berbeda dan penuh nas.

Lebih dari itu, buku ini menurut saya adalah reprsentasi dari pasangan resiprok. Maria Fauzi dan suaminya sama-sama menjadi subjek dari sebuah perjalanan intelektual dan ideologi. Keduanya saling membantu menyempurnakan hidup masing-masing. Bahwa setiap manusia berhak menjadi subjek dari kesuksesan hidupnya. Maria, suami dan bayi kecilnya tidak akan melewati pengalaman-pengalaman luar biasa di beberapa kota jika tidak ada kesalingan yang kuat, sikap saling mendukung dari semua pihak dan kepercayaan yang utuh untuk menunjang setiap langkah yang dijalani. 

Bukan hal mudah memegang peran ganda dalam tatanan sosial. Menjadi ibu rumah tangga sekaligus menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi. Dua hal ini bisa berjalan bergandengan tanpa saling menyikut apalagi mengalahkan, tidak bertentangan malah bisa saling mendukung. Semua perempuan harus baca ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *