Sabtu, 31 Oktober 2020

Resensi Buku Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku, Muhidin M. Dahlan

 Menjelajahi Dunia Resensi Buku dari Sejarah hingga Tips dan Trik

 


Judul​​: Inilah Resensi: Tangkas Menilik dan Mengupas Buku

Penulis​​: Muhidin M. Dahlan

Penerbit​: I:BOEKOE

Tahun Terbit​: Februari, 2020

Tebal​​: 256 halaman

Jika Anda ingin mengetahui seluk beluk dunia resensi buku mulai dari sejarahnya hingga kiat menulis resensi yang layak muat di media nasional, maka buku inilah jawabannya. Muhidin M. Dahlan, penulis buku ini, telah menjajaki dunia resensi buku selama dua dekade lebih. Gus Muh, panggilan akrabnya, juga telaten mengarsip dokumen-dokumen kebudayaan di laman warungarsip.co termasuk resensi dari para pesohor. Pengalaman dan kekuatan data adalah dua faktor yang membuat buku ini kaya.


Tak tanggung-tanggung, buku ini mengajak pembaca menilik resensi milik Tirto Adhi Soerjo bertarikh 1902, Sukarno, Hatta, hingga yang termutakhir tulisan Nirwan Dewanto pada 2015. Ia juga mengupas aneka gaya resensi di berbagai media nasional. Total ada hampir 250 resensi yang menjadi rujukan buku ini.


Pertama-tama, Gus Muh mengingatkan bahwa resensi adalah pembacaan yang intens pada sebuah buku. Menurutnya, membaca yang baik dalam konteks meresensi adalah membaca yang direncanakan dalam sekuens waktu tertentu; bisa satu semester maupun dua semester. (hal. 10-11) Perencanaan bacaan bisa didasarkan atas kesamaan topik, penulis, maupun waktu buku terbit. Dengan merencanakan bacaan, seorang peresensi akan fokus dan menajamkan perspektifnya pada satu topik tertentu. Ini akan membuat resensi yang ditulis semakin berbobot. Tentu saja, pariwara buku-buku baru yang berseliweran di linimasa bakal menjadi godaan terberat jika benteng perencanaan ini tidak kuat.


Pada satu bab khusus, Gus Muh mencontohkan sejumlah tokoh dengan ketekunan membaca di atas rata-rata. Mereka berstrategi fokus di bidang keahliannya hingga menghasilkan karya-karya resensi yang luar biasa. Antara lain adalah Sukarno, sang proklamator yang ternyata juga peresensi buku. Sebelum kemerdekaan, ia aktif ‘menilik’ –istilahnya untuk resensi, buku-buku terkait perpolitikan Eropa. Menulis resensi adalah upayanya menyelami peristiwa politik sekaligus memberi tanggapan. Dua buku dengan topik yang sama bisa ia resensi sekaligus dalam sebuah tulisan. Bukan tidak mungkin, ketekunan Sukarno dalam membaca dengan intens inilah yang mengasah pemahamannya akan geopolitik dunia hingga mengantarkan Indonesia ke gerbang kemerdekaan.


Nama-nama lain yang disebut di antaranya seorang bangsawan dari Surakarta, Purbatjaraka, peresensi yang tekun untuk kitab-kitab Jawa kuno dan Sansekerta. Ada juga ekonom Sumitro Djojohadikusumo yang memilih jalan meresensi buku-buku babon ekonomi dunia. Sedangkan, HB. Jassin, namanya masyhur sebagai paus sastra atas kerakusannya menelaah karya-karya sastra Indonesia. Di bidang sejarah, ada P. Swantoro yang meresensi lebih dari 100 buku mulai dari sejarah Hindia Belanda hingga kemerdekaan. Ia mengelompokkan sejumlah buku di tiap-tiap periode sejarah Indonesia.


Selanjutnya, Gus Muh menunjukkan bahwa resensi tidak sekadar menulis hasil bacaan atas sebuah buku, tapi lebih jauh, bisa menjadi polemik berkepanjangan sekaligus senjata untuk ‘membunuh’ sebuah buku. Ia mencatat setidaknya ada sembilan ‘peristiwa buku’ yang menyedot perhatian sejak masa pra kemerdekaan. Di antaranya adalah resensi yang menuduh Hamka plagiat atas novelnya ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’. Gelombang kritik terhadap karya Hamka ini salah satunya dilayangkan oleh Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, geger juga terjadi saat peluncuran buku autobiografi BJ. Habibie dan buku ‘Gurita Cikeas’ karya George Junus Aditjondro.


Kehebohan dua buku tersebut tak lain karena membuka skandal para jenderal. Seperti nama Wiranto dan Prabowo yang banyak disebut oleh Habibie di sekitar peristiwa reformasi, serta korupsi yang dituduhkan kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Sejumlah media nasional ramai-ramai meresensi buku-buku ini. Bahkan, Tempo menurunkan tujuh tulisan untuk meresensi autobiografi BJ. Habibie diikuti dengan liputan investigasinya yang khas.


Sementara itu, petisi atas buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia yang Paling Berpengaruh’ yang meletakkan nama Denny J.A. di posisi ke-30 menjadi polemik sastra yang berbuntut panjang. Petisi itu sendiri bagi Gus Muh adalah sebuah resensi yang tajam.


Pada bab terakhir, di sebanyak 100 halaman, Gus Muh membeber tips-tips menulis resensi. Anatomi di tubuh resensi dibedah mulai dari menampilkan halaman kolofon (yang berisi identitas buku), membuat judul, paragraf pembuka, isi, hingga paragraf penutup. Bagian ini adalah hasil pengamatan Gus Muh atas ratusan resensi di media massa. Membaca bagian ini kita akan tahu bahwa tidak ada rumus baku dalam menulis resensi. Pilihan gaya resensi terbuka lebar bagi peresensi dan tentu saja menyesuaikan media mana yang dituju.


Peresensi bisa membuat judul yang menggelegar, mengambil poin terpenting dari buku, maupun yang bernada ironi atau kontradiksi. Demikian pula di paragraf pertama, peresensi bisa menampilkan kutipan, memulai dengan garis besar isi buku, penulis buku, atau langsung melontarkan kritik. Peresensi bisa memilih membangun narasi di tubuh resensi melalui kisah pribadi peresensi, karya-karya lain dari penulis yang sama, kebaruan dan keunikan tema, atau cerita yang menonjol.


Di penghujung resensi, penulis boleh mengakhirinya dengan kesimpulan, kepada siapa buku ditujukan, kritik atau pujian, hingga sumbangan buku. Tiap-tiap pilihan disertai contohnya dalam buku ini. Pun, setiap opsi tentu saja mengandung konsekuensi masing-masing.


Buku ini tidak diragukan lagi merupakan buku pegangan bagi mereka yang ingin menggeluti dunia resensi dengan serius. Meskipun dalam penulisannya ada satu bagian kecil yang tidak sesuai antara subjudul dan pembahasan, hal itu tidak mengurangi kualitas buku ini.


Kerja-kerja dokumentatif yang dilakukan Gus Muh dan rekan-rekan, sebagaimana mengumpulkan naskah-naskah resensi yang terserak dari zaman ke zaman sangat layak diapresiasi. Berkat ketelatenannya, kita bisa melihat jagad literasi secara lebih luas. Kita doakan semoga proyek pengarsipan yang dibina penulis buku ini panjang umur!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *