Sabtu, 26 Desember 2020

Resensi Buku Kisah Ulama Pendiri Bangsa, Nabilah Munsyarihah


Judul buku: Kisah Ulama Pendiri Bangsa

Penulis: Nabilah Munsyarihah

Penerbit: Semesta Kreatif Alala

Tahun terbit: Agustus 2020

Jumlah halaman: 80

Genre: Nonfiksi, literatur anak, literatur Islam

Peresensi: Uswah


Setiap ada yang menawarkan buku anak, saya selalu tertarik untuk membeli dengan tujuan mengenalkan literasi sejak dini kepada anak. Saya menerapkan filtrasi sebelum menyerahkan buku bacaan kepada anak mengingat tidak semua buku genre literasi anak layak dibaca oleh anak-anak. Terutama buku-buku keagamaan.


Kisah Ulama Pendiri Bangsa yang ditulis Nabilah Munsyarihah pertama kali ramai ditawarkan di media sosial facebook oleh beberapa agen Alala. Alala mulanya adalah vendor kaos dengan tema Nahdlatul Ulama, kecintaan owner Alala kepada literasi yang kemudian menggerakkannya untuk menulis buku dalam naungan penerbit Semesta Kreatif Alala. Buku dijual dengan sistem prapesan. 


Ketika paketan sampai, anak saya begitu antusias membukanya, selain buku ada juga masker, stiker dan poster Aku Anak Aswaja. Sepaket buku tersebut dikemas dalam kardus hamper yang menggemaskan. Kabar gembiranya, harga buku terjangkau dengan kualitas memukau. 



Maulana, 6 tahun

Buku disukai anak karena warnanya yang menarik dan ilustrasi khas anak-anak


stiker pelengkap

"Maulana cita-citanya apa?" Tanyaku pada anakku, "Tidak ingin jadi apa-apa", jawabnya. Baiklah, Nak. Apa pun yang kau inginkan kelak, semoga menjadi anak sholih yaa..

Buku yang penuh warna dengan ilustrasi khas anak-anak ini diawali dengan kisah Perang Diponegoro yang melibatkan pasukan santri melawan Belanda. Sayangnya, pasukan santri kalah dan menyebar ke berbagai wilayah pedalaman di bagian Jawa Timur, Tengah, dan Barat. Dan termasuk dalam pasukan santri, tersebutlah nama Kiai Abdussalam Jombang. 


Membicarakan NU tentu tidak luput dari Kiai Hasyim Asy’ari yang memiliki keistimewaan sejak dalam kandungan Nyai Halimah, keturunan Kiai Abdussalam, Kiai Hasyim Asy’ari menghabiskan masa mudanya dengan belajar di pesantren ayahnya, Kiai Asy’ari. Kiai Hasyim juga nyantri di beberapa pesantren Nusantara hingga Mekkah. Para guru Kiai Hasyim di antaranya adalah; Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Ya’qub Siwalankerto Sidoarjo, Syekh Mahfudz Atturmusi Tremas, dan ulama di sekitar Masjidil Haram. Kiai Hasyim menjadi ulama besar ahli hadis yang sanadnya bersambung hingga Imam Bukhori. Kiai Hasyim merintis pesantren di Tebuireng, ketika santer terdengar kabar pesantren Tebuireng dibakar, dua sahabat yang berada di Hijaz (sebutan untuk wilayah Mekkah Madinah kala itu), Syekh Mahfudz Atturmusi dan Syekh Khotib Al-Minangkabawi mengirimkan bantuan ke Tebuireng sehingga pesantren kembali berdiri delapan bulan kemudian. Selain Syekh Mahfudz dan Syekh Khotib, ada juga Kiai Wahab dan Kiai Bisri yang ikut menyibukkan diri dengan mengaji kepada ulama Nusantara di Mekkah. 


“Saat itu, semua muslim dari berbagai bangsa dipandang sama dan setara. Tidak heran jika saat itu, ulama Nusantara diakui keilmuannya di Mekkah” (hal. 34)


Selain teman seperjuangan, Kiai Wahab dan Kiai Bisri juga menjadi saudara ipar karena Kiai Bisri menikah dengan Nyai Khodijah yang merupakan adik dari Kiai Wahab. Karena Perang Dunia I pecah di Eropa dan berdampak pada kondisi di Mekkah, maka Kiai Wahab dan Kiai Bisri beserta istri pulang ke Indonesia.


Sepulangnya ke Indonesia, Kiai Bisri mendirikan pesantren di Denanyar dan Kiai Wahab mengajar di Pesantren Tambakberas pimpinan ayahnya yang merupakan kelanjutan dari pesantren Kiai Abdussalam, pindahan dari Gedang. Setelah itu Kiai Wahab menikah dan berjuang di Surabaya mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan bersama Kiai Mas Mansur. Lagu yang sering kita dengarkan “Ya Lal Wathan...” merupakan lagu ciptaan Kiai Wahab yang dinyanyikan para pelajar Nahdlatul Wathan sebelum pelajaran dimulai. Kiai Wahab selalu melaporkan perkembangan madrasahnya kepada Kiai Hasyim sebagai ulama yang berpengaruh, tidak hanya fokus kepada pendidikan, perekonomian juga menjadi perhatian Kiai Wahab dan Kiai Hasyim, maka dibentuklah Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar) untuk kesejahteraan para pedagang. 


Pada sekitaran tahun 1924, merebaklah pendapat yang menyalahkan amalan kaum santri, seperti ziarah kubur, memperingati maulid Nabi, dsb. Para santri menjadi resah sebab adanya beberapa tuduhan kafir dari berbagai pihak yang berbeda madzhab dan pemikiran. Berkembangnya pemikiran yang menyalahkan amalan tradisi para santri tidak hanya subur di Nusantara, namun juga di Mekkah terutama sejak pergantian raja.


Karena perbedaan semakin meruncing, Kiai Wahab dan Kiai Bisri meminta pendapat dari Kiai Hasyim untuk mendirikan organisasi yang mampu menghadapi cobaan dari luar dalam berdakwah. Setelah mendapatkan restu dari guru Kiai Hasyim, Kiai Kholil Bangkalan melalui istikhorohnya, maka bergegas Kiai Wahab dan kawan-kawan mengundang para kiai di Jawa dan Madura untuk mendirikan organisasi baru di ndalem Kiai Ridwan daerah Bubutan, Surabaya. Tanggal 31 Januari 1926, kiai dari berbagai daerah datang ke Surabaya. Tersebutlah beberapa nama ulama; Kiai Faqih Maskumambang, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Mas Alwi Surabaya, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Nawawi Sidogiri, Syekh Ghonaim Al-Mishry, Kiai Ndoro Muntaha Madura, Kiai Abdul Halim Cirebon, dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar, dan Nahdlatur Tujjar. 


Akhirnya disepakatilah organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (NU) dan Kiai Hasyim terpilih menjadi Rois Akbar atau Pemimpin Besar, nama Nahdlatul Ulama diusulkan oleh Kiai Mas Alwi. Kiai Hasyim menekankan bahwa NU adalah organisasi yang lurus, menyantuni yang lemah, dan berdakwah dengan cara yang baik. Tanggal 31 Januari diperingati sebagai Kelahiran Nahdlatul Ulama


Organisasi Islam NU awalnya dibentuk untuk menghadiri muktamar di Mekkah, namun tidak hanya itu, NU juga merupakan organisasi yang menjadi penjaga ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 22 Oktober 1945 Kiai Hasyim menyerukan Resolusi Jihad santri untuk bertempur melawan Belanda. Maka dari itu, tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional.


Tanpa disadari, sebagian besar dari Kiai yang hadir dalam rapat pembentukan organisasi NU adalah keturunan pejuang Laskar Diponegoro yang tercerai berai setelah perang.


Singkat, padat, dan bergizi! Mungkin 3 kata itu yang bisa saya deskripsikan. Penulis yang merupakan 'darah biru' muassis NU ini sangat cerdas mengemas kisah yang berkesinambungan dan mengalir begitu saja. Saya bahkan tidak menyangka bahwa Perang Diponegoro menjadi pilihan penulis mengawali kisah dalam buku ini, dan cerita diakhiri dengan berdirinya organisasi NU yang anggotanya juga merupakan keturunan ulama yang tercerai berai saat perang Diponegoro. 


Buku ini didesain sebagai buku untuk anak-anak, tapi menurut saya masih memerlukan bimbingan orang tua atau guru dalam memahami isinya karena masih banyak istilah-istilah yang kurang bisa difahami oleh anak-anak. Anak saya yang berusia 6 tahun membaca buku ini tidak langsung faham dengan isinya, dia membaca dan menyukai gambarnya yang berwarna, tetapi masih banyak pertanyaan darinya begitu membaca tiap-tiap cerita. Hal yang sama dialami oleh keponakan saya yang berusia 9 tahun. Namun pengalaman anak dan keponakan saya bisa berbeda dengan pengalaman anak lain. Mungkin untuk lebih mudah diterima oleh anak-anak yang masih dalam fase belajar membaca bisa dicoba dengan narasi yang lebih ramah anak, dan narator dalam cerita tidak menggunakan point of view orang ketiga, melainkan menggunakan orang pertama yakni "aku", seperti; namaku adalah Hasyim Asy'ari, aku biasa dipanggil Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, ketika dalam kandungan ibuku, Nyai Halimah, ibuku bermimpi...dst. Ini hanya usulan barangkali dipertimbangkan oleh penulis. 


Kisah yang paling berkesan bagi anak saya adalah lagu Ya Lal Wathan, karena dia hafal Ya lal Wathan sejak belum lancar berbicara. Ketika saya menjelaskan sejarah lagu Ya Lal Wathan dia cepat menangkap. Sebagai orang tua, saya sangat bahagia sekaligus terharu ada generasi NU yang menuliskan sejarah NU dengan nuansa kanak-kanak. Semoga buku ini selain menjadi amal jariyah bagi penulisnya, juga sebagai pionir dan sumber inspirasi bagi para penulis buku anak-anak untuk dapat melakukan hal yang sama. Tentunya sangat membahagiakan apabila anak-anak mengidolakan para ulama sebagai waratsah al-Anbiya’.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *