Minggu, 28 Februari 2021

Resensi Buku The Sun Is Also A Star, Nicola Yoon



Judul Buku: The Sun Is Also A Star
Penulis: Nicola Yoon
Penerbit: Ember, Random House
Tahun Terbit: 2016
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 346
Peresensi: Iffah Hannah

Apakah kamu percaya dengan cinta pada pandangan pertama? 

Novel “The Sun Is Also A Star” bercerita tentang Natasha, perempuan kelahiran Jamaika yang tumbuh besar di Amerika. Usianya masih belasan tahun dan ia bahkan belum kuliah. Ingatannya tentang Jamaika hanya samar belaka. Baginya, ia adalah orang Amerika. Tapi, hari itu, ia dipaksa menerima kenyataan bahwa malam itu juga ia harus segera meninggalkan negara yang sudah menjadi rumahnya karena ketahuan kalau ia dan keluarganya bertahun-tahun menjadi imigran ilegal. Dengan marah dan putus asa, pagi itu Natasha pergi dari rumahnya, sebuah apartemen kecil berkamar satu, untuk memperjuangkan dirinya, ayah, ibu, dan adik lelakinya supaya tetap bisa tinggal di Amerika secara legal.

Bagi Natasha, hari itu merupakan hari yang sangat buruk karena selain harus segera meninggalkan Amerika beberapa jam kemudian, ia bahkan terlambat bertemu dengan petugas imigrasi yang diharapkan bisa menolongnya mengurus dokumen tinggal. Ia menyalahkan Irene, penjaga keamanan kantor itu, yang ia anggap memperlambatnya di pintu depan. Sementara itu, dari sudut pandang Irene sendiri, selain berupaya untuk melakukan tugasnya, ia adalah seorang pekerja yang putus asa dengan pekerjaannya. Ia merasa tak ada orang yang menganggapnya ada apalagi memperhatikannya. Sehingga, perlakuannya memeriksa para pengunjung kantor dengan seksama itu juga semacam pernyataan tak terungkapkan bahwa ia ingin dianggap ada. Kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang berkomunikasi dengannya, baik dengan menyapa atau menatap matanya membuatnya semakin depresi. Dan detik itu juga, Irene memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sesegera mungkin. Betapa rumitnya diri manusia ya… kita tidak pernah tahu apa yang berkecamuk dalam pikiran masing-masing orang dan sering menghakimi atau menilai dengan sudut pandang kita saja. Kita juga kerap lupa untuk berlaku lembut kepada orang-orang yang kita temui, padahal bisa saja seulas senyum tulus dan sapaan singkat dari kita bisa menyelamatkan nyawa seseorang ya…

Karena terlambat bertemu dengan petugas imigrasi, harapan Natasha untuk bisa tetap tinggal di Amerika terasa semakin mustahil. Sampai akhirnya salah seorang petugas menyarankannya untuk menghubungi salah seorang pengacara yang mungkin bisa membantunya. Harapan itu kembali menyala. Tidak hanya itu, perjalanannya menuju kantor pengacara ini mempertemukannya dengan Daniel, lelaki Korea-Amerika yang membuatnya jatuh cinta.

Pertemuan Natasha dan Daniel nampaknya merupakan seri kebetulan-kebetulan yang tak masuk akal. Tetapi, cinta macam apa sih yang masuk akal di dunia ini? Mereka bertemu tanpa sengaja lalu berjalan bersama selama berjam-jam, saling mengenal dan akhirnya saling jatuh cinta. Mirip kisah trilogi “Before Sunrise” ya? “Before Sunrise” minus persoalan ras dan imigran ilegal. 

Natasha adalah seorang realis. Baginya, hidup ini ya serangkaian sebab-akibat dan gejala-gejala saintifik. Segala hal memiliki penjelasan ilmiah. Ia tak percaya dengan cinta, apalagi cinta pada pandangan pertama. Tapi, bagi Daniel, yang digambarkan sebagai seorang hopeless romantic, hidup ini ya ngga perlu ilmiah-ilmiah banget lah. Ia memandang hidup ini dengan mata seorang penyair, bahwa takdir dan belahan jiwa itu ada. Selain karena ia sendiri suka menulis puisi, caranya menjalani hidup begitu sederhana, naif, dan polos. Persistensi Daniel tidak sia-sia. Pada akhirnya, ia bisa membuat Natasha jatuh cinta padanya. 

“We have big, beautiful brains. We invent things that fly. Fly. We write poetry…. We are capable of big lives. A big history. Why settle? Why choose the practical thing, the mundane thing? We are born to dream and make the things we dream about.” (Daniel, The Suns Is Also A Star hal 100-101)

Apakah kisah mereka berjalan mulus dan bahagia? Ya apa yang diharapkan dari pasangan perempuan Jamaika-Amerika kulit hitam berambut afro dan laki-laki Korea-Amerika di Amerika? Ayah dan kakak laki-laki Daniel yang rasis, keluarga Natasha yang miskin dan bermasalah, tentu saja tidak mudah bagi mereka untuk menerima. Bagi mereka, Natasha dan Daniel adalah pasangan remaja yang sedang dimabuk cinta dan itu tidak akan selamanya. Toh malam itu juga Natasha akan dideportasi ke Jamaika karena pengacara yang didatanginya gagal mempertahankan ijin tinggal di Amerika. Dan Daniel akan mengikuti jalan hidup yang sudah dipilihkan orang tuanya, kuliah ke Yale lalu menjadi dokter. Segala email, pesan singkat, dan telepon interlokal Jamaika-Amerika juga hanya akan intens di awal-awal saja bukan?

Begitukah akhir kisah cinta mereka? Nasib dan takdir memang rahasia… dan di luar jangkauan rencana manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *