Home Ads

Selasa, 20 Juni 2023

Review Film Hati Suhita: Antara Hati dan Pengabdian

sumber: IMDb

Hati Suhita adalah film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karangan Ning Khilma Anis. Film ini bercerita tentang Alina Suhita, seorang santri yang dinikahkan dengan seorang penerus pesantren Bernama Al Birruni yang akrab dipanggil Gus Birru. Alina yang memang sudah dijodohkan dengan Gus Birru semenjak kecil berharap pernikahannya bak di negeri dongeng ternyata harus menghadapi kenyataan bahwa Gus Birru tidak mencintaiAlina, Birru yang berpikiran terbuka, jatuh cinta kepada Rengganis, sesosok Wanita cantik yang sering menemani Birru dalam langkah-langkahnya sebagai seorang aktivis. Birru pun menolak pernikahan itu dengan tidak pernah menyentuh Allina dalam hubungannya sebagaisuami istri. Alina yang baru mengetahui hal tersebut setelah pernikahan pun terkejut dan tak sanggupberbuat apa-apa karena takdzimnya dengan Pak Kyai dan Bunyai mertua Alina. Akhirnya dengan sakit hati Alina tetap bertahan. Apalagi setelah dia mengenal Rengganis yang cerdas dan sudah berniat mengalah tapi ditahan oleh keegoisan Birru yang tidak inginmelepaskannya meskipun Birru sudah memiliki Istri.
 
Secara alur, film ini sangat menarik karena membawa kita sebagai penonton untuk mengetahui seluk beluk pesantrensalaf yang masih memegang budaya yang kental di tengahgempuran modernisasi zaman. Bagaimana seorang Alina, perempuan yang tersakiti tapi masih mampu berbakti kepadasuaminya dan menjaga martabat mertuanya serta mengembangkan pesantren agar mampu berkembang seiringdengan zaman dan menjujung emansipasi perempuan tanpa mengurangi kekhasan Pesantren Salaf. Bagaimana seorang wanita yang telah menikah mampu mikul dhuwur mendem jero terhadap apa yang dianggapnya menjadi takdir.

Akan tetapi, sayangnya film yang seharusnya bisa menjadi hebat karena novel yang mendasarinya juga menjadi best seller digarap dengan kurang apik, endingnya dibuat dengan terburu-buru sehingga saya sempat merasa bingung, bagaimana mungkin Alina yang membutuhkan waktu hingga sehari semalam di perjalanan menuju rumah kakeknya, tapi bisa disusul oleh Birru dalam waktu hanya beberapa jam? Penyelesaian yang seperti ini yang kerap terjadi di film Indonesia, padahal justru ending inilah yang ditunggu karena itu merupakan sebuah resolusi yang dibutuhkan untukmembuat sebuah film berkesan hingga penonton merekomendasikan film ini kepada orang lain atau bahkan menonton ulang. Tapi secara keseluruhan, saya sangat salut karena film ini bagaikan oase di tengah kekeringan Film Indonesia dengan tema – tema religi tetapi tidak terkesan lebay dan menjustifikasi. Juga sebagai pelepas dahaga di tengah film-film yang bertema kekerasan, erotisme dan hantu-hantuan yang hanya mengandalkan adegan jumpscaredan penampakan yang tidak masuk akal. Semoga ke depannya perfilman Indonesia kembali mencari novel-novel yang bertema serupa untuk diangkat ke layar lebar dan mampu menjangkau segala lapisan sosial masyarakat. 

Selamat menyaksikan film Hati Suhita.

Lavelia
Malang, Juni 2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *