Review Cerita Calon Arang (Si Manis Bergigi Emas), Pramoedya Ananta Toer

Judul Buku: Cerita Calon Arang (Si Manis Bergigi Emas)
Pengarang: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: 2003
Genre: fiksi
Jumlah Halaman: 94

Nama pe-review: Iyom Alexandria

Calon Arang adalah sebuah dongeng di masyarakat kita. Cerita ini dikarang pada tahun Caka 1462. Sebenarnya naskah Calon Arang ada dua versi. Yang pertama berasal dari Jawa yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa belanda. Yang lain berasal dari Bali. Pramoedya Ananta Toer adalah salah seorang penuis yang saya kagumi. Pram menurut saya selalu menceritakan tokoh-tokohnya dengan begitu hidup. Meskiun Calon Arang adalah sebuah dongeng, maka jangan tanyakan keilmiahannya. Dahulu banyak sekali dongeng-dongeng namun sekarang masihkah ada dongeng yang bersemayam diingatan kita? Calon Arang pernah menjadi perbincangan yang dahsyat ketika Pram mempublikasikannya sebab banyak dari aktivis perempuan yang menentangkan cerita ini. Dikarenakan penggambarannya sangat bias gender dan memojokkan perempuan.

Diluar dari itu menurut saya cerita yang disuguhkan Pram sangat hidup, bergelora sehingga ketika kita membaca karya-karyanya kita akan tahu bahwa itu adalah tulisan Pram. 

 Cerita ini menyuguhkan nama Erlangga dan Baradah dimana keduanya adalah nama yang berpengaruh dalam sejarah Hindu-Jawa. Erlangga diceritakan sebagai seorang raja di negera Daha yang hari ini disebut Kediri. Calon Arang tinggal disebuah dusun bernama Girah dalam negara Daha. Cerita menjadi semakin polemik ketika banyak orang menggunjing anaknya Calon Arang bernama Ratna Manggali yang cantik jelita akan tetapi diusianya yang 27 tahun lebih tidak juga menikah. Calon Arang marah dan mengirimkan santetnya pada seisi negara Daha. Raja kemudian mendapat petunjuk untuk meminta bantuan pada seorang pertapa bernama Empu Baradah yang tinggal di Lemah Tulis. Lemah Tulis menurut Pram berada Blora. 

Saya memilih buku ini sebab teringat dengan pembahasan soal cerpen senyum karyamin yang dahulu masuk kedalam buku pelajaran di sekolah-sekolah dan sekarang digantikan dengan pembahsan mengenai ajaran-ajaran. Banyak dongeng nusantara yang kemudian sudah tidak ada lagi diingatan kita. Menurut Pram pelajaran sejarah hanya menyebutkan nama-nama belaka sementara yang terpenting adalah penyajian isinya. Mudah-mudahan buku ini mengingatkan kita kembali pada dongeng-dongen yang maha kaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar