Review Jaka Wulung #2: Jurus Tanpa Nama, Hermawan Aksan

Judul Buku: Jaka Wulung #2: Jurus Tanpa Nama
Penulis: Hermawan Aksan
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2013
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 219
Nama Pereview: Rima Juwitasari
Review Buku:

Di buku kedua ini, ilmu Jaka Wulung sudah berlipat ganda lebih hebat dari dia di buku pertama. Hal itu tentu saja karna bantuan dari sosok ghaib dan daya ingat Jaka yang begitu dahsyatnya, sehingga ia bisa dengan mudahnya menyerap ilmu-ilmu baru. Dia bahkan bisa mengkombinasikan beberapa jurus yang berbeda! Sungguh suatu hal yang menakjubkan!

Kali ini petualangan berkisah tentang Jaka yang memburu pendekar yang telah membunuh gurunya: Sepasang Rajawali. Di buku sebelumnya, pasangan Rajawali ini telah menewaskan guru Jaka yaitu Resi Dermakusumah. Petualangannya mengejar si pembunuh gurunya mengantarkannya pada kejadian-kejadian heroik seperti menyelamatkan suatu kampung dari gangguan sesosok siluman yang bernama Si Jari-jari Pencabik dan juga menggagalkan aksi pungutan liar pendekar preman Ki Antaga yang senang memeras warung nasi sederhana. Dan tidak lupa pula di buku ini, Jaka mendapatkan kekuatan baru dari ketidaksengajaannya meminum air yang telah tercampur dengan semacam getah pohon. Lagi-lagi dengan kecewa di buku kedua ini saya harus menelan pil pahit kenyataan bahwa Jaka Wulung menjadi sehebat seperti sekarang bukan murni karena usahanya berlatih siang dan malam selama bertahun-tahun.

Atau jangan-jangan memang betul begini adanya jika ilmu silat bisa didapatkan dari kejadian-kejadian ghaib?

Di akhir buku, Jaka menghadiri sebuah pertemuan akbar pendekar-pendekar setanah barat Jawa. Dan seperti yang sudah saya duga, Jaka berhasil menemukan Sepasang Rajawali dalam acara ini. Lalu berduellah mereka sampai dendam Jaka terbalaskan. Yang saya sayangkan, Aksan seperti lupa dengan tujuan awalnya membuat pertemuan akbar ini. Entah lupa atau entah karna pertemuan akbar ini memang semata-mata hanya sebagai sarana mempertemukan Jaka dengan Sepasang Rajawali, jadi terkesan kurang mengalir, kurang natural dan sedikit memaksa.

novel disertai dengan ilustrasi gambar yang memanjakan imajinasi kita :D

Teka-teki mengenai garis keturunan Jaka Wulung di buku inipun belum dijelaskan secara gamblang, namun sudah ada satu titik terang: Jaka Wulung masih ada darah keturunan Prabu Siliwangi. Mungkin di buku ketiga akan dijelaskan lebih detail lagi. Tapi entahlah, saya belum menemukan gairah untuk membaca seri terakhir buku ini.

Buku ini cocok bagi pembaca yang menemukan kesenangan membaca buku seri terdahulunya. Dari 5 bintang saya beri 2,8.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar