Review Konvensi, A. Mustofa Bisri



Judul Buku: Konvensi
Penulis: A. Mustofa Bisri
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2018
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 131
Nama Pereview: Nabilamunsyi

Suami dan Nyai Sobir

Ada beberapa tokoh utama perempuan dalam kumpulan cerpen ini. Tapi ada dua yang memesonaku. Cerpen berjudul Suami dan Nyai Sobir.

Dalam Suami, Tiah adalah istri yang memiliki suami yang tiada ada celah untuk bisa dihormati. Sukanya minta duit, sudah begitu penampilannya korat-karit. Ia mengalami kekerasan verbal dan fisik. Ia ingin suaminya mati saja. Tapi dalam kebenciannya yang membara, ia ternyata masih punya kasih dalam jiwanya.

Sebaliknya, Nyai Sobir adalah istri almarhum kiai Sobir. Usianya masih muda ketika ditinggal. Cerpen ini adalah jeritan Nyai yang terbebani amanah besar berupa pesantren juga stigma masyarakat padanya sebagai janda muda.

~~

Kalo boleh bilang kecewa, saya agak jengkel sama ending cerpen Suami. Kok bisa Tiah masih menyungging senyum? Meski penulis menulis, 'entah artinya apa'. Saya tak punya pikiran lain selain ia masih punya kasih dalam jiwanya. Lho apa salahnya punya rasa kasih? Ya saya berharap Tiah perempuan yang kemudian jadi sekuat baja dan bisa melawan perasaan lemahnya.

Tapi nyatanya hidup tak selalu seperti itu. Ada istri yang bertahan meski berkali-kali dilukai. Bukan ideal, tapi realitasnya demikian. Masih banyak Tiah di sekitar kita yang diam dan cuma menyimpan benci juga menghidupkan fantasi buruk agar sesuatu yang sial terjadi pada suaminya. Agar dirinya bisa merdeka.

Di dalam Nyai Sobir, ini realitas di mana-mana. Saya pernah dengar ada Nyai yang ingin mencari pengganti suaminya agar ada yang membantunya mengemban pondok. Siapa pun tahu, mengasuh pondok tidak lah mudah. Apalagi bagi seorang Nyai janda. Di mana-mana pondok tradisional berpangku pada figur kiai. Kita sering dengar bahwa jika seorang ulama wafat, maka Allah mengangkat ilmu-ilmunya juga. Melalui Nyai Sobir, ia mewakili curahan para Nyai yang pilu dalam iddahnya. Yang mesti lagi menemani anak-anaknya mengemban warisan abahnya. Yang ketika seorang ulama wafat, ternyata keluarganya harus menghadapi situasi yang berat. Itu tak terucap, tapi terlihat.

Saya juga menikmati cerpen-cerpen lainnya. Hal-hal aneh dalam dunia pesantren. Seperti Cerpen Di Jakarta-nya Mr. Z. Qoney yang bikin saya baru tahu ada pijatan khas pesantren.

Kita tak akan menemukan drama hitam putih dalam cerpen-cerpen Kiai A. Mustofa Bisri. Juga sulit menemukan orang yang sepenuhnya jahat, bahkan sekelas Suami Tiah. Suami Tiah jadi kelihatan tak sejahat itu bukan karena perilakunya yang berubah, tapi sunggingan senyum Tiah yang memberikan kesan lain pada pembaca. Juga jarang menemukan ayat atau hadist dibawa-bawa untuk mengajari pembaca. Dalam cerpen, kita mendapatkan bahwa kisah tokoh adalah nasihat itu sendiri. Kadang pertanyaan terjawab, kadang tidak. Tak penting jawabannya, yang penting gejolaknya.

Yang tak ditemukan itu adalah kekuatan dari karya beliau. Karena hal-hal itu tak ada, cerpen-cerpen ini jadi asyik dibaca. Buku ini seperti teman baik yang mengingatkan kita dengan sayang. Kadang teman bicara  melalui cerita-cerita, tapi ia punya maksud mau memberi tahu kalau ada nafsu yang mesti kita kendalikan atau jika kamu kalut, aku juga pernah kalut sepertimu.


*Disklaimer, aku cuma penikmat sastra yang kadang-kadang membaca. Tulisan ini jauh dari memadai untuk menilai.

16/11/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar