Review The Girl Who Play With Fire, Stieg Larsson

kobo.com
Judul Buku: The Girl Who Play With Fire
Pengarang: Stieg Larsson
Penerbit: Random House
Tahun Terbit: 2009
Jumlah Halaman: 502 (versi pdf)
Genre: Fiksi
Pe-review: Iffah Hannah

Di prolog novel The Girl Who Played With Fire, digambarkan seorang perempuan berusia 12 tahun diikat di tempat tidur sebuah kamar rumah sakit jiwa dan sesekali seorang lelaki setengah baya mengunjunginya untuk sekadar mengencangkan ikatan atau memandangi gadis itu dengan tatapan yang susah digambarkan. Dalam keadaan terikat, gadis itu berkali-kali membayangkan membakar lelaki itu hidup-hidup.

Novel ini adalah seri kedua dari trilogi Millennium yang ditulis oleh Stieg Larsson. Diterbitkan pertama kali dalam bahasa Swedia pada 2006 dan versi terjemahan Inggrisnya terbit pada 2009.  Di seri pertama, yaitu The Girl With The Dragon Tattoo (yang kebetulan saya belum sempat membaca novelnya tapi nonton filmnya, baik versi Swedia maupun versi Amerika yang ada Daniel Craig dan Rooney Mara-nya) menceritakan awal pertemuan Lisbeth Salander dengan Mikael Blomvkist, seorang jurnalis di Millennium. Singkatnya, dengan kemampuannya yang cukup mencengangkan dalam hal komputer-internet-hacking dan ingatan fotografik, Lisbeth Salander membantu Blomvkist menyelesaikan kasus menghilangnya Harriet Vanger saat masih remaja (yang ternyata sengaja menghilangkan diri karena menjadi objek seksual-perkosaan ayah dan saudara lelakinya.) Dan setelah kasus tersebut terungkap, Salander menghilang.

Di novel ini, diceritakan Salander sengaja menghilang dari pekerjaannya di Milton Security dan dari hidup Blomvkist yang berkali-kali berusaha menghubungi Salander. Ia berkelana dari satu negara ke negara lainnya sampai akhirnya kembali ke Stockholm. Begitu kembali, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari apartemen baru, tempat ia bisa menyendiri dengan tenang (Salander memang memiliki kecenderungan antisosial). Setelah itu, ia mulai mengunjungi temannya yaitu Miriam Wu atau Mimi dan memintanya tinggal di apartemen lama Salander tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Setelah itu Salander juga mengunjungi Armansky (bosnya dulu di Milton Security) dan dengan terkejut menerima kabar kalau orang yang dulu bertanggung jawab menjaganya, Holger Palmgren ternyata masih hidup. Dengan penuh rasa bersalah, Salander kemudian mengunjungi Palmgren (yang sempat koma lama dan divonis tidak akan pernah bangun lagi) dan meminta dokter mencarikan physiotherapis terbaik untuk membantu Palmgren.

Sementara itu, Blomvkist disibukkan dengan draft buku Dag Svensson dan penelitian doktoral Mia Johannson tentang sex trafficking dan prostitusi anak. Dalam draft tersebut ada nama-nama tokoh penting yang terlibat dan pasti akan menggemparkan saat buku tersebut nanti beredar. 

Di luar keisengan, Salander menyusup ke sistem komputer Blomvkist dan akhirnya tahu pekerjaan apa yang sedang dilakukan Blomvkist. Saat itulah, dari draft Svensson, Salander menemukan nama Zala.

Nils Bjurman, pengganti Palmgren sejak divonis sakit, ternyata menaruh dendam pada Salander. Di seri pertama, The Girl With The Dragon Tattoo, diceritakan bagaimana Bjurman melakukan kekerasan seksual pada Salander, memperkosanya berkali-kali, sampai akhirnya Salander merekamnya dan mengancam akan menyebarkan video itu jika Bjurman berulah. Tak hanya itu, Salander juga mentato perut Bjurman dengan tulisan 'pemerkosa sadis'. Itu membuat Bjurman marah dan menghubungi Zala untuk meminta bantuan melenyapkan Salander.

Beberapa waktu kemudian Dag Svensson dan Mia Johannson terbunuh, begitupun Nils Bjurman. Dan bukti-bukti mengarahkan bahwa tersangkanya adalah Salander. Polisi kemudian berusaha mencarinya kemana-mana. Gambaran tentang Salander sebagai seorang yang terkena gangguan mental tersebar di semua media. Tetapi Blomvkist, Armansky, Palmgreen, dan beberapa orang tidak percaya Salander pelakunya. 

Blomvkist menduga kematian koleganya pasti berhubungan dengan buku dan penelitian yang sedang dikerjakan. Tetapi ia luput menangkap kaitannya dengan kematian Nils Bjurman. 

Sementara Salander, berdasarkan pengalamannya di masa lalu, di mana pihak otoritas tidak pernah mendengarkan versi-nya, memutuskan untuk mencari jalan keluar dari segala keruwetan itu sendiri, berusaha membersihkan namanya, dan membalaskan dendamnya pada orang-orang di masa lalu yang ikut berperan mengurungnya di rumah sakit jiwa saat ia berusia dua belas tahun dan kini muncul kembali untuk menjebloskannya ke rumah sakit jiwa. Hasilnya, Salander mendapat tiga tembakan; satu di kepalanya, satu di bahu, dan satu di pinggangnya, dari Zala-Alexander Zalachenko ayah kandungnya sendiri (seorang mantan agen rahasia Rusia yang mencari suaka, kemudian memacari ibu Salander sampai punya dua anak kembar: Lisbeth dan Camilla Salander, dan suka memukuli kekasihnya sampai hampir mati. Inilah yang membuat Lisbeth Salander membakar ayahnya di mobil saat ia berusia dua belas tahun sehingga dijebloskan ke rumah sakit jiwa, sementara Zala dilindungi oleh Sapo-kepolisian khusus, dan bisa menjalankan bisnis-bisnis ilegalnya sampai sekarang.)

26/11/18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar