Review Student Hidjo, Mas Marco Kartodikromo



Judul Buku: Student Hidjo
Pengarang: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit: Penerbit Narasi (Anggota IKAPI)
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 185
Genre: Fiksi, Novel/Sejarah
Pe-review: Iyom Alexandria

“Saya Cuma seorang saudagar. Kamu tahu sendiri. Waktu ini, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai governement. Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Governement, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagara atau petani. Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar seperti regent-regent dan pangeran-pangerang.”

Dalam petikan kalimat diatas dijelaskan bahwa kepergian Hidjo ke Belanda ingin menujukkan siapapun mampu meraih pembelajaran setinggi-tingginya. Awalnya saya beranggapan dalam buku ini akan mengisahkan bagaimana Hidjo mencari ilmu di Belanda tapi justru buku ini lebih mengisahkan pada orang-orang terdekat Hidjo sepeninggal Hidjo belajar ke Belanda. Kisah ini lebih kepada pencarian jodoh Hidjo ketimbang Hidjo menuntut ilmu. Semuanya bermula dari ketakutan sang Ibunda jika Hidjo belajar di Belanda akan jatuh hati kepada peremuan Belanda ketimbang pada gadis pribumi. Sedangkan Hidjo sudah dijodohkan dengan saudaranya sendiri bernama Raden Ajeng Biroe. Kisah percintaan Hidjo akan menjadi rumit ketika Hidjo kemudian terperangkap godaan perempuan belanda bernama Betje. Betje adalah anak seorang Direktur salah satu maatschappij (perseroan) yang ada di Den Haag. Direktur itu adalah saudara Leerar (guru) Hidjo di HBS, yang nantinya Hidjo dititipkan dirumah direktur itu.

Seperti yang saya tuliskan diatas kisah ini akan mengisahkan banyak tentang orang-orang terdekat Hidjo. Mulai dari Ibunya yang kemudian jatuh sakit lalu diistirahatkan ke pegunungan beserta dengan Raden Ajeng Biroe. Saat beristirahat dipegunungan ibu dan tunangannya Hidjo bertemu dengan Raden Ajeng Woengoe yang dari Djarak yang ternyata diam-diam mencinta Hidjo. Hidjo adalah sahabat dari kakaknya woengoe bernama Wardojo. 

Kerumitan selanjutnya ternyata diam-diam Wardojo jatuh hati pada Biroe dan Biroe juga menaruh hati pada Wardojo. Sementara itu Ibunda Hidjo telah jatuh hati kepada kebaikan keluarga Regent Djarak sehingga berniat menjodohkan Hidjo dengan Woengoe dan membatalkan perjodohan Biroe dengan Hidjo. 

Novel karya Mas Marco Kartodikromo ini pertama kali ditulis tahun 1918 sebagai cerita percintaan Hidjo yang rumit, novel ini juga mengisahkan bagaimana orang Isalm menunjukan kesepakatan hatinya satu sama lain. Gerakan ini disebut dengan Sarekat Islam. Yang ikut tergabung dalam sarekat Isalam antara lain saudagar, priyayi Gouvernement, dan para orang-orang particulier. Perkumpulan ini dimaksudkan untuk memperbaiki orang-orang Islam yang sudah ratusan tahun diinjak-injak. Buku ini merupakan sastra perlawanan, sebuah fenomena dalam sastra Indonesia sebelum perang. Di mana, novel ini menggambarkan situasi zaman pergerakan menuju Indonesia, kemajuan berpikir lewat sekolah-sekolah bentukan Belanda dan pandangan-pandangan terhadap dunia Jawa yang makin bergerak.

“... Orang Jawa bodoh, kata Tuan. Tentu saja, karena pemerintah memang sengaja membuat bodoh kepadanya. Mengapa Regeering tidak membuat sekolahan yang secukupnya untuk orang Jawa atau orang Hindia. Sedang semua orang tah, jika tanah Hindia itu yang membuat tanah kita, Nederland..”

“.. Orang Jawa malas, kata Tuan pula. Tuan toh mengerti juga ada beribu-ribu orang Jawa yang seharian masuk kerja sampai mandi keringat sekedar mencari sesuap nasi. Apakah memang sudah semestinya dia bekerja terlalu berat? Sedangkan tanahnya adalah tanah yang kaya raya. Adakah di Negeri Belanda orang bekerja seberat itu hanya mendapat bayaran 25 ct atau 30 ct seperti orang Jawa? Tidak ada kan?..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar