Review To Kill a Mockingbird, Harper Lee

Judul Buku : To Kill a Mockingbird
Pengarang : Harper Lee
Penerbir dan Tahun Terbit : Hachette Book Group New York, 2010
Jumlah Halaman : 376
Genre : Fiksi, American Literature
Pe-review : Iffah Hannah

"...remember it’s a sin to kill a mockingbird. Mockingbirds don’t do one thing except make music for us to enjoy. They don’t eat up people’s gardens, don’t nest in corn cribs, they don’t do one thing but sing their hearts out for us. That’s why it’s a sin to kill a mockingbird.”  (To Kill a Mockingbird, p. 119)

Novel ini mengisahkan sebuah masa di mana diskriminasi rasial menguasai sebuah kota dan mengalahkan akal sehat manusia. Dan semboyan bahwa 'semua manusia diciptakan setara' atau 'all men are created equal' tidaklah berarti apa-apa di sebuah kota yang sebagian besar penghuninya menganggap bahwa orang kulit putih adalah lebih mulia di atas orang kulit berwarna, dan bahwa orang kulit berwarna termasuk orang negro adalah orang jahat, pembohong, serta imoral sejak lahir. Seolah bisa dikatakan bahwa 'all (white men) are created equal' dan negro tidaklah masuk dalam kategori 'men' atau 'manusia'.

Atticus Finch, seorang pengacara yang hidup di antara diskriminasi rasial, ketidakadilan, kebencian, dan kemunafikan ini, dalam kesadaran kemanusiaannya, terus berupaya untuk melindungi kedua anaknya dalam cinta kasih.

To Kill a Mockingbird pertama kali terbit tahun 1960 dan memenangkan Pulitzer Prize di tahun 1961. Kisah fiksi ini berlangsung di Maycomb, Alabama, pada masa great depression sekitar tahun 1930an. Scout, protagonis dalam novel ini (yang merupakan anak Atticus Finch) menyaksikan dan mengisahkan tiga tahun kehidupan masa kecilnya di Maycomb dari sudut pandang seorang anak. Ia menceritakan masa kecilnya bersama kakaknya, Jem, temannya Dill, dan hal-hal yang mereka lakukan dan saksikan. 

Scout menyaksikan warga kota menghina ayahnya dan menyebut Atticus sebagai seorang "nigger-lover" di hadapannya. Dan dalam kenaifan seorang anak, tanpa mengerti kenapa ayahnya disebut nigger-lover, Scout berusaha menahan kemarahannya karena ayahnya memintanya untuk tidak marah dan tidak mengangkat tinjunya pada orang-orang yang menghinanya. Ketika kemudian Scout bertanya pada ayahnya apakah benar ia adalah seorang nigger-lover seperti yang dituduhkan orang-orang, Atticus menjawab: "I certainly am. I do my best to love everybody" (To Kill a Mockingbird, p. 144) dan Atticus dengan lembut meminta Scout untuk tidak tersinggung dan marah pada orang-orang, justru ia harus mengasihi orang-orang yang memperlakukannya seperti itu.

Atticus 'dihujat' dan disebut nigger-lover karena sebagai seorang pengacara, ia membela Tom Robinson, seorang kulit hitam yang dituduh memperkosa seorang perempuan kulit putih, meskipun sebenarnya Tom tidak melakukannya. Di masa-masa itu, pemerkosaan terhadap perempuan kulit putih yang dilakukan oleh seorang kulit hitam adalah dosa yang tak terampuni. Dan Finch, dalam upayanya menegakkan keadilan atas nama kemanusiaan, berupaya untuk memenangkan persidangan itu supaya Tom Robinson bebas. Tetapi, di sebuah masyarakat di mana hukum tidak tertulis yang berlaku adalah: "jika orang kulit putih bermasalah dengan orang kulit hitam, maka orang kulit hitam-lah yang salah", Atticus dan hukum yang ia pegang teguh tidak lagi bisa berbuat apa-apa. 

Tetapi Atticus adalah seseorang yang di dalam hatinya hanya cinta, kebenaran, dan keadilan yang ia perkenankan tumbuh. Ia menolak membenci orang-orang yang membencinya, dan bahkan ketika Scout bertanya apakah tidak apa-apa untuk membenci Hitler, Atticus menjawab dengan tegas: tidak. Tidaklah benar untuk membenci siapapun, meskipun itu Hitler. Dan dalam usianya yang teramat muda, Scout bertanya pada kakaknya, Jem "how can you hate Hitler so bad an' then turn around and be ugly about folks right at home" (To Kill a Mockingbird, p. 331) yang sebenarnya lebih berupa pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri mengenai guru sekolahnya, Miss Gates, yang sedemikian membenci Hitler karena kejahatannya, tetapi dalam persidangan Tom Robinson, Miss Gates tidak berpihak pada kebenaran dan keadilan hanya karena Tom adalah seorang negro.  

Pada akhirnya, mockingbird dalam kisah ini adalah simbol untuk orang-orang yang tak bersalah: Tom Robinson, Boo Radley, Jem, Dill, Mr. Raymond. Itulah mengapa Atticus melarang Scout untuk 'menembak' burung mockingbird, karena adalah sebuah dosa untuk 'membunuh' orang-orang yang tak bersalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar