Review Susah Senang Bersama Si Buah Hati, A. Dardiri Zubairi


Judul Buku: Susah Senang Bersama Si Buah Hati
Penyunting: A. Dardiri Zubairi
Penerbit: Cantrik
Tahun Terbit: 2016
Genre: Nonfiksi
Jumlah Halaman: 254 h
Nama Pereview: Anisah Busthomi

“Setiap bayi yang hadir selalu membawa satu pesan, bahwasanya Tuhan masih belum bosan dengan manusia” (Kahlil Gibran).

Dari kutipan Kahlil tersebut menyuratkan bahwa Tuhan saja masih senang menciptakan manusia. Mengapa lantas kita yang hanya seorang hamba merasa bosan terhadap sesamanya. Tamparan yang menohok untuk para orang tua, bahwa sejatinya mengurus anak bukan sekedar urusan tumbuh kembang lalu mati menjadi bangkai. Tapi mengurus anak adalah sebuah keseriusan lahir batin yang perlu dipertanggungjawabkan oleh para orang tua. 

Bicara tentang buah, sekelinap akan muncul tentang asam manis bahkan pekat hambarnya rasa. Tergantung dari seseorang merawat, memupuk dan mengawasi pertumbuhan buah tersebut. Termasuk buah hati, yang barang tentu, akan menjadi tendensi utama dalam pembahasan buku ini. Terdapat 54 kisah “experience” penulis dalam mendidik anak yang disajikan dalam bahasa yang sedehana, lucu, dan menggugah hati para pembaca untuk lebih serius dalam mendidik anak. Sebuah refleksi, inspirasi, dan metode yang sudah dibingkai (framed) sedemikian sistematis oleh penulis, tidak hanya semata-mata untuk membagikan pengalaman metode mendidik anak ynag baik. Melainkan menepuk pundak para orang tua untuk merenungkan kembali, sejauh mana keberhasilan dan kesungguhan para orang tua mengetuk pintu terdalam kepribadian seorang anak. The role of parents?! Penting, Bukan? Berikut cuplikan ceritanya,  chek it out:

Refleksi: Stop, Yatimkan Anak! Ayah, kunci mental tahan banting anak.
Ayah datang… Ayah datang… teriak seorang anak laki-laki yang biasa disapa Abed. Seketika kaki kecilnya melesat cepat dan bergelantungan di betis seorang Ayah yang baru saja datang kerja. Muach… (kecup kening) bergantian dengan tatapan kerinduan mendalam Ayah terhadap sang anak. Abed yindu Ayah. Ayah cemana?

Mari sejenak berpikir! Tidak banyak seorang Ayah yang berperan aktif dalam mengasuh anak. Banyak terjadi dikotomi dalam sebuah keluarga bahwa mengasuh anak adalah kewajiban penuh seorang Ibu. Ayah mencari nafkah, sudah selesai. Berdasarkan penelitian dari School of Life di Brigham Young University menunjukkan bahwa ayah memiliki posisi unik dalam membantu anak mengembangkan karakter gigih dan tekun.

Inspirasi: Tidak mudah melawan ego anak
Suatu ketika tiba-tiba pukulan melayang pada salah satu anggota tubuh seorang ayah. Plakk..sontak seorang ayah emosi namun nurani menahan untuk tidak dilontarkan. Mungkin Abed kesal karena ada beberapa permintaan yang tidak dipenuhinya (bergumam). Abed, minta maaf pada ayah! Beberapa kali seorang ayah berusaha ternyata gagal.  Kemudian sang anak pergi ke kamar mandi dan memanggil umminya untuk dicebokkan. Rupanya si anak masih kesal akibat tuntutan ayah untuk meminta maaf. Dengan santai, Umminya menjawab, Jangan sama Ummi, dong! Kan biasanya sama Baba ceboknya. Tapi Baba mau kalau Abed mau meminta maaf. Sesaat seorang ayah menimpali. Ia diam, meski beberapa saat dia memanggil Umminya lagi namun tetap seorang Ibu tak beranjak. Akhirnya selama 10 menit kamar mandi menjadi hening. Gemuruh kedua orang tua sudah menjadi-jadi karena tak tega seorang anak berumur 2 tahun terdiam lama dan ingin cepat beranjak. Tapi lagi-lagi tertahan karena ingin mendidik karakter anak. Saat hampir menyerah, ada kejutan ucapan lirih dari seorang anak. Ba…Abed minta maaf. Lega rasanya hati orang tua. Detik terakhir untuk bertahan, akhirnya berhasil melawan ego anak.

Metode: 

Pertama: Komunikasikan antara ayah dan ibu, akan dididik seperti apa anak-anak mereka. Peka terhadap sosial, mandiri, jujur, ekspresif, pemaaf, penyabar, religious-nasionalis, beserta deretan kebaikan lainnya. Karena membangun karakter anak perlu sebuah measure (ukuran) sebagai tolak ukur pencapaian.

Kedua: Tetapkan konsensus dengan anak secara tegas (bukan kasar). Semisal, setelah adzan maghrib berkumandang semua aktivitas harus dihentikan termasuk nonton TV.

Ketiga: Konsensus yang sudah disepakati diawal dengan seorang anak, harus secara konsisten diterapkan. Seperti halnya kisah dalam buku ini, seorang Ayah yang rela mematikan TV saat adzan maghrib berkumandang meskipun bertepatan dengan jadwal TIMNAS yang sangat mencekam jiwa jika terlewatkan. Hubungannya dengan psikologi anak yang seakan diobok-obok jika sebuah konsensus diterapkan secara plin-plan.

Keempat: Tanamkan pada diri bahwa orang tua merupakan teladan yang akan menjadi support system utama dalam mendidik anak secara lahiriah dan batiniah.

Kelima: Terapkan pendidikan karakter sejak usia dini, jangan saat berumur belasan tahun. Karena pada usia remaja anak-anak cenderung memilki pemikiran sendiri yang sulit dikendalikan oleh orang tua.

Konklusnya: 

Ada beberapa kebahagian yang tidak cukup disentuh dari permukaan saja. Melainkan perlu ditembus pada ruang batin seorang anak. kebiasaan paradigma yang salah dari kebanyakan orang tua, berdampak pada brain storming ynag negatif pada pola asuh anak. Kasih saying dan kehangatan dalam keluarga yang berhasil direkam secara mendalam oleh seorang anak bukan sebuah proses yang instan, melainkan proses yang tentu berpeluh-peluh. Banyak orang tua yang seringkali menukar gelimangan materi dengan kasih saying. Perhatikan ! antara pemenuhan kebutuhan ynag hanya bersifat lahiriah mempunyai yang sekat sangat tipis dengan kasih saying yang bersifat batiniah, sehingga dengan sangat dapat dilebur antara makana kebahagian lahiriah dan batiniah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar