Review Buku Goodbye Things, Fumio Sasaki

Judul: Goodbye, Things
Pengarang: Fumio Sasaki
Penerbit: GPU
Peresensi: Nur Hayati Aida

Manusia lahir tanpa membawa apa-apa dan tak terikat apa-apa. Manusia lahir sebagai minimalis. Begitu ujar Fumio Sasaki dalam Goodbye, Things.

Ya. Pada dasarnya manusia adalah minimalis sampai pada satu waktu terbelenggu dengan kepemilikan. Di mana ketika barang  tak lagi hanya bicara soal kebutuhan, tapi juga soal eksistensi diri, pemenuhan hasrat akan kepuasaan-kepuasaan yang tak lama lagi menjadi sesuatu hal yang biasa, yang tak lagi menarik perhatian, serta menjadi sangat biasa.

Kepemilikan atas barang tak lagi tentang kebutuhan saja. Lebih sering , malah, soal keinginan dan hasrat untuk menunjukkan eksistensi. Salahkah itu? Tidak, jelas Sasaki. Manusiawi sekali. Sebagai makhluk sosial adakalanya kita butuh semua itu, menunjukkan eksistensi diri pada yang lain.
Atas dasar itu, kita bisa membeli ratusan buku dengan berbagai judul meski yang kita baca hanya beberapa halaman saja. Kita membeli sesuatu yang bahkan kita hanya memakainya setahun sekali atau tak pernah memakainya, walau hanya satu kali saja.

Barang-barang yang diburu (dibeli) dengan (mungkin menguras uang dan atau bahkan berhutang) keringat yang ditebus dengan kerja keras. Kerja dan engkau akan mendapatkan apa yang diingankan. Kerja lagi, kerja lagi, dan kerja lagi. Tapi sayang, begitu kata Fumio Sasaki, kepuasaan itu terbatas meski harga barang (bisa) tak terbatas. Kepuasaan kita terhadap satu barang hanya bertahan beberapa saat saja. Bahkan, ada yang mengatakan ia hanya bertahan 3 jam lamanya. Lainnya? Lainnya? Adalah kehampaan.

Belenggu kepemilikan membuat manusia menjadi tidak pandai bersyukur. Segala apa yang dimiliki selalu saja merasa kurang. Andai saja saya memiliki apa yang dia memiliki. Andai saja saya memiliki rumah yang lebih besar, saya pasti akan lebih bahagia. Andai saja saya memiliki mobip yang lebih canggih, saya pasti akan merasa lega. Andai saja saya memiliki seperangkat alat kerja yang lengkap, saya pasti akan lebih produktif. Andai saja saya memiliki bla, bla, bla, saya pasti akan lebih bahagia. Tapi, sampai kapan hasrat memenuhi kepuasaan itu akan selesai? Sampai kapan menghitung milik orang lain dan membandingkannya dengan milik sendiri . Tidak. Kita harus menyudahi ini semua, nasihat Sasaki. Belenggu kepemilikan ini tidak hanya membuat kita tak pandai bersyukur dan menjadi kemrungsung, tapi yang lebih jauh adalah membuat hidup terasa lebih berat dan berat lagi.

Tulisan Sasaki dalam Goodbye, Things  ini membuat saya berfikir lebih dalam. Apakah hidup yang sementara ini akan terus disesaki dengan keinginan-keinginan yang takkan pernah selesai? Demi pemenuhan hasrat yang paling purba. Tentang citra diri dan eksistensi.

Kemudian, saya mengeluarkan barang-barang dan mulai berkata pada diri, Hanya ada hari ini, tak ada esok dan tak ada kemarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar