Kamis, 31 Januari 2019

Resensi Buku Arsitektur Yang Lain, Avianti Armand

Mengupas Sisi Lain Arsitektur


Judul buku: Arsitektur Yang Lain
Pengarang: Avianti Armand
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2011
Genre: Nonfiksi
Dimensi buku: 15 cm x 19 cm
Harga buku: Rp 80.000
Halaman: 246
ISBN: 978-979-22-7121-8
Pereview: Ihdina Sabili

Arsitektur merupakan sebuah keilmuan yang di dalamnya juga hadir ekspresi yang memadupadankan berbagai macam seni. Tak heran jika dalam menciptakannya memerlukan keseimbangan antara logika dan imajinasi. Di dalam meramunya membutuhkan perhitungan matematis dan juga ketajaman selera seni. 

Avianti Armand sebagai seorang arsitek sekaligus pengamat seni, memandang arsitektur dari berbagai kaca mata yang beragam. Buku Arsitektur yang Lain berisikan beberapa esai kritik terhadap arsitektur, baik skala nasional maupun internasional, baik dalam konteks arsitektur atau aspek-aspek lainnya.

Avianti dalam buku ini mengulas beberapa tokoh, baik arsitek maupun pegiat sosial, nasional maupun internasional, mulai dari Sandyawan Sumardi hingga Peter Zumthor. Terurai dalam 26 judul, beberapa esai di dalam buku ini telah diterbitkan dalam majalah U Mag. 

Buku ini mengupas arsitektur dari segi fisik maupun non-fisik. Mulai dari elemen dasar contohnya fasad dan jendela, juga esai kritik dalam elemen-elemen penting arsitektur, contohnya kamar mandi dan dapur. Mulai dari awal mula kebutuhan manusia pada arsitektur, kritik arsitektur modern dengan segala monotonnya, hingga proyeksi arsitektur di masa depan. 

Dalam judul artikel Arsitektur Yang Lain, berisi tentang esensi utama sebuah arsitektur adalah makna. Hal ini menjadi lain dari pandangan masyarakat secara global saat ini dalam memaknai sebuah karya arsitektur. Hassan Fathy dari Kairo mengusung bahwa arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur yang mengangkat harga diri dan martabat manusia. Karena itu perkembangan teknologi merupakan sebuah gerakan statis jika tidak diimbangi dengan kecakapan dan harga diri manusia. Seperti halnya yang dilakukan Romo Mangun dengan pinggiran kali code-nya, elemen penting sebuah arsitektur adalah muatan budaya.

Meski berisikan esai kritik yang begitu kritis dan mendalam, buku Arsitektur Yang Lain menempati satu sudut tertentu dalam hati pembaca. Khususnya untuk para pembaca yang sedang memulai mengenal dunia arsitektur. Buku ini di satu sisi memberi penekanan dalam motivasi mempelajari seni bangunan. Namun di sisi lain juga memberi peringatan untuk siaga dan berhati-hati dalam memahami dan memaknai dinamika perkembangan dunia arsitektur.

Buku ini membeberkan beberapa fenomena, namun juga sarat akan teka-teki dalam menyimpulkan pemaknaannya. Di dalam buku ini memang tidak dipaparkan trik atau kunci menjadi arsitek yang baik. Dan juga tidak didefinisikan arsitektur secara spasial dari waktu dan ruang tertentu. Akan tetapi buku ini mengajak pembaca menerjemahkan arsitektur dalam berbagai konteks tertentu dengan  beragam kacamata berbeda. Dengan membaca buku ini seakan dibukakan jendela wawasan arsitektur di belahan bumi lain dengan parameter yang beragam pula. Rupanya arsitektur memiliki keterkaitan yang kuat dengan semua aspek lain di dunia, yakni agama, politik, filsafat, sejarah dan terutama budaya. 

Dengan membaca buku ini, pandangan pembaca terhadap arsitektur akan semakin luas. Mampu mengaplikasikannya dengan analogi lain dalam problema kehidupan. Arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai obyek rancangan, tetapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi subyek atau alat perancang. Karena memandang dan menilai arsitektur tidaklah melulu dengan mata telanjang dan tolok ukur logika saja. Melainkan juga memahami intisari atau bahkan menarik mundur apa yang ada di balik hadirnya sebuah arsitektur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *