Minggu, 31 Maret 2019

Resensi Buku Khaddam, Diyana Millah Islami

Judul buku : Khaddam
Penulis : Diyana Millah Islami
Penerbit : Literati imprint dari Penerbit Lentera Hati
Tahun terbit : 2015
Genre : Novel
Jumlah halaman : 377
Nama pereview : Roisha Hardika

Aku memang bukan satu-satunya yang bersedih di belantara pesantren ini. Ada mereka, yang selalu setia merakit sejarah di antara bau bawang dan pengapnya asap dapur. Bersama mereka aku berperang melawan rasa tidak kerasan yang semakin menantang. Benarkah, demi mendapat berkah ilmu itu, aku harus menyerahkan masa mudaku untuk mengabdi kepada keluarga Pak Kiai dan Bu Nyai? Tak bolehkah aku memilih untuk pergi?

Air mataku menetes untuk kesekian kali. Tak bolehkah jika aku merasa sakit hati ketika Bu Nyai, orang yang memberiku tempat untuk menuntut ilmu, yang menjamin perutku, memarahi dan menghinaku? Ketika cinta itu datang tanpa mampu kutendang, benarkah bagiku ia terlarang? Tidak adakah kebaikan yang tersisa bagi seoranf khaddam sepertiku? Lalu, dengan apa harus kulawan keinginan untuk pergi ini, ketika satu per satu mereka mulai meninggalkanku di depan tungku yang apinya tak pernah menghangatkanku? Tuhan, beri aku kekuatan menyusuri duri yang Engkau bentangkan...

Sari menatap foto kenangan bersama para khaddam dan ketiga Ning-nya. Empat belas tahun berlalu. Sejarah itu, akan selalu melekat di setiap tarikan nafasnya. Satu persatu kejadian masa lalu berkilatan muncul di depan mata. Menari-nari mengitari foto itu dengan berbagai gerakan. Gerakan kesedihan, gerakan kegembiraan, gerakan keharuan, gerakan kekaguman, gerakan kemarahan, juga gerakan tersipu. Sari menghela napas, lirih. Kemudian bayangan-bayangan itu muncul. Sekali lagi Sari menarik napas. Air matanya masih berjatuhan. Manisnya kerinduan yang terus menyesakkan dadanya, terlalu sayang untuk dibuang. Demi jutaan kerinduan yang tak terbantahkan, dia susuri sebongkah kisah masa lalu sebagai obat penawar rindu...

“Kahddam baru, ya?” tanya Fahmi menahan langkah gadis itu.
“Benar, gus”, Sari menyahut begitu pelan, hingga nyaris tak terdengar.
“Siapa nama kamu?” 
“Sari, Gus”.
Fahmi mengangguk-angguk seraya tersenyum. “Sari? Sari Ayu?”
“Bukan, Gus”
“Mmm... Hapsari, mungkin?” tebak Fahmi lagi.
“Benar, Gus”, Sari mengangguk pelan. Ada perasaan senang di hatinya, karena putra gurunya itu dapat menebak namanya dengan tepat.
“Sekarang piket Sari mencuci?” Fahmi masih saja bertanya.
“Benar, Gus”.
“Piket sama siapa?”
“Yanti, Gus”.
Yanti? Khaddam baru juga?”
“Benar, Gus”.
“Sekarang Yantinya di mana? Sudah di sumur?”
“Yanti sedang menemani Ning Diyah belajar di SD, Gus” 
“Oh, begitu. Jadi Sari sendirian saja mencucinya?”
“Nanti saya akan minta bantuan khaddam yang lain, Gus”.
Fahmi mengangguk-angguk. Hening beberapa saat 
“Maaf gus, saya permisi”, Sari memecah keheningan.
“Oh, silahkan”.
Baru beberapa langkah, suara itu menahannya lagi. 
“Oh iya, Sari!”
Dengan tetap menunduk, Sari berbalik. “Ka’dintoh”, sahutnya pelan.
“Besok-besok, para khaddam ndak perlu mengambil pakaian kotor saya ke kamar lagi, ya,” ,ujar putra kyai itu.
“Maaf, Gus, karena saya sudah tidak sopan masuk ke kamar Gus Fahmi. Tadi Nyai Sepuh yang menyuruh saya mengambil pakaian kotor Gus Fahmi”
“Oh, bukan itu maksud saya. Saya sudah terbiasa mencuci baju sendiri. Jadi, di sini saya ndak mau merepotkan para khaddam. Untuk seterusnya, biar saya sendiri yang akan mencuci. Sari tolong bilang sama khaddam yang lain juga, ya”, Fahmi memberi penjelasan.
“Baik, Gus. Kalau begitu, saya permisi”.
“Iya, silakan”.
Lagi-lagi, baru saja Sari berjalan beberapa langkah, suara itu menghentikannya.
“Oh iya. Karena hari ini Sari mencuci baju saya, terima kasih, ya”.
“Sama-sama, Gus”.

Ini adalah pertemuan pertama antara Sari dan Gus Fahmi. Bagaimana kelanjutan kisahnya? 😊 Silahkan di beli bukunya. Ini kisah yang klasik, tapi sungguh menarik. Drama percintaan antara seorang putra Kiai besar dengan seorang khaddam. Banyak pertentangan dan perdebatan di sini. Perjuangkan Gus Fahmi demi bisa untuk bersama Sari sangat besar. Sungguh, benar-benar suami idaman setiap gadis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *