Selasa, 30 April 2019

Resensi Buku Saya, Jawa, dan Islam, Irfan Afifi

Judul: Saya, Jawa, dan Islam
Penulis: Irfan Afifi
Penerbit: Tanda Baca
Tahun terbit: 2019
Genre: Nonfiksi, Islamic Literature
Peresensi: Nur Hayati Aida

Senang rasanya siang tadi mendapatkan buku ini sampai di rumah. Beruntungnya saya punya cukup waktu selo untuk langsung membacanya. Melihat judulnya saja saya sudah merasa perlu membacanya. Dan benar saja. Saya tak  merasa telah melewatkan beberapa jam untuk membaca buku ini.

Buku ini barangkali mewakili pertanyaan mereka yang  tumbuh di lingkungan pesantren dalam masyarakat Jawa. Bagaimana menjadi Jawa sekaligus menjadi muslim? Apakah keduanya saling berlawanan? Ataukah bisa saling berkoeksistensi? Atau adakah kemungkimam yang lain?

Saya sepakat dengan apa yang diungkapkan oleh Mas Irfan Afifi dalam buku ini. Islam di Jawa bercorak (melalui) tawasuf yang berpilin dengan tradisi, sehingga jalinan antara keduanya (Islam dan Jawa) hampir-hampir tak terlihat. Barangkali ini pula yang membuat Harun Hadiwiyono dalam disertasinya berkesimpulan bahwa Islam di Jawa adalah "lapisan tipis". Atau  pandangan Rasyidi, mantan menteri agama, yang menganggap wirid sebagai ajaran sufisme Jawa yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Penyebar Islam di Nusantara, khususnya Jawa, paham betul dengan karakteristik masyarakat Jawa yang gemar dengan tembang dan kuat ditradisi. Sehingga ajaran agama tak jarang diajarkan lewat tembang atau suluk. Kita kenal dengan macapat, yang di dalamnya berupa pitutur  untuk manusia sejak dalam kandungan hingga masuk ke liang lahat. Mulai dari maskumambang (dalam kandungan), mijil (lahir), sinom (muda), kinanthi (yang perlu tuntunan), gambuh (menikah), dhandhanggula (merasakan pahit getir kehidupan), durma (memberi bakti baik pada masyarakat),  pangkur (masa tua), megatruh (sebelum berpisahnya raga dan roh), yang terakhir adalah pocung ( jasad dibungkus kain kafan ). 

Hal itu sejalan belaka dengan kalimat tauhid La ilaaHa ilLah, yang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan Sangkan Paraning Dumadi. Sangkan paraning dumadi adalah lelakon atau suluk. Sebuah laku yang sangat spiritual. Sebuah perjalanan dari Allah menuju Allah. 

Bahagianya, di buku yang tebalnya 221 ini, Mas Irfan Afifi juga memasukkan satu bab tentang perempuan dalam tradisi Jawa. Meski, sebetulnya dalam bab ini penulis tak betul-betul membeberkan gagasannya. Penulis lebih banyak menggambarkan bagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Risa Permanadeli  (Dadi Wong Wadon: Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern).

Yang perlu dicacat pada bagian ini sebetulnya adalah kekhawatiran penulis tentang apa itu kesetaraan. Jangan sampai apa yang dimaksud dengan pembebasan perempuan adalah bentuk dari neokolonialisme. Di mana Eropa atau Amerika dijadikan standar utama perempuan yang merdeka dan setara.  Apabila tak sesuai dengan standar itu, lantas dinilai terbelakang. Tentu, ini gagasan yang menarik. Bahwa identitas kesetaraan perempuan tak harus berkiblat dengan Eropa.

Sebagai catatan kecil, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam buku ini apabila nanti cetak ulang. Buku yang merupakan kumpulan tulisan ulang ini perlu 'dijahit' kembali supaya tidak lagi ada ruang kosong antara satu bab dengan bab lain. Dan kiranya perlu meminta editor untuk memangkas kalimat-kalimat yang gemuk dan cenderung muspro. Selain juga, ketelitian membaca ulang naskah untuk meminimalisir typo, dan kesalahan penulisan nama (Annemarie Schimmel, Martin Lings, Fritchof Schuon, Diponegoro) pada halaman 11.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *