Review Buku Waktu Untuk Tidak Menikah, Amanatia Junda

Judul Buku: Waktu Untuk Tidak Menikah
Pengarang: Amanatia Junda
Penerbit: Mojok
Tahun Terbit: Januari 2019
Jumlah Halaman: 178
Genre: Fiksi
Pe-review: Iffah Hannah

Kumpulan cerita pendek karya Amanatia Junda ini memuat 14 cerpen yang semuanya memiliki tema sentral tentang perempuan. Berkelindan di dalamnya, kisah percintaan, rumah tangga, persahabatan, buruh perempuan, dan lain sebagainya. Ada beberapa cerpen yang sangat berkesan dalam buku ini. Salah satunya yang berjudul “Baru Menjadi Ibu”. Cerpen itu mengisahkan tentang perempuan korban perkosaan yang diceraikan oleh suaminya sebab suaminya (dan keluarga besarnya) tak bisa menerima kehamilan yang menimpa si perempuan sebagai akibat dari perkosaan yang terjadi. Perkosaan itu terjadi di angkot yang dinaiki si tokoh perempuan dalam perjalanan pulang selepas maghrib dari rumah mertuanya. Ia nekat pulang meski sudah gelap karena tak tahan dengan omongan keluarga besar suaminya yang terus mempertanyakan kehamilannya karena setelah bertahun-tahun menikah ia tak kunjung hamil. Di sini, Amanatia menunjukkan betapa dalam soal keturunanpun, perempuan menjadi pihak yang disalahkan, dianggap tidak becus menjadi istri sebab tak kunjung memberi keturunan. 

Kasus perkosaan di angkot yang dikisahkan dalam cerpen itu memanggil ingatan kita tentang berita-berita serupa yang sungguh terjadi di kehidupan nyata. Dalam cerpen itu, kasus perkosaan yang sudah dilaporkan ke polisi seperti menguap begitu saja. Sang narator, perempuan korban perkosaan itu, menuturkan bahwa mungkin kasusnya tidak diurus karena polisi punya banyak kasus-kasus lain yang dianggap jauh lebih penting  dan secara tidak langsung, narasi ini justru mengkritik proses hukum yang memang jarang berpihak pada perempuan, khususnya korban perkosaan. Perceraian yang menimpa si tokoh perempuan juga menunjukkan bahwa kesalahan tragedi perkosaan tersebut ditimpakan kepada si korban, sehingga kehamilannya pun ‘perlu’ dihukum dengan perceraian. Keputusan si tokoh perempuan untuk mempertahankan kehamilannya sampai melahirkan ini justru malah menunjukkan perlawanan terhadap kondisi sosial yang menekannya. Bahwa ia memiliki otoritas terhadap tubuhnya dan ia berani mengambil pilihan tersebut meskipun ancaman perceraian ada di depan mata. 

Yang menarik dari cara penceritaan Amanatia dalam cerpen ini adalah, tokoh-tokoh dalam cerpen ini tidak ada yang bernama. Berbeda dengan cerpen-cerpen lainnya yang tokohnya diberi nama secara spesifik, di sini, Amanatia seolah ingin menegaskan bahwa orang-orang yang terlibat di sana bisa jadi adalah kita. Perempuan korban perkosaan yang dipersalahkan itu bisa jadi kita, orang-orang yang menyalahkannya pun bisa jadi juga kita. 

Cerpen lainnya yang cukup menarik adalah “Sepasang Bulu Mata Merah” yang menuturkan kisah perempuan-perempuan buruh di perusahaan bulu mata dan salah seorang pekerja yang diperkosa oleh mandornya. Ini mengingatkan saya pada cerita seorang kawan tentang saudaranya yang dilecehkan oleh mandornya sendiri di tempat kerja serupa. Di sini terlihat betapa rentannya buruh-buruh perempuan di dunia ekonomi; upah murah, beban kerja yang tinggi, dan rentan kekerasan seksual. Cerpen terakhir yang juga berkesan bagi saya adalah “Planet Tanpa Gravitasi”. Dengan setting post-apokaliptiknya, cerpen ini menuturkan kisah mantan sepasang kekasih yang memutuskan mengamputasi kenangannya dan ini langsung mengingatkan saya pada film “Eternal Sunshine of The Spotless Mind” yang dibintangi Jim Carrey dan Kate Winslet. 

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen Amanatia dalam buku ini menarik, meskipun ada beberapa cerpen yang sedikit membosankan gaya penuturannya. Namun cerpen-cerpen ini seperti memanggil kesadaran kita tentang isu-isu ketidakadilan yang dialami perempuan dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal yang begitu dekat dengan kita, namun sering luput dari perhatian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar