Review Buku Milana, Bernard Batubara

Judul Buku: Milana
Penulis: Bernard Batubara
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Kedua, Mei 2013
Tebal: 192 halaman, 20 cm
Genre: Fiksi
Peresensi: Ihdina Sabili

Senja memeluk perempuan dengan lukisan dalam penantian

Perempuan merupakan sosok manusia yang umumnya merepresentasikan kecantikan, keindahan dan kesenduan. Sedang senja mewakili dari unsur alamnya. Maka ketika perempuan dan senja bertemu, maka di sanalah seluruh perumpamaan indah dan romantis tergambarkan. Setidaknya diupayakan oleh penciptanya, apakah itu kisah ataupun sajak.  Jika segala sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Maka kedua makhluk ini merupakan sesuatu yang bertugas mengindahkan.

Begitu juga dengan isi buku ini. Bernard sebagai seorang laki-laki sekuat tenaga menyajikan keindahan demi keindahan melalui tutur bahasa dari anak batinnya berupa rangkaian cerita. Di dalamnya terkumpul  lima belas judul dengan dinamika cerita yang beragam. Namun kesenduan yang dihadirkan oleh semua menjadi terwakilkan oleh ilustrasi yang tersaji di sampul buku ini. Warna senja mendominasi penafsiran rasa lelah dalam penantian dan syahdu renungan perempuan.

Pada setiap cerita dalam buku ini, selalu mengandung luka, sakit, yang entah itu begitu basah atau juga telah hilang mengering. Namun bekasnya tentu masih tertinggal begitu dalam dan nyata. Ada beberapa fenomena yang dihidupkan oleh Bang Benz melalui tokoh-tokoh fiksi dalam cerita khayalnya. Namun menjadi begitu nyata jika direfleksikan ke dalam kehidupan manusia. Sebagaimana dalam judul ‘Lelaki Berpayung dan Gadis yang Mencintai Hujan’. Siapa sangka jika dua tokoh utama di sini adalah penggambaran sesosok malaikat dan setan. Menjadi sarana kontemplasi pada berbagai macam perbuatan manusia di muka bumi.

Selain itu, jika diibaratkan karya seni lukis, cerita-cerita Bang Benz ini juga di antaranya bersifat abstrak. Meski begitu nilai filosofi yang dibawa tetap bisa diterima dan ditafsirkan oleh logika manusia. Contohnya dalam cerita berjudul ‘Pintu yang Tak Terkunci’. Cerita yang terinspirasi dari puisi Robert Frost berjudul The Lockless Door ini begitu sunyi namun mencekam di setiap runtutan adegan pada paragraf demi paragraf. Namun apa yang tersaji di akhir cerita mungkin benar-benar plot twist bagi para pembaca.

Terkadang membaca cerita pendek Bang Benz juga diperlukan waktu lebih untuk bisa memahami alur dan pesan yang tersimpan di balik cerita. Penggunaan tokoh yang tidak selalu riil dalam bentuk manusia juga memberi kesan aliran surealis dalam penuturan cerita. Hal ini membuatnya menghadirkan unsur ketegangan tersendiri dalam membacanya. Dalam judul Milana, khususnya, adaptasi metode dari karya seni lukis begitu nyata ditunjukkan.

“Bukan gambar-gambar abstrak dan surreal seperti lukisan Salvador Dali atau Max Ernst (saya tahu nama-nama itu dari seorang teman yang kuliah di bidang seni). Perempuan itu hanya melukis senja. Selalu senja.” (Milana,177)

Dalam Milana juga, Bang Benz menuangkan isi kepalanya tentang betapa dekatnya hubungan keindahan dan kesepian antara perempuan, senja dan menunggu. Seperti menemukan ramuan untuk mantra terbaik atau resep untuk sajian terlezat. Begitu pula senja milik Milana di kapal ferinya dengan lukisan di tangannya. Merupakan sebuah kesatuan indah yang dibalut oleh rangkaian diksi ajaib sehingga menghasilkan alur yang unik dan mendalam.

Pada akhirnya, kumpulan cerita pada buku ini menyuratkan bagaimana sebuah kesedihan dan luka yang lahir dari sakit tidak akan hilang begitu saja. Jika ada pepatah waktu akan menghapus segalanya, maka kata cerita dalam buku ini adalah, kita sendiri yang harus dengan jantan menghadapi dan merangkulnya. Karena hati atau jiwa yang pernah terluka tidak akan serta-merta sembuh dengan sendirinya. Tanpa ada upaya nyata dari gerak si pemiliknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar