Selasa, 25 Juni 2019

Resensi Buku Hadrah Kiai, Raedu Basha

BERNYANYI DENGAN PERI DI AULA API
(curahan hati ba’da lima kali membaca Hadrah Kiai)



Judul Buku: Hadrah Kiai
Penulis: Raedu Basha
Penerbit: Ganding Pustaka Yogyakarta
Cetakan: Pertama, September 2017
Tebal: XXIII + 116 halaman
Genre: Sastra
Peresensi: Aida Mudjib


“This is The Hall of Fire”

Suatu sore saya mendapati seorang membimbing ke suatu ruangan.

“Here you will hear many poems and songs.”

Light and music was about me. Those near me were silent, - intent upon music of the voices and instruments, i gave no heed to anything else and began to listen -

“Dari Yaman ia bertandang
Tanah Nabi Hud kota Hadramaut
Titisan darah suci Nabi Muhammad
Mengalir dalam denyut
...”

*
Saya beranjak remaja ketika orang tua mulai memberikan jatah uang saku bulanan yang bisa saya sisihkan sedikit-sedikit untuk satu atau dua buku tiap bulan dan saya – yang pandir dan faqir kalimat ini, terpesona pada sajak dan puisi.

Bermain bersama Thayr l-Uryan unggas sulthani Fansuri, mengangankan rasa bersama kecipak genangan air hujan bulan juni kakek Sapardi, menyumpahi dunia bersama Chairil dan mojok di mihrab Gus Mus.

Tetiba ketika mengeja Hadrah Kiai saya langsung teringat Aula Api. Bagi saya penyair adalah titisan Peri dari Dunia Tengah yang tersesat ketika berlayar dan terdampar ke dimensi ini. Raedu Basha salah satunya.

Bagi yang pernah membaca karya JRR Tolkien baik karya terkenalnya TLOTR series maupun yang kurang terkenal seperti Silmarillion pasti pernah membaca tentang para Peri salah satu ras ciptaan tolkien yang sangat menggilai lagu dan puisi. Baik peri Rivendell, Greenwood maupun Lorien suka mendendangkan kisah pahlawan, mengingat keindahan dan kejayaan serta belajar sejarah menghargai kehidupan lewat rangkaian syair dan puisi. Budaya, kebijaksanaan dan kisah-kisah dihargai tinggi.
Di Rivendell para peri benyanyi dan berpuisi di kolam, di taman dan di hutan. Namun ada tempat khusus yakni Aula Api, tempat para peri mengabadikan para tokoh dan pemimpin, para pahlawan dan raja-raja  lewat puisi. 

Sebagian besar puisi yang ditulis Tolkien untuk buku-bukunya dibuat bukan sebagai rangkaian acak baris berima tetapi sebagai bagian yang perlu, selaras dari episode tertentu dalam sebuah cerita. Seseorang tidak dapat - dan tidak seharusnya - mencoba memahami kata-kata ini tanpa konteks suasana Dunia Tengah atau kalau tidak, mereka tidak akan masuk akal. Dalam karya Tolkien, puisi melengkapi narasi dan menambahkan dimensi yang diperlukan. tanpa puisi-puisi itu, Dunia Tengah akan tampak datar dan kurang mendalam karena lapisan budaya yang sangat signifikan akan dihilangkan dari dunia.

Pun ketika mengeja Hadrah Kiai, saya merasa ini bukanlah rangkaian bait dan irama yang terpisah dari dunia tapi merupakan bagian yang penting, - tidak hanya perlu - dalam melengkapi narasi mengenai para ulama dan auliya Nusantara.

Raedu memiliki gaya puisi yang cenderung sufistik dalam membantu mempelajari nilai-nilai, latar belakang, dan budaya kiai. Susunan syairnya digunakan untuk hiburan, menyampaikan berita, pesan atau peringatan, dan dorongan. Tetapi salah satu peran paling penting dari puisi Raedu adalah memberikan referensi sejarah melalui dongeng dalam bentuk sajak. Puisi dan lagu berisi lapisan besar informasi sejarah dan petunjuk tentang latar belakang cerita yang gemilang, masa lalu para kiai yang membuana di dunia dan sejarah mereka yang panjang.

Hadrah Kiai, seperti puisi Beren dan Luthien hingga Buku Merah Westmarch karangan Tolkien, berfungsi sebagai cerminan budaya, tradisi, nilai-nilai, latar belakang, dan sejarah masyarakat. Raedu juga bersyair di hadapan tentang siapa saja dan peristiwa apa pada periode waktu tertentu di Nusantara dari Serat Azmatkhan menuju Ziarah Walisongo hingga Dari Nawawi ke Syaichona yang menumbuhkan aneka ratna mutu manikam kiai dan habaib sanadnya bersambung tak putus dari Hadratusyekh, Kiai Ahmad Dahlan hingga Gus Dur, Abi Quraisy Shihab, Gus Mus dan para almukarrom lainnya.

Hadrah Kiai dibagi menjadi dua bagian: Hadrah Arwah dan Hadrah Hayah menunjukkan bahwa kehidupan tidak pernah berhenti dan akan terus bergerak maju. Siklus yang terus berputar menunjukkan bagaimana para pahlawan datang dan pergi, bagaimana berbagai permasalahan bangsa berulang dari zaman ke zaman dan selalu ada ulama dan aulia sebagai tempat berpegangan atau -jika terlalu pendek akal seperti saya ini sehingga tak sanggup menggapai- cukuplah tempat menjatuhkan pandangan.

Hadrah Kiai adalah penghubung erat antar zaman, menjembatani budaya masa kini dan masa lalu bersama-sama dan berfungsi sebagai transmisi kisah-kisah besar dari masa lalu, menjaga peristiwa masa lalu. hidup untuk generasi yang akan datang agar dapat belajar dan terinspirasi.
Suatu hari saya mengangankan, suatu generasi bijak bak peri akan berkumpul di aula api mereka, mendendangkan syair dan puisi Nusantara. Dari Fansuri, Mustofa Bisri hingga Raedu Basha.

Amin.

Jombang, 20 Syawal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *