Senin, 15 Juli 2019

Resensi Buku Devdas, Sarat chandra Chattopadyav

KEGAGALAN TOTAL YANG SUKSES
(Ulasan buku Devdas)

Judul Buku: Devdas
Penulis: Sarat chandra Chattopadyav
Penerbit: Penguin books India
Edisi bahasa: Inggris
Cetakan: Pertama Agustus, 2013
Tebal: 128 halaman
Genre: Fiksi
Peresensi: Aida Mudjib

Tentang penulis

Sarat Chandra Chattopadhyay adalah seorang novelis Bengali legendaris dari India. Dia adalah salah satu novelis Bengali paling populer di awal abad ke-20. Masa kecil dan masa mudanya dihabiskan dalam kemiskinan yang mengerikan karena ayahnya, Motilal Chattopadhyay, adalah seorang pemalas dan pemimpi dan tidak menafkahi dan memberikan perlindungan kepada lima anaknya. Saratchandra menerima sangat sedikit pendidikan formal namun mewarisi hal lain yang berharga dari ayahnya, kemampuan imajinasi yang hebat.

Isi buku

Devdas adalah seorang pemuda dari keluarga terhormat di India pada awal 1900-an. Parvati (Paro) adalah seorang wanita muda dari keluarga kelas menengah. Devdas dan Parvati adalah teman masa kecil.

Devdas pergi selama beberapa tahun untuk tinggal dan belajar di kota Kolkata. Selama liburan, ia kembali ke desanya dan kembali berjumpa dengan Paro. Tiba-tiba keduanya menyadari bahwa kenyamanan mereka satu sama lain telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Parvati menantikan cinta masa kecil mereka berkembang menjadi perjalanan seumur hidup yang bahagia dalam pernikahan. Menurut kebiasaan sosial yang berlaku, orang tua Parvati harus melakukan pendekatan Orang tua Devdas dan mengusulkan pernikahan Parvati ke Devdas.

Ibu Parvati mendekati ibu Devdas dan mengusulkan pernikahan. Meskipun ibu Devdas menyukai Parvati, dia tidak begitu tertarik untuk membentuk aliansi dengan keluarga tetangganya yang kastanya dianggap lebih rendah. Selain itu, keluarga Parvati memiliki tradisi dalam menerima mahar dari keluarga mempelai pria untuk menikah daripada lazimnya masyarakat setempat mengirim mas kawin dengan pengantin wanita untuk keluarga pengantin pria. Tradisi berbeda keluarga Paro tersebut memengaruhi keputusan ibu Devdas untuk tidak menerimanya sebagai pengantin Devdas. Ayah Devdas, Narayan Mukherjee, tidak ingin Devdas menikah terlalu dini sehingga tidak tertarik pada persatuan dua keluarga meski Ayah Paro juga teman baiknya. Ayah Parvati, Nilkantha Chakravarti, merasa terhina pada penolakan kemudian menemukan suami yang lebih kaya untuk Parvati.
Ketika Parvati mengetahui tentang rencana pernikahannya, dia diam-diam menemui Devdas di malam hari, sangat percaya bahwa Dev akan menerima tangannya dalam pernikahan. Devdas Terkejut dengan Parvati yang berani mengunjunginya sendirian di malam hari namun dia juga merasa sedih untuknya. Mengambil keputusan, dia memberi tahu ayahnya bahwa dia ingin menikahi Parvati. Ayah Devdas tidak setuju.

Dalam keadaan bingung, Devdas melarikan diri ke Calcutta. Namun, dalam beberapa hari, dia menyadari bahwa dia seharusnya lebih berani. Dia kembali ke desanya dan mengatakan pada Parvati bahwa dia siap untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk menyelamatkan cinta mereka. Saat ini, rencana pernikahan Parvati sudah dalam tahap lanjut. Gadis ini menolak untuk kembali ke Devdas dan mencaci dia karena kepengecutan dan kebimbangannya. Paro, bagaimanapun meminta Devdas untuk datang dan menjumpainya sebelum meninggal. Dev bersumpah untuk melakukannya.
Di Calcutta, teman Devdas, Chunni Lal, memperkenalkannya ke pelacur bernama Chandramukhi. Devdas kemudian sering minum-minum di tempat pelacur tersebut untuk melupakan Paro. Meski Devdas sering berucap dan berlaku kasar, Chandra yang bisa melihat pria rapuh dan kesetiannya pada Paro, malah jatuh cinta padanya dan merawatnya. Kesehatan Dev memburuk karena terlalu banyak minum dan putus asa - suatu bentuk bunuh diri yang berlarut-larut. Ini membuat Devdas, ketika sadar, makin membenci dan membenci eksistensi dirinya. Dia minum lebih banyak dan lebih banyak lagi untuk melupakan nasibnya.

Mengetahui kematian mendekatinya dengan cepat, Devdas pergi ke Hatipota untuk bertemu Paro untuk memenuhi sumpahnya. Dia meninggal di depan pintu rumah Paro di malam yang gelap dan dingin.

Komentar

Menengok ke belakang, Devdas, sang karakter utama, adalah sebuah kegagalan dalam hidup, cinta, dan dalam keluarganya. Dia adalah anak tidak berbakti yang akhirnya 'dipoles' oleh penulis ketika Dev memberikan bagian warisannya kepada ibunya sebelum berjalan pergi. Dia tidak memberikannya karena cinta dan kewajiban kepada ibunya. Dia melakukannya karena dia telah melangkah ke dunia di mana keluarganya, termasuk warisan, menjadi tidak berarti baginya.

Ini membawa pertanyaan Apakah ‘karakter penuh kegagalan’ dalam sinema dan sastra menjadi pahlawan besar bagi penonton dan pembaca? Hamlet dan Othello-nya Shakespeare juga serupa, jika dilihat dari perspektif tertentu. Namun, mereka diabadikan dalam representasi variatif dalam kritik sastra, drama, dan film.

Dua wanita dalam kehidupan Devdas lebih kuat, lebih percaya diri, dan tangguh daripada yang bisa diharapkan dari Devdas. Mereka membuat pilihan mereka ketika mereka harus dan, sebanyak mungkin, menjalani kehidupan dengan cara mereka sendiri. Tidak demikian, Devdas. Dia memiliki cinta narsistik dan menggelora, dia berkubang dalam rasa kasihan diri; egonya terluka oleh penolakan ayahnya dan pernikahan kekasihnya dengan zamindar yang usia tuanya menjamin keperawanan Paro tetap utuh. Dia membuat alkohol menjadi istrinya, kekasihnya, dan temannya dalam kehidupan dan kematian.

Karya-karya Chattopadhyay memiliki rasa universalitas, yang membuatnya ramah dan menjadi topik yang familiar bagi para pembuat film. Para sineas tidak pernah berhenti terpesona oleh penulis ini. Sejauh ini sudah 18 film dibuat berdasarkan Devdas Suasana sosial masyarakat dalam novel-novelnya mungkin sudah ada yang menjadi masa lalu, tetapi cerita, romansa tokoh-tokohnya, konflik dan perubahan dramatis dalam hubungan mereka satu sama lain, terus membuat pembaca dan penonton tersihir, tidak pernah keberatan pertanyaan kredibilitas atau logika yang mungkin mereka ajukan atas nilai moral karakternya.

Jombang, 15 Juli 19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *