Resensi Buku Anatomi Rasa, Ayu Utami

Judul: Anatomi Rasa
Penulis: Ayu Utami
Penerbit dan Tahun Terbit: KPG, 2019
Jumlah Halaman: 277
Genre: Nonfiksi
Peresensi: Iffah Hannah

“Kehendak akan kebenaran bisa menjelma syahwat akan kebenaran. Agama bisa juga melahirkan sikap dogmatis, bahkan tindak kekerasan, pembunuhan, dan terorisme atas nama agama.” – Ayu Utami, Anatomi Rasa hal. 170

 Anatomi Rasa ini adalah salah satu buku dalam seri Spiritualisme Kritis, namun masih berhubungan dengan seri Bilangan Fu yang ditulis Ayu Utami bertahun lalu. Buku ini adalah sekumpulan tulisan—surat—Parang Jati untuk perempuan yang dicintainya, Marja, tentang pemikirannya mengenai Rasa yang didasarkan pada khazanah spiritual Jawa (dalam kaitannya dengan ajaran Hindu, Buddha, dan Islam).

Membedah anatomi Rasa ini, diawali dengan pemaparan perjalanan Bima mencari Tirta Pawitra, dimana ajaran implisitnya mencakup tiga pokok ajaran utama: satu, adanya ketidakterbatasan yang digambarkan dengan bentangan samudera tak berbatas; dua, adanya kenyataan di balik permukaan yang harus diselami yang digambarkan oleh metafora lautan; tiga, adanya paradoks spiritual, dimana Bima nan perkasa harus masuk ke dalam dirinya yang kecil untuk menemui yang tak terbatas dan maha sempurna.

“Jika engkau mencari kebesaran, maka kau harus menjadi yang paling kecil... Jika engkau mencari yang ilahi, kau harus masuk ke dalam diri. Engkau mencari yang transenden, kau resapi yang imanen... Jika engkau mencari kehidupan, kau harus berani menjalani kematian.” –Ayu Utami, Anatomi Rasa hal 11.

Penjelasan-penjelasan Rasa yang didasarkan dari ajaran Dewa Ruci ini dibahas bersama dengan penafsiran terhadap serat-serat pujangga Jawa seperti Yasadipura (dari Serat Cebolek dan Dewa Ruci Jarwo), Ranggawarsita, Mangkunegara IV, juga ajaran-ajaran Hindu-Buddha-dan tasawuf Islam dan pemikiran filsuf-filsuf Barat.

Ia juga menjelaskan tafsiran Suhubudi, ayah Parang Jati, dalam kaitannya dengan Rasa, yaitu mengenai nafsu manusia. Empat nafsu manusia—aluamah, amarah, supiah, dan mutmainah dengan empat cahaya yang merepresentasikannya yaitu merah, hitam, kuning, dan putih—menurut Suhubudi sejatinya setara. Keempat nafsu tersebut sejatinya baik dan menjadi daya hidup bagi manusia, namun menjadi penghalang hati ketika salah satu atau lebih menjadi tidak terkendali, ketika nafsu tidak lagi menjadi nafas tetapi menjadi syahwat.

Membaca pemikiran-pemikiran dalam bentuk tulisan Parang Jati ini sangat menarik, terutama bagi mereka yang memang senang dengan spiritualisme Jawa dan tasawuf. Bagi mereka yang belum membaca seri Bilangan Fu, buku ini sebenarnya tetap bisa dinikmati sebagai sebuah buku tunggal yang berdiri sendiri. Tetapi jika ingin menyelami lebih dalam karakter Parang Jati, juga Marja, kekasih yang tak ia miliki, tidak ada salahnya untuk juga membaca seri Bilangan Fu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar