Home Ads

Senin, 12 Agustus 2019

Resensi Buku Tuhan yang Tersembunyi, Kumpulan Esai Mojok

Judul: Tuhan yang Tersembunyi, 
Penerbit: Mojok
Tahun terbit: 2019
Cetakan: Pertama
Halaman: xii, 216 hlm
Genre: Sastra
Peresensi: nabilah munsyarihah

Buku ini memuat 30 esai singkat yang terdiri dari ulasan tentang 17 novel dan 13 cerpen dari 13 penulis Indonesia dan 17 penulis luar.  Apakah ini semacam kumpulan resensi? Jawabannya bukan. Tiap esai dalam buku ini mungkin memang membahas naskah sebagian dalam bentuk buku, tapi sebagian lainnya bukan. Seluruh naskah yang diulas dalam buku ini adalah karya sastra yang dianalisis dengan satu cara pandang yang sama. Sebenarnya jika ditilik, tidak benar-benar ada kesamaan satu karya dengan karya lainnya, kecuali memang penulis sengaja melihatnya melalui satu kacamata yang telah ia siapkan sehingga entah betapa gamblangnya atau betapa tersembunyinya hal yang hendak diulik, ia akan menampakkan dirinya di depan penulis. Kacamata itu bernama agama.

Tulisan saya yang sedang Anda baca ini mungkin memang mendekati resensi karena saya hendak mendeskripsikan secara singkat isi buku ini. Tapi cara kerja mas Hairus Salim dalam menulis buku ini sama sekali berbeda dengan cara penulis resensi. Di setiap esai, Anda akan menemukan sudut pandang yang selalu sama yaitu penelisikan unsur agama dalam karya yang dibahas, ulasan cerita,  dan kutipan penting yang menunjukkan perspektif penulis cerita untuk mendudukkan agama dalam karya sastranya, entah novel atau cerpen.

Peresensi buku mana yang hendak secara sengaja menguatkan sudut pandang agama dalam membedah novel Bumi Manusia? Berbeda dengan novel Maryam yang memang menceritakan konflik antara penduduk Ahmadiyah dengan warga kampung lainnya di Lombok. Mas Hairus Salim mengajak pembaca untuk menyelami bahwa agama dalam banyak karya sastra baik di Nusantara maupun di mancanegara menunjukkan agama sebagai hal yang dekat sekaligus problematis dalam kehidupan.

Ada tiga bentuk rupa agama dalam naskah-naskah yang diulas. Pertama, agama sebagai proses pencarian. Kedua hubungan yang kompleks antarumat beragama atau intraumat bergama. Ketiga, kritik terhadap ajaran atau praktik keagamaan dan budaya yang dikawinkan dengan agama. 

Semua esai ini sifatnya reflektif. Meski belum membaca karya sastra yang diulas, pembaca diberikan gambaran besar cerita dan bagian-bagian yang spesifik menyinggung persoalan agama atau Tuhan. Jika dalam ulasan deskriptif buku atau film pada umumnya penulis akan menghindari bocoran atau spoiler, Mas Hairus Salim begitu pemurah menjelaskan cerita kadang sampai ujungnya. Sebagai pembaca, saya tidak keberatan mendapat spoiler, saya tetap terdorong ingin membaca judul cerita yang belum pernah saya baca. Misalnya, saat membahas karya cerpen Tolstoy yang berjudul "Gods Sees The Truth, but Waits", Mas Hairus Salim gamblang sekali meringkas cerita dari awal sampai akhir. Tanpa tahu gambaran lengkap, saya sebagai pembaca ulasan akan kesulitan memahami refleksi yang ia tulis. Sebab yang ingin Mas Hairus Salim sajikan adalah bagaimana agama hadir dalam kehidupan tokoh. Agama yang membawa kerumitan bagi keluarga Hari yang memperdebatkan pembangunan kubur ibunya, agama yang menjadi pembatas Cinta Atma yang muslim terhadap Wardinah yang Katolik, identitas agamanya yang menjadi sumber konflik keluarga Maryam yang Ahmadiyah. Juga tentang sejarah agama tentang Kain (Qobil) pembunuh pertama dalam sejarah manusia yang diputar menjadi pengkritik banyak kejadian kematian yang tragis dalam sejarah agama, dan praktik budaya yang memenjarakan gadis cantik nan cerdas seperti Zarri Bano yang dinikahkan oleh ayahnya dengan Al-Quran di Pakistan. Pembaca akan diajak menjelajah dari satu naskah ke naskah lain dan kita akan menemukan bahwa dalam karya sastra agama bebas didialogkan. Kita akan menemukan gambaran agama yang sangat kaya, kompleks, sekaligus menyentuh. 

Mas Hairus Salim membagi 'pengalaman membaca'nya kepada pembaca bukunya. Jika Anda ingin tahu bagaimana pengalamannya, sebagian besar esai ini juga bisa diakses di rubrik Iqra situs Mojok.co. Saya pribadi lebih suka memegang buku dalam bentuk fisik daripada membaca layar dalam waktu lama. Demikian pengalaman membaca saya tentang buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *