Resensi Buku Mendidik dengan Cinta, Evi Ghozaly


Judul: Mendidik dengan Cinta
Penulis: Evi Ghozaly
Penerbit: Prenadamedia Group
Tahun terbit: Mei  2019
Cetakan: 1
Halaman: xvi, 160hlm 
Peresensi: Nabilah Munsyarihah

Kini buku parenting sedang booming-boomingnya. Ada parenting a la Denmark, ada yang katanya a la Nabi, ada metode montessori, dan lain-lain. Arus informasi orang tua masa kini jauh berbeda dengan masa dulu yang relatif minim info. Sekarang orang tua bisa memilih gaya apapun untuk mendidik anaknya. Tapi yang terpenting mendidik anak itu harus lah dengan Cinta. Itu yang ingin disampaikan oleh Ibu Evy Ghozaly dalam buku ini. 

Penulis buku ini sebenarnya tidak berlatarbelakang psikologi. Tapi beliau menjadi konselor pendidikan karena beliau berkecimpung di dunia pendidikan. Pengalaman menjadi konselor di berbagai lembaga ini lah yang menjadikan beliau matang. Tidak jarang beliau berbagi di akun facebooknya pengalaman berbagi dengan anak-anak yang menghadapi masalah. Tidak mudah mengajak mereka bicara kecuali punya hati yang lembut dan penuh Cinta. 

Apalagi orang tua terhadap anak-anaknya, apapun keadaannya, anak-anak harus dididik dengan cinta. Cinta orang tua terhadap anak adalah sesuatu yang niscaya pemberian dari Allah. Tanpa cinta, orang tua tak mungkin mau berlelah-lelah merawat bayi yang lemah, mencari nafkah, dan menghadapi berbagai situasi anak yang berbeda-beda. Cinta mulanya adalah niscaya, tapi jika tidak dirawat dan dimanajemen, maka orang tua bisa kehilangan kendali. 

Buku ini menyajikan teori-teori singkat seputar perkembangan anak. Bagaimana perkembangan anak mulai lahir sampai memasuki usia remaja. Yang bagi saya istimewa, Bu Evi memberikan beberapa kasus yang harus dihadapi orang tua. Seperti anak yang kecanduan televisi, anak yang mengalami autisme,  dan lain-lain. Kasus-kasus itu meski berbeda-beda, tapi menunjukkan bahwa orang tua harus dibekali dengan ilmu juga menjaga kestabilan tanki emosi. 

Tanki emosi adalah energi orang tua dalam menghadapi anak. Jika orang tua kehabisan tanki emosi, kesabaran akan menipis dan memicu konflik orang tua - anak. Sebenarnya logika tanki ini tidak hanya soal penuh dan kosong. Suatu hari saya pernah nonton program televisi luar negeri yang menguji coba mobil mana yang lebih mudah meledak, mobil yang penuh terisi bahan bakar atau yang setengah terisi atau yang seperempat terisi? Ternyata setelah diatur sedemikian rupa untuk memicu api, mobil yang paling sedikit terisi yang lebih mudah meledak. Karena ruang kosong di dalam tanki berisi lebih banyak oksigen sehingga lebih mudah memicu ledakan. Demikian juga dengan tanki emosi kita, ketika tanki emosi positif kita berkurang maka sisanya akan dipenuhi dengan emosi negatif yang memicu amarah, kesedihan, dan semacamnya. Emosi negatif orang tua akan sangat mudah menyalur pada anak karena anak begitu pintar meniru orang tua. Ketika anak bertindak menjengkelkan, tidak menurut, bahkan memberontak orang tua sebaiknya berefklsi dulu jangan-jangan memang ada sikapnya yang menyakiti anak karena orang tua gagal mengelola emosinya. 

Selain disasarkan pada orang tua, buku ini juga diperuntukkan bagi guru. Karena peran orang tua dan guru itu hampir sama dalam mendidik anak. Hanya dengan Cinta dan ketulusan, orang tua dan guru bisa berhasil membentuk karakter anak dengan baik. Sikap marah seperti membentak anak tidak akan bisa mengubah perilakunya, sebaliknya akan membuat anak mengulangi kesalahan bahkan memberontak. 

Buku ini tidak hanya berisi saran 'biasa' seperti membangun komunikasi yang baik dengan anak dan semacamnya, tetapi juga mendorong orang tua untuk berintrospeksi dan membangun hubungan yang baik dengan yang maha Cinta melalui memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak dzikir dan sholawat, riyadhoh dengan puasa, menyediakan makanan yang halal, dan memberikan keteladanan. Dengan demikian, anak yang merupakan amanah dari Allah sepenuhnya dipasrahkan kepada Allah agar dijadikan anak yang baik dan terpenuhi kebutuhannya secara fisik, psikologis, dan ruhani. 

Penulis juga memberikan gambaran singkat tentang penanggulangan dunia remaja seperti soal kekerasan, bullying, pornografi, dan isu penggunaan internet. 

Buku ini merupakan buku ringan yang mudah dipahami dan dipraktekkan. Ilmu yang lumayan untuk menambah bekal di jalan membersamai tumbuh kembang anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar