Kamis, 10 Oktober 2019

Cerpen Syaikhona dalam Diary Jingga (bagian 2)


Aku diam saja dalam tangisku. Hatiku sedih. Buat apa aku belajar keras kalau aku dishod sama guruku tidak barokah ilmuku? Buat apa aku mondok kalau ilmuku tidak diridloi guruku? Buat apa jadi santri kalau guruku membenciku? Aku marah pada diriku sendiri!

Ya Allah, tolong aku. Aku harus bagaimana?

Bapak, maafkan aku... Aku takut sekali saat ini. Aku takut tidak dapat ridlo guruku. Aku takut tidak bisa jadi orang berguna seperti yang bapak harapkan. Padahal berulang kali bapak berpesan jangan sekali-kali aku menyakiti hati guruku. Ridlo guru sama dengan ridlo orang tua. Ya Allah, bapaaaak... Aku harus bagaimana?

***

Goresan tinta di halaman itu meluber terkena tumpahan air mata yang mengering.

“Terus akhirnya kamu dimaafin?” tanya Mas Maula.

“Baca aja lanjutannya,” jawab Rahma.

“Kamu aja yang cerita. Kayaknya tulisannya masih panjang sampai selesainya kasus.”

“Aku sowan ke ndalem, tapi beliau kebetulan tindakan. Sampai tiga kali pertemuan di kelas, Pak Maliki masih nyindir aku terus. Aku juga terus nangis kalau jam pelajaran beliau. Tapi aku tidak berani bicara apa-apa. Akhirnya wali kelas mau memediasi. Aku minta maaf, alhamdulillah akhirnya Pak Maliki mau memaafkan.”

“Oh ini ya akhirnya,” Mas Maula membaca penggalan terakhir.

“Kata Pak Maliki, Syaikhona saja mendoakanku jadi diplomat. Masa Pak Maliki yang guruku sendiri mau menghalangi doa Syaikhona yang alim allamah. Beliau memang mengaku tersinggung dengan sikapku. Beliau juga minta maaf karena kurang sabar mendidik murid-murid. Pada dasarnya, Pak Maliki orang yang sangat tawadlu’, kami saja murid-muridnya yang kelewatan membuat beliau duko.
Secara khusus aku meminta keridloan beliau agar ilmuku bermanfaat. Alhamdulillah beliau ridlo. Aku tidak jadi dishod. Ya Allah aku lega sekali rasanya. Apalah aku tanpa ridlo guruku....”

***

“Secara tak langsung, pangendikan Syaikhona menyelamatkanku karena Pak Maliki sangat menghormati beliau,” ucap Rahma lirih.

Rahma meminta perbincangan mengenai buku diarynya berhenti di situ. Mereka harus menata banyak hal sebelum keberangkatan ke Makkah lusa. Rahma menata beberapa barang yang akan ia simpan di meja kerjanya di kantor KBRI Riyadh.

Rasanya ia belum percaya kalau ia akan menjadi bagian dari kerja diplomasi antara Indonesia dan Arab Saudi. Apalagi ia kuliah di Sastra Arab, sama sekali tidak terbesit pikiran bekerja di ranah diplomasi. Semua ini karena Pak Romli ditunjuk sebagai pejabat Atase Pendidikan di Kedutaan Indonesia untuk Arab Saudi. Karena poin-poin kerjasama bidang pendidikan antara Presiden Indonesia dan Raja Saudi disepakati tahun lalu, Pak Romli membutuhkan satu staf untuk desk baru. Tugasnya khusus mengurus pertukaran mahasiswa dan dosen terutama di bidang ilmu sains dan ilmu humaniora. Karena ini program rintisan dan belum bisa diterapkan dalam waktu dekat, Pak Romli perlu membuat blue print mulai konsep hingga rencana operasionalisasi.

Pak Romli menunjuk Rahma untuk menjadi stafnya. Sudah bertahun-tahun bekerja bersama, Pak Romli tahu Rahma bisa diandalkan dan yang terpenting Rahma sudah bisa menerjemahkan konsep Pak Romli menjadi berkas atau naskah tertentu sesuai kebutuhan. Pak Romli tak mau ambil pusing menunjuk orang lain yang tidak mengenal cara kerjanya. Di samping itu, tentu karena bahasa Arab Rahma bagus baik aktif maupun pasif.

Rahma tentu sempat sangsi. Sebab ini Arab Saudi, negara di mana akses perempuan sangat dibatasi. Mengapa Pak Romli menunjuk staf perempuan? Ia khawatir justru menghambat kerja diplomatik. Namun Pak Romli menepisnya. Justru karena Putra Mahkota yang kabarnya open minded itu sedang membuka kran akses perempuan terhadap ruang publik yang lebih luas di Arab Saudi, terutama di Riyadh, beliau pikir ini tak akan jadi masalah.

Pak Romli berbaik hati memberikan kelonggaran waktu, Rahma boleh mulai bekerja setelah lebih dulu melaksanakan ibadah haji.  “Setelah musim haji mungkin aku akan bergabung dengan biro haji dan umroh milik kawanku. Aku akan menjadi bagian dari tim yang di Saudi,” ujar Mas Maula.
“Ide bagus, Mas. Maafkan aku ya.. Perasaanku masih janggal membuatmu menerima keputusanku,” kata Rahma.

“Ssst.. Jangan bilang begitu. Ini keputusan kita bersama. Marwahku sebagai suami sama sekali tidak terganggu karena persoalan ini. Tapi suatu hari mungkin kamu juga akan kumintai balas jasa yang setimpal. Misal, kamu harus ikut aku kalau aku ingin sekolah lagi di Mauna atau Zimbabwe,” Mas Maula tertawa lebar.

“Andai Allah memberi rezeki anak pada kita di tengah kesibukan di sini, kita akan menerimanya dengan suka cita, membesarkannya sebaik yang kita bisa,” air mukanya berubah serius, tapi menentramkan. Rahma tak bisa menolak jatuh cinta berkali-kali pada suaminya bahkan setelah tiga tahun pernikahan mereka.

***

Rahma tak percaya akhirnya mereka memasuki Makkah al-Mukarromah setelah mengambil miqat dari As-Sail. Mereka turunkan barang dulu di hotel lalu segera menuju Masjidil Haram untuk umroh. Mereka tiba 15 hari sebelum puncak haji.

Tubuh dan hatinya bergetar saat memasuki pelataran masjid. Meski hampir tengah malam, masjid tetap penuh. Tidak ada yang mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk beribadah di tempat teristimewa di muka bumi. Bayangan liarnya berlompat-lompatan. Di manakah dulu Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail yang masih kecil? Di manakah dahulu letak rumah Sayyidah Khodijah tempat Nabi diselimuti istrinya karena menggigil setelah menerima wahyu? Di manakah Nabi berdiri dan berpidato dengan lantang saat Fathu Makkah?

Melangkah lebih dalam, mulai tampak di pelupuk mata Rahma bangunan kubus besar dibungkus kiswah hitam. Oh itu kah Ka’bah? Rahma tak bisa  menahan deru air mata yang tumpah sambil terus merapal khalimat thoyyibah. Ya Allah, aku di sini memenuhi panggilan-Mu, kata hatinya.

Sepanjang thowaf  ia langitkan rasa syukur beserta doa dan harapan bagi keselamatan dunia akhirat. Kala sa’i, berlari kecil antara Shofa dan Marwa, ia renungkan perjuangan Hajar. Betapa sejarah agama hanif ini ditegakkan melalui tumit seorang perempuan seteguh ibu Ismail. Usai tahallul, Rahma dan Mas Maula berpandang-pandangan seolah ingin waktu membeku saja agar momen indah ini mengekal.

Tapi rasa lelah dan ngantuk akhirnya mendera. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Saatnya istirahat dan kembali ke hotel. Shubuh nanti mereka akan kembali ke masjid untuk sholat jama’ah.

Sebelum tidur, Rahma sempat mengecek ponselnya. Ia menemukan di media sosial foto sahabat lamanya, Isma, yang ternyata juga sedang di Makkah. Ada foto lain, Isma dan suaminya sowan Syaikhona di kamar hotel beliau. Allah, Allah, nikmat ini sunggu tiada tara. Rahma memejamkan mata berharap besok ia bisa bertemu sahabatnya. Boleh lah ia menyimpan angan agar bisa sowan Syaikhona juga.

***

Rahma dan Isma berpelukan erat tepat di depan pintu King Abdul Aziz. Sepuluh tahun mereka tidak bertemu dan beruntung bisa bersua di tempat mulia ini. Mereka pun melewatkan hari bersama di masjid. Keduanya berbagi banyak cerita di sela menunggu sholat jama’ah dan nderes Al-Quran.

“Alhamdulillah, aku masih belum percaya kita bertemu di sini,” kata Isma, “berarti sekarang kamu sudah jadi pejabat ya.”

Tawa Rahma berderai, “apaan sih, aku cuma staf bawahan. Itu pun belum pernah ngantor.”

“Berarti doa Syaikhona waktu itu mendekati kenyataan ya setelah 10 tahun,” suara Isma bergetar.

“Subhanallah memang, meski sebenarnya aku belum siapa-siapa, tapi aku sudah sangat mensyukurinya. Ketika didukani Pak Maliki dulu, aku hampir mengubur dalam-dalam mimpi mencari ilmu sampai tinggi.”

“Kamu mau aku antar sowan Syaikhona?”

“Masya Allah, sejujurnya aku ingin mengatakan itu padamu, tapi aku sungkan.”

“Kamu ini sama aku kok pake sungkan. Nanti aku matur suamiku dulu ya. Semoga bisa sebelum puncak haji.”

Rahma memeluk Isma erat. Ini bukan saja tentang pangendikan Syaikhona yang memberkahi hidupnya, tapi juga rasa cinta yang membuncah pada sosok ulama pengayom itu. Ia merasa, Allah begitu dekat, Nabi Muhammad demikian erat, dan Syaikhona selangkah lagi semoga bisa ia tatap.

***

Rahma dan Mas Maula sudah di Masjid sejak sebelum shubuh. Mereka sudah thowaf, sholat sunnah, dan nderes. Rahma yang nderes menggunakan apilkasi Quran di ponsel merasa terganggu dengan banyaknya notifikasi yang masuk. Ternyata berbagai grup whatsapp mengabarkan berita yang sama bahwa Syaikhona wafat pagi ini di salah satu sudut kota yang sama dengannya. Syaikhona yang kemarin rasanya sudah dekat, kini tiba-tiba mustahil dijangkau.

Rahma memilih menunggu di Masjid setelah ada kabar Syaikhona akan disholatkan bada dzuhur. Sementara Mas Maula ikut mengiring jenazah dari Kantor Urusan Haji Indonesia di Makkah. Jenazah beliau diiringi ribuan orang menuju Masjidil Haram. Rahma menyaksikan orang berduyun-duyun mengiring sambil tak henti menggemakan kalimat tahlil.

Beliau disholatkan di masjid oleh jutaan umat muslim. Rahma menyaksikan sendiri langit Makkah tiba-tiba menggelap, mungkin malaikat ikut turun menghormati kembalinya seorang ulama yang ikhlas ke sisi kekasihnya. Ribuan orang berebut menggotong jenazah beliau menuju pusara di makam Ma’la. Itu lah lomplek makam yang sama dengan istri pertama Nabi Muhammad, Khodijah Al-Kubro.

“Syaikhona, saya di sini menghormati kepergian Panjenengan. Terima kasih telah memberkahi saya dengan doa. Terima kasih melalui doa itu Panjenengan telah menyelamatkan saya dan ilmu saya yang tak seberapa yang akhirnya diridloi guru saya. Saya berdoa dari sini, saya bersaksi bahwa Panjenengan orang mulia,” Rahma merintih-rintih dalam doanya.

Di antara ribuan orang hari itu, mungkin hanya ratusan yang pernah benar-benar ngaji pada beliau. Mungkin hanya segelintir yang pernah mengecup tangan beliau. Tapi tak ada satu pun yang tak merasa menjadi santri beliau. Mereka adalah para santri ruhaniah yang kehilangan sosok dan seluruh khazanah ilmu Syaikhona yang telah dicabut oleh Allah.

Rahma tahu ia bukan siapa-siapa bagi Syaikhona. Mungkin Syaikhona sudah lupa dengan gadis kampung yang berani-beraninya bicara di podium 10 tahun lalu. Syaikhona bahkan tidak tahu bahwa bapaknya pernah nyantri di pesantren beliau. Tapi sosok Syaikhona adalah panutan baginya berkat cerita-cerita bapaknya. Pangendikan Syaikhona hari itu adalah doa sekaligus motivasi yang membesarkan hatinya. Pangendikan Syaikhona mengantarkannya menempuh titik demi titik garis takdirnya.

Ketika tanah Ma’la menerima jasadnya, langit pun menangis.

Sa’duna fid dunya fauzuna fil ukhro
bi Khodijatalkubro wa Fathimatazzahro

Magelang, 19 September 2019   
Nabilah Munsyarihah
PP Roudlotut Thullab Tempuran Magelang
085730559111

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *