Home Ads

Sabtu, 30 November 2019

Resensi Buku Green Island, Shawna Yang Ryan


Judul: Green Island
Penulis: Shawna Yang Ryan
Penerbit dan tahun terbit: Vintage Books, 2017
Jumlah halaman: 385
Genre: Fiksi Sejarah
Peresensi: Iffah Hannah  

“Brutality belonged to the previous decade. Does brutality ever get old? I wondered. Each generation brings a new group of men who have not yet learned the guilt of the last. They need to feel bones breaking under their very own fingers to know for sure how they feel about it.” (Green Island, hal. 333)

“If I had cut my knee, or even lost my leg, the wound would have healed already, but the mind and heart are trained in different ways.” (Green Island, hal. 179)

Di tengah chaos politik pasca Perang Dunia II dan di bawah pemerintahan otoriter Generalissimo Chiang Kai-Shek, pembunuhan massal dan penangkapan aktivis-aktivis pro-demokrasi berlangsung dengan mengerikan. Tokoh sentral di bagian awal novel, Dr. Tsai ditangkap karena berbicara tentang demokrasi di sebuah pertemuan. Penangkapan ini terjadi dua minggu setelah istrinya melahirkan anak bungsu mereka pada Februari 1947 yang menjadi narrator di keseluruhan isi novel ini. Selama lebih dari 10 tahun, Dr. Tsai dipenjara, diinterogasi, dan disiksa di sebuah pulau di Taiwan yang disebut Green Island. Ketika pulang ke keluarganya, ia menjadi orang yang berbeda. Hidup bersama istri dan ketiga anak yang dulu pernah mengenalnya sebelum ditangkap serta seorang anak bungsu yang sama sekali tidak memiliki ingatan atau kenangan tentangnya sama sekali tidak mudah. Beberapa kali, ia masih sering ‘dijemput’ ke Taipei untuk diinterogasi. Dan demi cintanya pada keluarga, ia acap kali terpaksa membuat pilihan-pilihan yang tidak disukai dan terus disesali sampai akhir hidupnya. 

Selain mengisahkan bertahannya sebuah keluarga yang babak belur karena konflik politik, novel ini juga mengisahkan si narrator, perempuan yang merupakan anak bungsu Dr. Tsai dan kehidupannya sebagai imigran di Amerika setelah menikah bersama suaminya, Wei, seorang professor di Berkeley sekaligus aktivis pro-demokrasi yang juga dimusuhi pemerintah Taiwan pada masa itu. Keputusan mereka untuk menampung Tang Jia Bao, tahanan politik Taiwan yang mencari suaka di Amerika, juga menciptakan serangkaian peristiwa yang mengerikan. 

Kebrutalan sebuah rezim serta pilihan-pilihan buruk yang dilakukan warga negara atas nama cinta membuat kita tidak lagi berani membuat penghakiman soal kebaikan dan kejahatan, sebab apa yang tidak mungkin dilakukan demi ayah atau istri yang dikasihi? “I realized that this was what Mama had meant by love. A shared experience, a shared history, a shared trauma: this is what made us a family. No one else could understand it.” (Green Island, hal. 344)

Novel ini ditulis dalam kurun waktu 14 tahun oleh Shawna Yang Ryan ini menggambarkan bagaimana sebuah keluarga harus berjuang melewati masa-masa kebrutalan rezim pemerintahan dengan harga yang amat mahal. Mau tidak mau, novel ini mengingatkan kita pada sejarah politik berdarah kita sendiri pada kurun 65-an dan bagaimana keluarga-keluarga yang hancur pada masa itu masih terus menanggung rasa sakit sampai detik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *