Sabtu, 30 November 2019

Resensi Buku Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

Judul: Orang-Orang Biasa 
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang 
Tahun Terbit: 2019
Genre: Fiksi
Peresensi: Farah Firyal

Orang-Orang Biasa merupakan karya ke-10 dari Andrea Hirata. Saat pertama membuka buku ini yang saya temui pertama kali adalah hal yang sama dengan yang saya temui pada buku-buku sebelumnya, yakni lebih dari 10 halaman berisi puja-puja atas karya Laskar Pelangi dari seluruh dunia. Laskar Pelangi memang fenomenal. Begitupun  8 karya setelahnya. Lalu bagaimana dengan buku orang orang biasa ini?  Seperti judulnya, di dalam buku-buku orang biasa terdapat tokoh-tokoh yang sangat biasa, mereka tidak istimewa, mereka hanya bagian kecil kampung Belitong. Tapi begitula Andrea Hirata. Ia selalu berhasil melahirkan banyak makna sekalipun dari orang biasa. Setiap kali membaca karya Andrea Hirata entah kenapa saya selalu membandingkannya dengan karya Habiburrohman El - Shirazi (Kang Abik). Kang Abik selalu menciptakan tokoh-tokoh sempurna, tidak heran jika semua orang jatuh cinta pada sosok jelmaan malaikat seperti Fahri, Azam, dan Ayas. 

Buku ini bercerita tentang 10 orang biasa yang berkawan sejak kecil dan bernasib sial sejak kecil. Mereka semua merupakan penghuni bangku belakang sekolahnya selama bertahun-tahun. Sejak kecil mereka miskin bahkan sampai dewasa pun begitu. 

Setelah dewasa, hidup mereka tetap menyedihkan. Ada yang jadi orang tua tunggal, ada yang menjadi supir, ada yang menjadi guru honorer sejak kecil, ada yang berganti pekerjaan karena selalu berbuat onar dengan hobi berdandan lalu selfie dan yang paling luar biasa ada yang mengklaim dirinya sebagai motivator padahal tidak ada satu orangpun yang mengundangnya. 

Kisah ini bermula saat salah satu dari sepuluh sekawan yang bodoh dan sial itu memiliki seorang anak yang diterima masuk perguruan tinggi fakultas kedokteran yang mahal. Ia pergi menemui sahabatnya untuk mencurahkan isi hatinya. Hasil musyawarah sepuluh sahabat yang bodoh, miskin, dan sial itu melahirkan keputusan bahwa mereka harus mendapatkan uang sebanyak mungkin untuk memasukkan anak sahabatnya ke fakultas Kedokteran. Cara yang akan di tempuh oleh mereka adalah merampok bank. 

Novel ini memiliki plot twist tak terduga. Andrea Hirata menceritakan proses perampokan bank oleh sekawanan orang dungu dengan hiperbola dan berhasil membuat pembacanya terpingkal-pingkal. Humor dalam novel Andrea Hirata adalah humor yang tidak bisa di visualisikan lewat film. Membaca bukunya memiliki sensasi lebih di banding jika difilmkan. 

Orang - orang biasa berisi kisah manusia - manusia Melayu yang lugu dan bernasib getir tapi di balut dengan kocak dan humoris. 
Reting : 7/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *