Kamis, 19 Maret 2020

Resensi Buku Pride and Prejudice, Jane Austen

Pilih Nikah atau Miskin?


Judul: Pride and Prejudice
Genre: Roman, klasik
Penulis: Jane Austen
Penerbit: the modern library new york, TT
Tahun Terbit: 1813
Bentuk : ebook
Peresensi : Aida Mudjib

"no one can really be esteemed accomplished who does not greatly surpass knowledge of music, singing, drawing, dancing, and the modern languages, to deserve the word; and besides all this, she must possess a certain something in her air and manner of walking, the tone of her voice, her address and expressions, or the word will be but half deserved.
"and to all this she must yet add something more substantial, in the improvement of her mind by extensive reading." (Miss Bingley)

***

Tentang Penulis: 

Jane Austen adalah seorang penulis Inggris, terutama dikenal karena enam novelnya, yang semuanya menafsirkan kehidupan kelas atas Inggris di akhir abad kedelapan belas. Terlahir dalam keluarga besar dan dekat dengan bangsawan Inggris tingkat rendah, dia menulis apa yang telah dia lihat dan alami. Austen mulai menulis pada usia dua belas tahun dan pada usia delapan belas tahun. Karya serius pertamanya 'Lady Susan' ditulis pada usia sembilan belas tahun. Dia kemudian melanjutkan untuk menghasilkan lebih banyak novel.

Isi Buku :

Keluarga Bennet -yang menempati Longbourn estate, memiliki masalah besar yakni 5 anak perempuan dan tidak ada satupun anak laki-laki. Keluarga Bennet setelah nantinya Mr. Bennet meninggal akan punah dalam garis pria. Sialnya lagi, ketika Mr. Bennet meninggal nanti, kediaman dan lahannya Longbourn akan menjadi milik kerabat pria terdekatnya, Mr. Collins.

Tidak satu senpun akan bisa jatuh ke tangan Mrs. Bennett atau 5 putrinya, Jane, Elizabeth 'Lizzie', Lidya, Kitty & Mary. Satu-satunya sumber pemasukan adalah tunjangan dana warisan keluarga asal Mrs. Bennet itupun hanya sebesar £200 pertahun. Dengan 5 putri yang salah satunya saja setahun membutuhkan £90?

Mereka akan tidak hanya jatuh miskin tapi juga kelaparan.

Pride and Prejudice utamanya menceritakan tentang usaha keras Mrs. Bennet untuk memastikan putri-putrinya hidup layak sepeninggal ayah mereka. Dengan cara bekerja, berdagang atau menjadi penulis seperti Jo di Little women? Tentu tidak! Bennet adalah keluarga terhormat dimana bekerja adalah hal yang tidak diperlukan dan tidak dibayangkan, hasil dari petani & penyewa lahan-lah yang selama ini menghidupi mereka. Mr. Bennet juga tidak merasa harus mengerjakan apapun kecuali berdiam di ruang kerjanya membaca buku & sesekali menghadiri pesta. Mustahil sekali Mrs. Bennet akan tega melihat anaknya bekerja. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memastikan mereka menikah dengan pria kaya, lebih bagus lagi jika termasuk bangsawan.

Novel ini mengalir dari sudut pandang Lizzie ketika gadis cerdas, teguh dan pemberani ini bertemu dengan Mr. Darcy yang berkerabat dengan bangsawan Lady DeBourgh, arogan dan dingin nyaris anti sosial, teman dari Mr. Bingley -penduduk baru Meryton- pria kaya target ibunya untuk dijodohkan dengan Jane. Mrs. Bennet yang 'scheming', dengan berbagai cara membuat Jane dan Bingley melewatkan waktu bersama; belum lagi Lidya yang centil dan boros tak peduli keadaan keuangan keluarga, sibuk menggoda para prajurit, sementara ayah mereka cenderung passive. Lizzie sebagai anak kedua juga tidak luput dari rencana perjodohan yang diatur ibunya. Lizzie diharapkan menikah dengan Mr. Collins agar mereka tidak terusir dari Longbourn suatu hari.

Mr. Darcy jatuh cinta pada Lizzie. Namun lamarannya ditolak karena meski terang-terangan berkata bahwa ia menyukai gadis tersebut, namun berkata bahwa keluarga Bennet dan DArcy tidak setara. Ditambah lagi Lizzie mendengar bahwa Darcy tidak hanya membuat Jane & Bingley berpisah namun juga pria kejam dan tak berperikemanusiaan yang membuat Mr. Wickham menderita. Harga dirinya terluka dan prasangka lizzie pada Mr. Darcy menguat.

Tidak menyangka akan ditolak, DArcy rupanya merenungkan bagaimana selama ini ia bersikap lalu memperbaiki diri, bersedia melihat keluarga Bennet lebih dalam -tidak hanya dari Mrs. Bennet yang agresif mencari menantu kaya.

Lika-liku cerita membuat semua kesalahpahaman terselesaikan, DArcy membantu keluarga Bennet dari hilangnya martabat -ketika Lidya kabur dan hidup bersama Wickham tanpa pernikahan. D'Arcy melacak tempat mereka bahkan diam-diam memberikan ribuan poundsterling agar Wickham mau menikahi lidya.

Pandangan Lizzie berubah kepada Darcy dan lambat laun bersedia menerimanya. 

Selain Lady De Bourgh yang menentang hubungan Lizzie & Darcy, everyone happy at last, terutama Mrs. Bennet karena meski Longbourn nantinya tidak lagi ditangan mereka, Jane akhirnya menikah dengan Mr. Bingley yang kaya dan Lizzie juga menikah dengan Darcy yang dua kali lebih kaya dari Bingley dan dengan penghasilan 533 ribu pound pertahun dibandingkan dengan Bennet yang hanya £5000 -meski lizzie menikah karena juga menyukai Darcy, bukan karena kekayaannya. Setidaknya nasib adik-adiknya akan terjamin.

Tentang Buku:

Pride and Prejudice adalah komedi klasik. ada aliran humor halus terselip di halaman-halamannya. Jane Austen dalam banyak kesempatan mengolok-olok kebiasaan sosial saat itu. Mr dan Mrs. Bennet adalah salah satu aksi terbaik yang menghiasi. Jane Austen menulis dialog yang luar biasa, dengan beberapa kalimat lucu. Ketika Lizzie menolak proposal pernikahan Mr. Collins, Nyonya Bennet memohon kepada suaminya untuk membuat putrinya masuk akal, dan mengancam untuk tidak berhubungan dengan putrinyanya lagi jika dia tetap menolak. Kalimat sang ayah begini. “An unhappy alternative is before you, Elizabeth. From this day you must be a stranger to one of your parents. Your mother will never see to you again if you do not marry Mr Collins, and I will never see you again if you do.” Hahahaha

Dalam tokoh protagonisnya, Lizzie, Jane Austen memberikan karakter yang kuat. Ia penuh semangat dan sangat kepala batu. Dia dilukiskan sebagai gadis keras tetapi kita juga belajar bahwa ia memiliki daya nalar dan refleksi diri yang luar biasa. Elizabeth berkembang dan belajar. Jika 'achiles heel' Mr Darcy adalah kebanggaannya, maka kelemahan Elizabeth adalah prasangka buruknya. 

Menarik dalam novel ini, jika di dunia hari ini pembahasan ini dianggap sedikit tak pantas, di sinilah kita melihat bagaimana zaman telah berubah. Di Inggris pada zaman Jane Austen itu bukan pembicaraan yang kurang layak. Semua orang menghitung kekayaan, dan berapa tunjangan tahunannya - karena itu kereta, ukuran rumah dan segala sesuatu yang mungkin menyertainya dirujuk di seluruh buku. Jumlah kekayaan terikat dengan harapan dan tugas dalam masyarakat. Seiring dengan harta, hierarki masyarakat dieksplorasi, seringkali dengan efek lucu. Tidak ada contoh yang lebih baik dari konfrontasi antara Lady De Bourgh dan Lizzie karena Mr. Darcy. Lizzie tidak akan menyerah pada kemauan Lady untuk menolak pria tersebut.

Pride and Prejudice ditulis pada tahun 1813. Zamannya berbeda, tekanan sosial juga berbeda, tetapi yang diilustrasikan oleh Jane Austen adalah bahwa sistem sosial bertahan lama. Nasib wanita seringnya hanya beralih dari penguasaan seorang ayah ke penguasaan seorang suami. Wanita hanyalah dianggap sebagai obyek dan pernikahan adalah kewajiban, sebuah tugas. Bukan pilihan.

Isi novel yang menohok dan kritik yang ada jelas terlihat dari kalimat pembukanya. "Ini adalah kebenaran yang diakui secara universal, bahwa seorang pria lajang yang memiliki harta, pasti membutuhkan istri."

Seolah istri hanya kelengkapan bagi kekayaannya. Hanya obyek. Tanpa harus ada ketertarikan atau nilai-nilai kelebihan yang perlu dihitung.

Seperti pernikahan Mr dan Mrs Bennet tidak memiliki kasih sayang, tidak ada cinta dan tidak ada kesenangan di dalamnya. Mr Bennet, kita diberitahu, jatuh cinta pada kecantikan Nyonya Bennet, tetapi menemukan sangat sedikit nilai berharga lain dalam diri istrinya begitu asmaranya mereda. Perkawinan yang mandek adalah produk sampingan dari 'tugas', tema yang membentang di sepanjang novel. Untuk alasan ini saja, saya menganggap Pride and Prejudice (dan Jane Austen) sangat berharga.

Jombang, 19 maret 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *