Sabtu, 29 Februari 2020

Resensi Buku Winter in The Blood, James Welch

Judul Buku: Winter in The Blood
Pengarang: James Welch
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 1974
Jumlah Halaman: 176
Genre: Fiksi
Peresensi: Iffah Hannah

“Winters were always timeless and without detail, but I remembered no other faces, no other voices.” (19)

Winter in The Blood adalah sebuah novel karya James Welch yang mengisahkan tentang perjalanan seorang laki-laki Indian pemabuk berusia 32 tahun yang hidup di kawasan Reservasi Black-feet di Montana dalam mengatasi kesepian dan ingatan yang menyakitkan tentang ayah dan kakak lelakinya. Kehidupan suku Indian sebagai masyarakat asli Amerika di masa itu jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat kulit putih sangat berbeda. Tempat tinggal mereka sendiri terpisah dengan warga kulit putih lainnya, yaitu di wilayah reservasi yang teralienasi dari dunia modern orang kulit putih beserta segala teknologi dan kemajuannya. 

Di pembuka novel ini diceritakan si narrator, tokoh utama di novel ini, yang terbangun di dekat parit dengan keadaan memar di mata dan rasa sakit dimana-mana setelah mabuk dan bertengkar dengan orang kulit putih malam sebelumnya. Ia menceritakan betapa teralienasinya ia dari dunia, keluarga, masyarakat, dan bahkan dirinya sendiri. Di bagian-bagian berikutnya juga ia menceritakan bagaimana orang kulit putih memperlakukan orang-orang Indian seperti dirinya, termasuk perlakuan pemuka agama kepada orang Indian. 

Novel ini menggunakan alur campuran yang membuat kita memahami mengapa tokoh protagonist ini merasakan perasaan putus asa, gelisah, dan teralienasi. Bahwa kehilangannya terhadap dua orang yang paling ia cintai, First Raise sebagai ayahnya dan Mose sebagai kakak lelakinya memberikan latar belakang kondisinya sekarang. 

Di bagian akhir, alur kemudian berganti lagi ke alur maju dimana si tokoh protagonist kembali ke rumah setelah pengembaraannya mencari kekasihnya yang pergi membawa dua benda miliknya dan di rumah, ia mendapati neneknya telah meninggal. Dan dari alur campuran ini, Welch justru menunjukkan betapa karakter tokoh protagonist ini mengalami transformasi yang cukup signifikan. Dia yang di masa muda penuh semangat, kemudian menjadi pengembara sekaligus pemabuk yang menghabiskan hari-harinya di bar atau meniduri perempuan-perempuan yang ditemuinya, sampai kemudian ia berdamai dengan dirinya sendiri; memaafkan dirinya, menerima kematian ayah dan kakak lelakinya, dan berusaha melanjutkan hidup. 

 “The memory was more real than the experience” (22)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *