Jumat, 12 Juni 2020

Resensi Buku Ayah, Andrea Hirata

Judul Buku: Ayah
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: Mei 2015
Jumlah halaman: 412
Genre: Novel, Fiksi
Nama peresensi: Norma

Lahir dari penulis tetralogi Laskar Pelangi, itulah daya tarik pertama yang membuat saya membaca novel ini. Dengan gaya penulisan yang khas, Andrea Hirata masih sanggup membuat saya tertawa, kemudian termenung dengan tulisan-tulisannya.

Dikisahkan, Sabari, seorang anak yang tinggal di Belitong, besar dengan syair dan puisi. Karena ayahnya, Insyafi, tak lain dan tak bukan adalah seorang guru Bahasa Indonesia. Sosok Sabari dalam novel ini digambarkan sebagai seorang anak yang meskipun berwajah seadanya, tapi ia tumbuh menjadi seorang yang berjiwa positif dan pekerja keras. Namun, karena satu kejadian yang tidak pernah ia duga dalam hidupnya, ia menjadi begitu sangat jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Marlena, hanya Marlena. Namun sayang, semakin Sabari mencintai Marlena, semakin Marlena membenci Sabari.

Purnama kedua belas adalah panggilan Sabari untuk Marlena. Sesuai dengan harapan ayahnya saat memberi nama Sabari, agar anaknya kelak menjadi orang yang sabar. Begitu sabar Sabari mencintai Marlena, satu tahun, dua tahun, tiga tahun, sampai sebelas tahun, begitu panjang dan melelahkan perjuangan cinta Sabari untuk Marlena. Tapi Marlena, jangankan membalas perasaan Sabari, menoleh pun enggan.

Berkat cinta tulus yang tidak berujung Sabari akhirnya menikahi Marlena.
Happy ending? 
No. Tidak semudah itu, Ferguso..

Selama menikah dengan Marlena, terhitung 4 kali Sabari bertemu dengan Marlena. Sabari membangun rumah kecil sambil berharap suatu hari ia dan istrinya akan hidup bahagia bersama anak-anak mereka di rumah itu.

Cinta tetaplah cinta, bagaimanapun Marlena, Sabari tetap cinta. Ditambah kehadiran Zorro, Sabari berubah menjadi fulltime father bagi anak semata wayangnya. Tak di hiraukannya lagi gunjingan tetangga tentang betapa elok paras Zorro, tak seperti dirinya. Betapa malang nasibnya, menikah hanya untuk mengasuh anak yang ibunya sendiri tidak peduli.

Genap 3 tahun Sabari mengasuh Zorro, meninabobokan, menyuapi, memandikan, semua dunianya berputar di sekitar Zorro. Marlena entah dimana, Sabari hanya bisa menunggu. Namun, yang datang ke rumah Sabari adalah sepucuk surat Gugatan Cerai dari Marlena.

Bagaimana bisa Marlena menceraikannya?
Apa yang telah Sabari lakukan sampai membuat Marlena mengambil keputusan bercerai?
Bagaimana jika Zorro diambil dari hidupnya?
Bagaimana mungkin Sabari dapat melanjutkan hidupnya tanpa Zorro, tanpa Marlena?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *