Senin, 29 Juni 2020

Resensi Buku Dua Barista, Najhaty Sharma


Judul buku: Dua Barista
Pengarang: Najhaty Sharma 
Penerbit: Telaga aksara
Tahun terbit: 2020
Halaman: 514
Genre: Fiksi
Peresensi: Farah Firyal

Dua Barista adalah novel yang sedang hangat  diperbincangkaan di kalangan pesantren saat ini. Novel yang ditulis oleh Ning Najhaty Sharma ini lahir tak lama setelah Hati Suhita --novel yang sempat meramaikan genre sastra pesantren-- karya Khilma Anis terbit. Dalam Hati Suhita, pembaca disajikan kisah cinta segitiga antara Alina, Rengganis, dan Gus Birru. Hati Suhita terbilang sukses membuat pembacanya baper dan ikut terbawa emosi sepanjang mengikuti kisah cinta segitiga Gus Birru. 

Saat membaca Dua Barista, saya menemukan banyak kesamaan antara Dua Barista dengan Hati Suhita. Tokoh yang diangkat pada kedua novel ini adalah seorang Gus --sebutan untuk putra pengasuh pesantren-- yang  rupawan, pintar, kaya, dan romantis,  yang menikahi seorang Ning --sebutan untuk putri pengasuh pesantren-- yang juga cantik dan pintar. Konflik datang ketika tiba-tiba di kehidupan pasangan sempurna tadi hadir perempuan lain atau orang ketiga.


Selain penggambaran karakter dan cerita segitiganya, kesamaan lainnya ada pada alur yang diciptakan dari masing-masing sudut pandang tokohnya. 

Penggunaan sudut pandang tokoh dalam bercerita seperti itu juga digunakan dalam novel Ayat-ayat Cinta karya Kang Abik yang meraup kesuksesan menjadi best seller. Kesuksesan Ayat-ayat Cinta memicu munculnya novel-novel baru dengan "rasa" yang sama. Temanku menyebutnya dengan tren buku cinta plus alat shalat. Karena judul buku-buku yang lahir kemudian terdiri dari kata cinta disusul dengan perangkat shalat, seperti Tasbih-tasbih Cinta, Di atas Sajadah Cinta, Dzikir-dzikir Cinta. 

Lepas dari banyaknya persamaan antara Dua Barista dan Hati Suhita atau novel ala pesantren lainnya, Dua Barista tetap memiliki detail cerita yang indah untuk dinikmati. Gus Ahvash, tokoh utama dalam novel ini,  memiliki istri bernama Ning Mazarina. Kehidupan mereka berdua sempurna. Hingga akhirnya datang cobaan berupa penyakit pada Ning Mazarina.   Ia harus merelakan rahimnya diangkat. Impian Gus Ahvash dan Ning Mazarina untuk memiliki keturunan pupus sudah. 

Pada tahun ke-7 pernikahan, Gus Ahvash memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang santri putri bernama Meysaroh. Pernikahan ini terjadi atas desakan orang tua Gus Ahvash yang sangat ingin memiliki cucu. Meysaroh merupakan santri putri yang dipilih sendiri oleh Ning Mazarina untuk menjadi istri kedua suaminya. Drama kisah segitiga pun dimulai.

Di pertengahan Dua Barista, cerita semakin panas saat tiba-tiba hadir satu tokoh laki-laki bernama Juan Harvey yang mendekati Ning Mazarina, dan menjadikan konflik rumah tangga Ning Mazarina dan Gus Ahvash semakin pelik. 

Penggambaran sosok Gus Ahvash yang penyayang dan romantis juga membuat saya begitu tersentuh dan baper. Sukses membuat pembaca baper, berarti buku ini sukses membidik pembaca tepat di hatinya. 

Overall, Dua Barista adalah sastra pesantren yang patut diacungi jempol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *