Senin, 29 Juni 2020

Resensi Buku Dua Barista, Najhaty Sharma

Kisah Poligami di Pesantren


Judul buku: Dua Barista
Pengarang: Najhaty Sharma 
Penerbit: Telaga aksara
Tahun terbit: 2020
Halaman: 514
Genre: Fiksi
Peresensi: Ienas Tsuroiya 

Saya dikirimi buku yang lumayan tebal untuk ukuran novel (494 halaman) ini oleh penulisnya, Ning Najhaty Sharma. Sudah sejak April lalu buku itu sampai di tangan saya. Tapi berhubung saya moody banget kalau soal membaca, slow reader pula, akhirnya baru tuntas beberapa hari yang lalu. 

Jangan terkecoh dengan judulnya. Banyak yang mengira novel ini berlatar dunia cafe. Ternyata bukan. Novel ini berkisah tentang romansa di dunia pesantren, yang dibumbui kisah poligami. Menurut saya novel ini berhasil memotret dengan tepat poligami dari sudut pandang pesantren. Yaitu sebagai sesuatu yang dibolehkan secara syariat, tapi dengan alasan yang kuat, misalnya sang istri tak bisa mendapatkan keturunan karena alasan medis, seperti yang digambarkan di novel ini. Di dunia nyata, memang ada kyai/pengasuh pesantren yang berpoligami meski tidak ada alasan mendesak semacam itu, tapi setahu saya, they keep it low profile, tidak ada glorifikasi seperti yang terjadi pada "ustadz seleb", yang kerap memamerkan istri-istrinya di akun media sosial.

Sepengetahuan saya juga, di kalangan pesantren tidak ada kampanye poligami secara terbuka. Inilah yang membedakan dengan pelaku poligami di perkotaan. Yang aktif di media sosial pasti sering melihat poster "seminar/workshop poligami" yang memasang tarif fantastis. Yang terbaru, seorang praktisi poligami dengan 4 istri, 24 anak menawarkan workshop sehari "Mindset Sukses Poligami" dengan tarif 4 jutaan. Menurut saya, yang semacam ini justru tak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Selain soal poligami, penulis juga menyinggung tentang wirausaha di kalangan pesantren: membuka butik, warung makan, peternakan ayam, dst. 

Penulis novel ini menurut saya cukup sukses menggambarkan konflik batin para tokoh utamanya yaitu Gus Ahvash, Ning Mazarina dan Meysaroh. Endingnya juga cukup mengejutkan, terus-terang tak seperti yang saya perkirakan sebelumnya.

Ada beberapa catatan saya,

1.  Sebagaimana dua novel "pendahulunya" yang sama-sama berlatar belakang pesantren, "Hati Suhita" dan "Hilda", dalam novel ini juga saya temukan banyak kesalahan tik dan penulisan yang tak taat azas, misalnya penggunaan huruf kapital dan huruf kecil yang tak konsisten, terutama ketika menyebutkan kata semacam "Ibu/Umik"  "Bapak" dst. Memang rada tricky sih ini, harus benar-benar teliti dan hati-hati. 

Banyak juga salah ejaan pada istilah asing, misalnya lunch ditulis "launch", tape (recorder) ditulis "type", prestige ditulis "prestice"...

2. Novel ini menggunakan POV (Point of View) kombinasi antara orang pertama dan orang ketiga. Tokoh utama, Ning Mazarina selalu menggunakan POV orang pertama. Gus Ahvash, kadang orang pertama, kadang orang ketiga. Sedangkan Meysaroh semuanya memakai POV orang ketiga (mohon dikoreksi kalau keliru, soalnya hanya berdasarkan ingatan saja).

Menurut saya ini sah-sah saja, asal konsisten. Sayangnya, pada fragmen tentang Juan (cinta masa lalu Ning Zarin) di bagian menjelang akhir, memakai POV orang ketiga tapi narator menyebutkan orangtuanya dengan "Mama" "Papa" yang menurut saya lebih cocok jika yang digunakan adalah POV orang pertama. 

3. Plot hole

Setidaknya ada dua "plot hole" yang cukup mengganggu. Keduanya berkaitan dengan kronologi alias urutan waktu.

(i) Hal 233, ketika di resepsi pernikahan seorang kerabat, kehadiran istri kedua menimbulkan suara "rerasan" dari tamu, antara lain, "Sudah hamil belum ya..?" Tapi di beberapa lembar berikutnya, setting waktu masih di hari yang sama, pasangan itu bersiap ke luar kota untuk proses persalinan. Artinya ketika kondangan, pasti perutnya sudah terlihat membesar dong ya... Harusnya rerasannya diganti, misal "Wah, cepet ya, langsung hamil aja dia.. " 😊

(ii) Hal 434. Fragmen ketika Juan hendak menemui keluarga Mazarina di suatu sore di masjid, pulangnya mampir di sebuah club malam. Meski tak menyebutkan waktu secara detail, penanda adzan yang disebutkan justru membingungkan. Masuk klub menjelang maghrib, setelah nongkrong beberapa saat,  Juan mendengar suara adzan Asar (barangkali ini maksudnya adzan Maghrib). Kemudian digambarkan sang tokoh ini ketiduran, trus kemudian sadar kalau sudah berada di klub itu selama 4 jam. Lalu mendengar adzan Isya. Menurut saya ini kok agak ngga masuk akal ya.. Kalau merunut adegan sebelumnya, adzan Isya itu terasa sangat kemalaman.. 

4. Istilah asing

Selain beberapa istilah bahasa Inggris yang sudah saya sebutkan di atas, novel ini juga banyak memuat istilah dalam bahasa Jawa dan Arab. 

Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di pesantren, saya bisa dengan mudah memahami istilah khas seperti "kang kang" (untuk menyebutkan santri-santri, khususnya yang biasa bantu-bantu Kyai). Atau "tindakan" (kromo alus untuk lelungan, yang bisa rancu dengan kata bahasa Indonesia, sama tapi berbeda artinya--mestinya dicetak miring ya). 

Selain istilah khas keseharian, di novel ini juga bisa kita temukan syiiran/syair yang mengutip dari kitab kuning. Sebagian ada terjemahannya, sebagian tidak. Menurut saya, alangkah baiknya jika istilah khas dari bahasa Jawa maupun teks dari bahasa Arab ini ada penjelasannya, supaya pembaca yang bukan dari kalangan pesantren pun bisa memahaminya dengan baik. Mungkin bisa dengan menambahkan catatan kaki (?)

Terlepas dari beberapa kelemahan yang saya sebutkan di atas, novel ini sangat layak dibaca. Detail keseharian di lingkungan pesantren diungkap dengan baik. Membuat saya senyam-senyum sendiri, misalnya ketika membaca bagian santri putri berusaha mencuri perhatian santri putra.. 😀

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *