Home Ads

Selasa, 09 Juni 2020

Resensi Buku Kian Kemari, Atase Pers

Judul buku: Kian Kemari
Penulis: Atase Pers dan kebudayaan Kedutaan Besar kerajaan Belanda
Penerbit: Djambatan
Tahun Terbit: 1973
Jumlah halaman: 276
Genre: Nonfiksi
Pereview: Iyom Alexandria

Bagi saya, sastra adalah pelarian. Pelarian yang menjebak untuk terus berlari. Mengikuti kemana pun dia melaju. Melesat. Hingga tak ingin kembali. Sedang sejarah, bagi saya ialah ketika di depan sudah tak kau temukan apa-apa maka saatnya kau menengok ke belakang. Jika sastra dan sejarah menyatu menjadi satu, kau tak kan kosong. Hatimu akan penuh. Begitulah sedikit gambaran yang bisa saya tangkap dalam buku kian kemari.

Kian kemari merupakan buku sastra lama yang merupakan hasil ketekunan bilateral murni yg menegaskan bahwa kita berhadapan dengan pikiran yang berhubungan dengan sekeping kebudayaan bersama. Indonesia dan Belanda.

Bagi yang tertarik pada kesusatraan Belanda yang dipengaruhi kebudayaan Indonesia, buku ini layak untuk dibaca. Di dalamnya ada nama-nama besar seperti Max Havelaar sampai Maria Dermout. Buku ini akan menyajikan biografi penulis dengan karya sastranya. Biografi penulis sendiri ditulis oleh beberapa penulis yang berbeda-beda dan sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. 

Kian-kemari yang saya baca ini merupakan cetakan tahun 1973. Di mana dalam kondisi yang sudah tua pada kertasnya dan paragraf-paragraf yang masih belum rapi. Sejujurnya, saya belum mendapat informasi apakah buku ini sudah dicetak kembali atau belum. 

Kian-kemari menyajikan fakta-fakta sejarah, yang pada saat itu masih berupa misteri tentang sebuah karya sastra. Misalnya dalam novel Multatuli. Siapa sebenarnya Max Havelaar. Yang kemudian diketahui nama aslinya Douwer Dekker seorang asisten residen Lebak. Kian-kemari juga membahas fakta sejarah siapa saja yang terlibat dalam novel Multatuli. Lengkap dengan nama-nama aslinya di kehidupan nyatanya. 

Yang menarik dalam buku Kian-kemari ini, ada satu nama perempuan, dan dia menjadi pegiat literasi di masanya yang tentu pada saat itu masih didominasi oleh laki-laki. Dia adalah Maria Dermout. Seorang keturunan Eropa, bukan Eropa totok, memiliki darah Indonesia. Tulisan-tulisannya menjadi best seller di Maluku. Tulisan Maria Dermout ternyata dipengaruhi oleh dongeng-dongeng dari kebudayaan Indonesia yang menghantarkannya menjadi penulis berbakat. Dan seorang pendongeng yang ulung. Maria, sangat mencintai negeri Maluku ketimbang Eropa sendiri. Sudah sepantasnya, kita sebagai manusia, sebagai perempuan dan sebagai orang Indonesia perlu berbangga ternyata banyak pengaruh kebudayaan kita malahirkan karya sastra yang apik, ditulis oleh orang-orang Eropa. 

Buku ini saya rekomendasikan  untuk dibaca dan dimiliki bagi yang penasaran bagaimana kesustraan Belanda dipengaruhi kebudayaan kita.

“Kita boleh mencoba membuat roti, tetapi kita tidak dapat mencoba-coba mencipta” (Willem Elsschot, 1882-1960)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *