Selasa, 16 Juni 2020

Resensi Buku Mantra, Deddy Corbuzier


Judul: Mantra
Penulis: Deddy Corbuzier
Penerbit: PT Bhuana Ilmu Populer
Genre: Non Fiksi+Fiksi/Fantasi
Tahun terbit: 2006
Peresensi: Ummi Tanzila

Pembaca akan yakin bahwa buku yang dipegang ini sangat berguna dan penting untuk diambil ilmu-ilmunya. Kemudian dipraktikkan demi menuju keberhasilan hidup di dunia dan kehidupan setelahnya. 

Itulah salah satu poin penting yang berhasil disampaikan Deddy sebagai penulis kepada saya, pembaca, yang menjadi tidak merasa cukup menghatamkan Mantra sekali saja.

Dari covernya yang hard saja, sudah menarik mata. Desainnya mempunyai ruh misterius. Warnanya gelap elegan. Merasa keren untuk dibawa kemana-mana. Judulnya pun sangat magis; MANTRA.

Mantra adalah kumpulan konsep psikologi dalam berkomunikasi yang disajikan dengan cara yang menyenangkan. Mulai dari cerita pendek, seperti mengisahkan kerajaan yang baru saja ditinggal mati Sang Raja.

Raja yang bijaksana itu meninggalkan kekayaan melimpah, 14 orang istri dengan hanya tiga orang putra, yang sayangnya ketiganya tidak mewarisi sifat ayah mereka.

Sesuai wasiat, Raja membagi 36 bongkah berlian sebesar kepala rusa, menjadi empat bagian yang adil baginya. Satu bongkah untuk Penasihat Kerajaan. Lalu dari sisa 35 bongkah itu, 1/2-nya untuk Pangeran Pertama, 1/3-nya milik Pangeran Kedua, dan sisanya 1/9 diberikan kepada Pangeran Ketiga.

Namun, jika dihitung matematis, hasilnya tidak memuaskan para pangeran karena jumlah berliannya tidak penuh. Setengah dari 35 saja adalah 17,5. Pengeran Pertama tidak bisa menerima berlian dengan jumlah 17,5. Itu jelas jumlah yang tidak mungkin. Maka ia meminta 18 bongkah. Pangeran Kedua dan Ketiga pun tak mau kalah, masing-masing dari mereka menginginkan lebih.

Seantero kerajaan kebingungan mencari jalan keluar pembagian warisan ini, hingga akhirnya Penasihat Kerajaan memutuskan memanggil Divka, penyihir wanita yang terkenal dengan ilmu hitamnya.

Sesampai di kerajaan, Divka diminta menyelesaikan permasalahan dengan imbalan sebuah penghargaan dari kerajaan dan namanya tidak akan dijelek-jelekkan lagi.

Penyihir itu setuju dan suka atas pengakuan penghuni kerajaan bahwa namanya sering diolok-olok. Ia menganggapnya sebagai pujian.

Namun, ada syarat yang diajukan Sang Penasihat, yaitu masalah harus dapat diselesaikan Divka tanpa sihir dan tanpa ada yang dirugikan.

Deal. Ia sepakat.

Cerita ini menggambarkan diri Deddy Corbuzier sendiri, menurut saya. Dialah Divka. Semua keahlian, pemikiran, sampai gaya bicara dan komunikasi Divka, melambangkan diri Deddy. Keberhasilannya di dunia sulap, sebenarnya bisa dijelaskan dengan logika dan 'tipu muslihat'nya tidak merugikan siapapun.

Buku ini, seperti sebuah olahan masakan dengan daging yang padat, bumbu yang pekat, rasanya lezat, karena pada bab selanjutnya berjudul Mantra yang mengulas psikologi komunikasi begitu mudah dicerna. Contoh-contoh yang diberikan sangat dekat dengan masyarakat. Bahasanya sederhana, gampang dimengerti oleh kalangan manapun.

Selanjutnya, terdapat bonus bab tambahan berjudul Divka. Kali ini berisi percakapan antara manusia dan sebuah makhluk yang siap menjawab segala permasalahan hidup berserta solusinya.

Satu hal yang begitu mencuri perhatian saya adalah, kata Deddy di bukunya, bahwa kunci menjadi kaya bukanlah menyibukkan diri mencari uang siang malam, melainkan carilah teman sebanyak-banyaknya.

Kemudian rumus kehidupan, rahasia kehidupan, dan jawaban dari inti kehidupan hanyalah dengan menjadi air. Ya, sesederhana itu, namun tidak semudah itu.

Memang, buku ini bukan buku pelajaran psikologi komunikasi biasa. Ini adalah karya yang mampu menyentuh titik bawah sadar pembaca. Membacanya merasa seperti sedang berbincang langsung dengan si penulis. Secara otomatis, kita seperti terhipnotis untuk hidup lebih baru, lebih semangat dan optimis.

Terakhir, sedikit masukan untuk redaksi. Pada halaman 154 terdapat pengulangan kata 'sekarang' di paragraf kedua. Hal ini terasa mengganggu dan mengganjal saat membaca kalimatnya. "Tapi semua itu sekarang tidak lagi terjadi sekarang." Aneh, bukan? Sepertinya kita perlu membuang 'sekarang' salah satu. Kalimat itu akan menjadi sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *