Senin, 15 Juni 2020

Resensi Buku Orang-Orang Biasa, Andrea Hirata

Judul buku: Orang-Orang Biasa
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Ketebalan: 262 halaman
Genre: Fiksi
Peresensi: Sindy Abdullah Els

Saya selalu jatuh hati pada permainan kosa kata Andrea yang jenaka namun penuh makna. Seperti buku-buku best seller beliau lainnya, buku Orang-Orang Bodoh (selanjutnya disebut OOB) ini juga membawa pesan moral yang dalam. Namun menurut saya kali ini isinya cukup bertolak belakang dari bayang-bayang kesuksesan tetralogi Laskar Pelangi. Jika dalam Laskar Pelangi sangat menonjol kisah from zero to hero, kisah orang biasa yang miskin namun punya semangat pendidikan tinggi dan endingnya tokoh Ikal sukses hingga meraih gelar sarjana. Nah, dalam OOB ini, kisahnya seputar kemiskinan, kebodohan, kemalangan dan sederet kekonyolan lain yang berbalut komedi khas penduduk terpencil pulau Belantik yang naif. Hehe..

Kisah bermula  dari 10 kawanan siswa miskin juga bodoh yang selalu menjadi korban bully oleh Duo Baron dan Trio Bastardin. Persamaan nasib menjadi siswa miskin, bodoh dan selalu dibully membuat mereka menjadi sahabat karib hingga dewasa. Trio Bastardin serta Duo Baron sendiri, hingga dewasa hidup nyaman bergelimangan harta. Hidup faktanya memang bisa seironis itu.

Dalam buku dikisahkan, dari ke-10 korban bully, tak ada yang hidup mapan dan berpendidikan, kecuali Honorun yang menjadi guru honorer, itu pun hidupnya susah karena banyak anak. Tokoh paling menonjol di sini justru sosok Dinah, janda miskin yang bodoh dan punya problem dengan pelajaran matematika. Perutnya mendadak sakit jika melihat angka.

Hal ini pula lah yang menurun pada anak sulungnya, Aini. Aini bodoh bukan main, persis Ibunya. Titik balik terjadi saat Ayah Aini sakit dan meninggal tanpa mendapat diagnosa dan perawatan medis. Ayah meninggal dengan gejala aneh, namun Dokter tak menyatakan apa jenis penyakitnya. Aini kecil sangat terpukul dan kecewa.

"Apakah orang miskin tak boleh sakit?"

Hal itu kemudian menjadi pelecut semangat Aini bangkit dari kebodohan. Ia bercita-cita menjadi Dokter! Bukan main perjuangan gadis kecil tersebut. Ia belajar siang malam tanpa henti. Terutama bab matematika. Berdarah-darah ia melawan kesakitan perut tiap berhadapan dengan Bu Desi, guru matematika yang dikenal galak. Perjuangannya tak sia-sia. Ia lulus diterima di fakultas kedokteran.

Di sinilah masalah bermula. Butuh puluhan juta rupiah untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut. Dinah kebingungan, ia mencari ke sana kemari. Semua bank dan koperasi simpan pinjam menolak sebab tak ada jaminan yang bisa dijadikan agunan. Hingga akhirnya, ia mencurahkan keluh kesahnya pada Debut, karib lama dalam komponen 10 siswa bodoh semasa sekolah dulu. 

Debut merasa ini adalah sebuah keajaiban. Bagaimana mungkin anak seorang Dinah bisa sebegitu jenius hingga diterima pada fakultas Kedokteran. Ia pun turut memikirkan cara, bagaimana caranya mendapatkan uang guna membayar uang masuk kuliah Aini? Di mana semua uang di dunia ini berada?

Hal itu menari di benak Dinah dan Debut. Kemiskinan seolah sebuah kutukan, sejak kecil hingga dewasa, keberuntungan tak jua berfihak pada mereka. Maka kali ini, baik Dinah dan Debut, sepakat untuk merubah nasib.

"KITA AKAN MELAKUKAN PERAMPOKAN BANK!"

Itu ide gila Debut yang akhirnya menjadi konflik tambahan dalam buku ini. Singkat cerita, ke-10 kawan lama itu tergabung dalam organisasi distopia yang mengarah pada kehancuran. Pemimpinnya tak lain adalah Debut sendiri. Jangan bayangkan hal-hal garang dan keren terjadi. Yang ada, justru kekonyolan dan hal jenaka lain yang mereka lakukan dalam mewujudkan misi perampokan bank.

Plot twist nya apik. Pada ending, pembaca cukup dibuat terkejut oleh alur cerita. Perampokan bank tidak benar-benar sukses. Namun ada perampokan lain yang justru menghasilkan begitu banyak pundi rupiah. Lantas, apakah Aini akhirnya bisa kuliah dengan uang hasil rampokan itu? Siapakah yang berhasil dirampok oleh sekawanan manusia bodoh, konyol, miskin dan bahkan sesungguhnya tak mampu berbuat jahat?

Pesan moral banyak didapat dari tokoh Dinah, Aini, Inspektur, bahkan Debut dan sekawanan orang biasa lainnya. Bab Inspektur ini belum saya bahas, ya! Jadi beliau adalah sosok Polisi langka yang sangat lurus. Tak pernah mau menerima uang suap. Selalu ingin menjalankan tugas menumpas kejahatan namun problemnya adalah di kota Belantik penduduknya sangat naif hingga amat sangat jarang terjadi tindak kriminal. Dan kejadian perampokan oleh Debut CS pun menjadi misteri tak terpecahkan hingga akhir, baik oleh inspektur maupun si korban sendiri yang tak lain adalah penjahat juga. Nah, lho! Njlimet kan? Hehe 

Sedikit kritik pada karya Andrea kali ini, dalam OOB terlalu banyak tokoh yang penjabarannya kurang maksimal, kurang dominan dan kurang efektif pada konsistensi cerita. Seolah mereka lewat saja tanpa peran penting dalam kisah. Dan juga, dalam OOB ini Andrea kurang bersajak. Padahal Andrea khas dengan sajak melayu yang mendayu-dayu syahdu. Alurnya pun cukup lambat meski permainan kalimatnya tetap memikat. 

Saya rasa, sebaiknya pembaca yang budiman membaca sendiri ya buku ini. Manteman sudah baca bukunya? Jika belum, saya beri gambaran rating 8 dari 10 ya! Layak dibaca terutama untuk kita yang saat ini mulai krisis kepribadian dan kejujuran. 

Salam sayang dari Cilacap, 

Sindy Abdullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *